Langit Biru

Langit Biru
Bab 28


__ADS_3

Hari ini, Biru sudah mulai kembali bersekolah. Kini ia sudah bukan berangkat bersama pak Mahdi atau pun ayah Faris lagi. Namun dengan di antar jemput oleh Langit. Sejak pagi, laki laki itu  sudah datang ke rumah Biru, setelah beberapa hari yang lalu ia ikut mengantarkan Biru dari rumah sakit, jadi ia kini sudah tahu dimana alamat rumah kekasih nya.


“Cie elah, makin lengket aja sih ini. Pakai lem merk apaan woy, bikin iri aja,” seru Rina terkekeh saat melihat kedatangan Biru dan Langit yang terus bergandengan hingga sampai di meja nya.


“Jangan kepo lo pada, udah sana pada pergi. Jangan ganggu orang pacaran!” cetus Langit langsung mengusir dua dayang Biru agar pergi.


“Astaga, iya deh iya iya iyaaaa! Maklumi aja orang lagi bucin, jadi dunia serasa milik berdua yang lain ngontrak!” seru Sasa.

__ADS_1


“Kalau di pikir kalian memang ngontrak. Mau apa lo hah, ini sekolah punya keluarga gue, jadi bener kan,” saut Langit dengan senyum kesombongan nya.


“Astagfirullah, dah lah ngalah aja ayo Sa. Kalah kita pasti kalau Ngeladenin cowok kaya dia,” kata Rina mengajak Sasa untuk keluar, “Biru, nanti kalau sekiranya lo udah gak kuat, tolong lambaikan tangan ke kamera atau lo sebut nama Sasa tiga kali!”


“Heh, lo kata gue jin tomang!” sungut sasa mendengus hingga membuat Biru tak kuasa menahan tawa nya.


Hari hari Bru lalui dengan penuh canda tawa di sekolah, ia bahkan sampai lupa bahwa dirinya berbeda dengan para teman nya. Namun ia beruntung karena sejak teman teman nya tahu akan keadaaan nya, mereka tidak ada yang menghindari nya, dan justru malah selalu mengajak nya tertawa, mendukung nya dan selalu bersama nya.

__ADS_1


“Kamu inget gak, saat aku memetik satu bunga disini? Kamu langsung memarahi ku, padahal ini bunga memnag untuk aku kan, semuanya!” Biru merentangkan tangan nya di tengah tengah pot pot bunga mawar putih di taman itu. Ia menghirup dalam aroma yang ada di sana, begitu harum dan menyegarkan.


“Iya, dan aku sangat menyesalinya.” Langit langsung menghampiri Biru dan memeluk nya dari belakang, “Aku begitu bodoh sampai aku tidak mengenali kamu.”


“Hem, kamu memang bodoh, karena kamu suka menghabiskan waktu untuk hal yang tidak penting. Harusnya kamu rajin belajar, agar kamu bisa menjadi orang pintar dan berguna untuk ke depan nya,” kata Biru tersenyum, tangan nya menggenggam tangan Langit yang kini melingkar di perut nya.


“Iya, aku akui itu. Maafin aku, aku janji mulai sekarang aku akan berubah menjadi lebih baik lagi.Untuk kamu,”

__ADS_1


“Jangan untuk aku.” Kata Biru dengan cepat, ia membalikkan tubuh nya hingga membuat nya kini berhadapan dengan Langit, “Tapi berubah lah untuk kamu sendiri, terutama untuk keluarga kamu,” imbuh nya memberikan senyuman kepada Langit, tangan Biru mengusap lembut wajah Langit dari dahi, mata hingga rahang yang begitu kokoh dan tegas itu.


“Berjanjilah bahwa kamu akan bahagia,” imbuh Biru selalu tersenyum. 


__ADS_2