
Nathan mengemudikan mobil nya dengan kecepatan penuh. Bahkan ia tidak perduli bila harus di kejar oleh polisi karena sudah berulang kali menerobos lampu merah. Fokus nya kini hanya satu, yakni segera sampai di rumah sakit agar Biru cepat mendapatkan pertolongan. Di tempat duduk belakang, Langit terus bergumam memohon kepada Biru bahkan tak jarang laki laki itu juga berteriak agar dirinya menambah kecepatan laju mobil nya.
“Aku mohon, bertahan lah hiks hiks. Bertahan Biru, jangan tinggalin aku!” Langit semakin mengeratkan pelukan nya di kepala Biru saat kekasih nya mulai tak sadarkan diri. Isak tangis sudah terdengar memenuhi ruang mobil tersebut hingga membuat Nathan yang mengemudi menjadi semakin panik.
Setelah beberapa saat, akhirnya mobil Nathan sampai di rumah sakit. Ternyata, Darren sejak tadi sudah menunggu kedatangan nya, memang iya sejak saat di perjalanan, Nathan langsung menghubungi kakak ipar nya agar bersiap di depan rumah sakit.
“Biruu!” Pekik Darren begitu terkejut melihat keadaan Biru yang sangat memperihatinkan. Bagaimana tidak, rambut dan baju nya basah serta wajah nya sudah sangat pucat, “Lang, letakkan disini.”
Langit langsung merebahkan tubuh Biru di atas brankar, lalu membantu mendorong nya menuju ruang UGD.
“Tolong selamatkan Biru dok, tolong hiks hiks. Tolong pastikan dia baik baik saja, aku mohon!” pinta Langit begitu lirih dan serak sambil terus berjalan mendorong brankar.
__ADS_1
“Kami akan berusaha semaksimal mungkin!” ucap dokter Darren lalu ia segera masuk ke dalam ruang UGD dan mengecek keadaan Biru.
“Bagaimana bisa Biru sampai seperti ini!” sentak Nathan tiba tiba dan langsung memukul dinding di depan nya.
“Gue gak tahu, kenapa Sisil bisa kembali ke sekolah. Dia sudah di keluarkan, bagaimana mungkin dia bisa berada di sekolahan,” gumam Langit yang juga bingung.
“Sisil? Sisilya, rambut nya panjang kulit putih serta dada nya besar?” celetuk Nathan mengerutkan dahi nya.
“Dia anak Garuda, shiitt!”
“Oh, jadi dia pindah ke sana. Cih, gak salah gue nyebut Garuda sampah, karena mereka mau mungut sampah tak berguna kaya itu cewek!” dengus Langit mengepalkan tangan nya dengan kuat.
__ADS_1
“LO jangan bawa bawa sekolah!” sungut Nathan mulai tersulut emosi, “Harusnya lo jelasin gimana bisa lo buat itu cewek dendam sama lo!”
“Dia yang buat Biru anfal sebelum nya. Maka dari itu gue kick dia dari Gaharu, dan gue gak nyangka dia bisa masuk Gaharu lagi dan buat keributan, bahkan lebih parah dari sebelum nya.”
“Cewek sayko!” gumam Nathan kembali menghela nafas nya dengan kasar.
Langit dan Nathan terus berdoa menunggu dokter selesai memeriksa. Tak lama, orang tua Biru datang, terlihat sangat jelas dari raut wajah mereka yang panik dan sangat khawatir. Langit menjelaskan kronologi kejadian nya, membuat bunda Elsa langsung menjerit menangis, mungkin ia tidak bisa membayangkan bagaimana putrinya saat di siksa oleh teman nya. Sementara ayah Faris, ia hanya bisa menahan marah nya agar tidak meledak, walau sebenarnya dalam hatinya ingin berteriak.
“Lang, om sudah menitipkan Biru sama kamu, tapi—“
“Om, saya minta maaf. Dan saya janji akan mengurus semuanya, saya mohon jangan melarang ku untuk dekat dengan Biru lagi. Saya mengakui kesalahan saya, dan saya akan bertanggung jawab!” kata Langit dengan tegas.
__ADS_1
Langit tahu apa maksud om Faris, ia pasti ingin dirinya mengurus soal kasus ini. Benar, dirinya sebagai cucu pemilik sekolah dan juga kekasih korban, tentu dirinya tidka akan diam saja membiarkan ini terjadi. Dan mungkin, penjara saja tidak akan cukup untuk Sisil bila sampai nyawa Biru terancam.