Langit Biru

Langit Biru
Bab 25


__ADS_3

🍁🍁"Sekuat apapun kita menghindar untuk saling menyakiti, bila ternyata Tuhan sudah membuat garis, maka kita tidak akan bisa merubah nya lagi. 🍁🍁


.


.


.


“Apa kamu masih ingat dengan Biru?” tanya Faris menatap Langit.


“Maksud nya Om?” ucap Langit malah balik bertanya.


“Bukankah kamu cucu  om Gaharu yang waktu itu tinggal di Bandung, jalan angkasa.”


“Om Faris mengenal kakek saya?” 

__ADS_1


Faris tidak menjawab pertanyaan Langit lagi, ia langsung menghela nafas nya dengan kasar, “Bagaimana saya tidak mengenal kakek mu, kalau kamu selalu merengek setiap datang ke bandung untuk mengunjungi rumah ayah ku!” kata Faris berdecak.


“Maaf Om, tapi saya tidak mengenal Om.” Langit menggelengkan kepala nya, dia sudah berusaha mengingat siapa sosok om Faris namun nyatanya dirinya masih tidak ingat.


“Lalu bagaiman dengan Ana? Gadis yang kau janjikan dengan hamparan tanaman mawar putih di bawah ayunan pohon mangga?”


Deg!


Sontak Langit langsung menatap ke arah om Faris, tentu saja ia mengingat nama Ana dan mawar putih, bahkan hingga kini ia selalu menyiapkan bunga mawar itu. Tapi apa hubungan nya dengan om Faris, dirinya tidak  mengerti.


“OM tahu dimana Anna? Saya sudah mencarinya sejak lama, dan sampai sekarang saya masih  menunggu dia Om. Saya sudah menepati janji saya, om bisa melihat di beberapa sekolah pasti ada taman khusus merahputih, dan itu aku buat untuk Anna. Tapi sampai sekarang aku belum bertemu dengan nya!” tanya Langit langsung menggebu, ia merasa sedikit lega karena pada akhirnya ada yang mengenal Anna dan pertemuan nya dengan Anna akan semakin dekat.


Lagi lagi, Langit di buat terdiam oleh pertanyaan Faris. Ia baru teringat bahwa kini sudah ada Biru di samping nya, dia sangat mencintai Biru, namun ia juga masih berharap bisa bertemu dengan Anna kembali.


“Kamu mencintai putri ku?” tanya Faris lagi yang melihat Langit terdiam, “Dia menyimpan foto mu di kamarnya. Bahkan, di dalam buku pelajaran nya, aku beberapa kali melihat foto buruk mu!” dengus nya sedikit kesal.

__ADS_1


“Maaf Om,” gumam Langit tak enak.


“Jadi, siapa yang akan kamu pilih. Anna atau Biru?”


Langit menatap Faris dengan intens, meski wajah nya datar, namun ia terlihat tegas dan tulus. Tidak ada lagi wajah bengal, tengil dan menyebalkan. Kini wajah Langit semakin terlihat hangat dan menenangkan, rambut yang dulu sempat panjang kini sudah tercukur rapi. Telinga yang tadinya di tindik dan di pasang beberapa anting, kini sudah tak terlihat lagi.


Langit menari napas nya panjang, ia memejamkan mata sekilas, “Biru Om, saya memnag masih menunggu Anna, tapi itu hanya untuk memenuhi janji saya akan taman bunga. Sementara Biru, saya sudah mencintai nya Om. Saya mohon, izinkan saya untuk tetap bertemu dengan Biru, saya ingin menemani dia,” cicit Langit pelan menundukkan kepala nya lagi.


“Bagaimana kalau Anna ada disini?” 


“Saya—“


Cklek!


Belum selesai Langit menyelesaikan pembicaraan nya, tiba tiba pintu ruang UGD sudah terbuka. Sontak semua yang di sana langsung mengalihkan perhatian dan menghampiri dokter Darren.

__ADS_1


“Bagaimana?” tanya Faris to the point, namun dokter darren hanya terdiam dan menatap om Faris dengan intens seolah mengajak nya berbicara lewat sorot mata.


Seolah mengerti dengan tatapan dokter darren, Faris hanya menganggukkan kepala nya dan mempersilahkan dokter Darren pergi. Sementara Nathan yang merasa tak mengerti, ia memilih untuk mengikuti kakak ipar nya, dan Langit ia hanya bisa pasrah dan menunggu penjelasan. 


__ADS_2