Langit Biru

Langit Biru
Kertas putih


__ADS_3

Tok tok tok...


"Biru, Sayang. Ayo bangun dong, waktu nya sekolah loh!"


"Sayang, nanti kamu telat! Ayo dong, buka pintu nya!" Rutinitas setiap pagi, bunda Elsa selalu membangunkan putri tercinta nya, ia akan mengetuk pintu kamar Biru sampai gadis itu membuka nya.


Tapi kini, sudah tidak ada lagi yang membuka pintu itu. Sekuat apapun selama apapun Elsa mengetuk pintu nya dan memanggil nama putrinya, Biru tidak akan pernah bisa membuka pintu kamar nya.


Tak jauh dari posisi Elsa, Faris hanya mampu menghela nafas nya berat. Dadanya terasa sangat sesak melihat istri nya yang masih belum bisa melepas kepergian sang putri.


Satu bulan sudah Biru meninggalkan dunia ini. Namun, Elsa masih belum bisa menerima kenyataan. Elsa masih sering terlihat mengobrol bersama Biru, membangunkan Biru, bahkan menyiapkan makanan untuk Biru.


Berulang kali juga, Faris mencoba memberikan pengertian untuk istrinya, sampai dirinya juga pernah mendatangkan seorang psikolog. Tapi semua sia sia, karena Elsa masih tetap pada pendirian nya. Bagi Elsa, kini Biru masih ada di rumah itu.


"Sayang, sudah yuk." Faris memeluk Elsa dari belakang, hatinya begitu sesak, dan air mata nya tak sanggup ia tahan.


"Apa sih Yah, Biru belum bangun juga. Padahal dia anak gadis, sampai jam segini belum mau bangun juga. Kamu lihat itu sudah jam tujuh, nanti kalau telat gimana coba? Bunda gak mau Biru dapet hukuman sama guru BK. Astaga, Ayah bagaimana nanti kalau Biru di hukum? keliling lapangan atau apa, kasian putri kita, Yah." gumam Elsa panjang lebar yang di barengi oleh lelehan air mata, yang mana membuat Faris semakin merasakan sesak luar biasa.

__ADS_1


"Biru sudah pergi tadi, sekarang kamu sarapan dulu yuk."


"Kapan Biru pergi? kok gak pamit sama Bunda? ah, apa jangan jangan dia di jemput sama Langit yah?"


"I—iya, tadi Langit udah jemput Biru. Pas bunda lagi di kamar mandi, jadi gak sempet pamitan. " Hanya kebohongan seperti ini yang bisa Faris lakukan agar istrinya mau pergi dari depan kamar Biru dan melakukan aktivitas lain seperti mandi, makan dan lainnya seperti biasa.


Kalau Faris tidak berbohong, maka seharian penuh Elsa akan berdiri di depan kamar Biru dan mengetuk pintu kamar nya.


"Duh, anak itu yah. Mentang mentang masih muda, ckckc. Persis seperti kamu dulu Yah," kata Elsa terkekeh, ia menghapus air matanya lalu berjalan menuju kamar untuk mandi.


"Astaghfirullah, ya Allah berikanlah kesembuhan untuk istri hamba." gumam Faris memejamkan mata dan menghela nafas berat.


Seperti bunga yang akan mekar, lalu gugur


Seperti itu pula, manusia yang datang lalu pergi.


Meski raga tak lagi bisa bersama, namun nama akan selalu melekat di dada.

__ADS_1


Kebersamaan, tidak akan pernah usai


Walau sudah tidak bersama


Namun kenangan itu akan tetap ada.


Berawal dari sebuah kertas putih bersih,


kau torehkan tinta Biru


Membuat sketsa yang begitu indah walau hanya dengan satu warna


Terimakasih, berkat mu aku mengenal warna


Berkat mu juga, akan ku cari warna yang lain nya


aku percaya, hidup ini penuh warna

__ADS_1


Hanya saja, kita masih belum menemukan nya.


Biarkan ku ukir indah namamu di dalam hatiku, Meskipun kita tak bisa bersama, biarkan namamu tetap abadi dalam hatiku.


__ADS_2