
Hari ini, SMA Gaharu kembali bertanding dengan SMA Garuda. Tidak ada agi sorot mata tajam atau permusuhan di mata Langit maupun Nathan. Sejak kejadian saat itu, keduanya sudah saling memaafkan dan berteman. Bahkan Gerry dan Maxim pun kini juga sudah akrab dengan nya.
Pertandingan di mulai dan penonton sellau bersorak meriah, sementara itu Biru yang biasanya tidka suka mengikuti acara seperti ini, namun hari ni ia ikut duduk berbasis dengan para penonton lain nya, menyemangati kekasih nya dan juga sahabat nya, Nathan.
“Sumpah Ru, cowok lo keren banget!” sorak Sasa semakin heboh saat melihat Langit kembali berhasil memasukkan bola ke dalam ring.
“Eh, gue baru sadar ternyata Nathan juga gak kalah keren. Lihat deh, ganteng banget astaga itu keringet nya, gue ngerasa jadi pengen ngusapin duhhh sweet banget pasti, aaaaa!” rengek Rina yang sejak tadi tidak berhenti memerhatikan Nathan.
“Astaga, kalian berdua ini hahaha.” Biru hanya mampu tertawa mendengar celotehan dua sahabat nya, “Eh aku ke toilet dulu yah,” kata Biru lalu pamit kepada Rina dan Sasa karena ia sudah menahan kemih sejak tadi.
“Eh Ru, nanti dulu napa. Sebentar lagi, lima menit lagi selesai nih pertandingan nya,” keluh Sasa seolah enggan meninggalkan lapangan.
__ADS_1
“Gapapa, kalian disini aja, aku Cuma sebentar kok.” Kata Biru tersenyum.
“Tapi Ru—“
“Gapapa Sa, Rin. Udah ah Cuma sebentar doang, udah gak kuat nih!” dengan cepat Biru segera berlari kecil menuju kamar mandi, dan tanpa ia sadari sejak tadi gerak gerik nya sudah di intai oleh seseorang.
Dan saat orang itu melihat kepergian Biru sendirian, ia pun memanfaat kan kesempatan ini dengan mengikuti Biru ke toilet.
Biru nampak bernafas lega saat sudah selesai mengeluarkan semua kemih nya, Ia segera mencuci tangan nya dan bergegas untuk kembali ke lapangan lagi. Namun, saat dirinya hendak keluar, tiba tiba langkah nya terhenti saat mendengar suara yang begitu ia kenal.
“sisil, bukankah kamu—“
__ADS_1
“Iya,gue udah di keluarin dari sini, dan itu gara gara elo!” sentak nya dan langsung menjambak rambut Biru dengan sangat kuat.
“Aaauwwhhh!Sakit Sisil sakit!” jerit Biru kesakitan dan berusaha melepaskan cengkraman tangan Sisil.
“Gara gara elo, Langit jadi benci sama gue, dan gara gara elo juga Langit sampai ngeluarin gue dari sekolah ini!” bentak nya lagi dan semakin membabi buta, kini tubuh Biru langsung di hempaskan hingga tersungkur ke lantai kamar mandi.
“Sil—“
“Apa lo hah! Sekarang lo udah gak bisa kabur lagi dari gue. Saat nya lo ngerasain apa yang gue rasain!” Pekik nya dan kembali menjambak rambut Biru lalu menghempaskan nya, dan itu ia lakukan sampai berulang kali.
“Sil aku mohon lepaskan, aku—sakit Sil,” pinta Biru menahan sakit, tubuh nya sudah semakin lemas dan nafas nya semakin terasa sesak.
__ADS_1
Kepala Biru terasa seperti di hantam sebuah batu besar, sangat menyakitkan namun ia berusaha untuk tetap sadar.
“Kalau saja lo gak datang ke sekolah ini, kalau saja lo gak hadir di hidup gue dan Langit, tentu saat ini gue udah jadian sama Langit, ngerti gak lo! Gue heran, sudah berapa kali lo kasih tubuh murahan lo ke Langit sampai dia tega ngeluarin gue dari sekolahan ini hah!” bentak Sisil membuat hati Biru semakin terasa sakit.