
Langit begitu gelap
Hujan tak juga reda
Ku harus menyaksikan
Cintaku terenggut tak Terselamatkan
Ingin ku ulangi hari
Ingin ku perbaiki
Kau sangat ku butuhkan
Beraninya kau pergi
__ADS_1
Dan tak kembali ...
Sebuah lagu yang di populerkan oleh Agnes mo, sungguh mewakili perasaan Langit saat ini. Seberapa kuat ia berusaha bertahan, nyatanya ia tak bisa menahan air matanya. Menyaksikan orang yang sangat ia cintai kini sudah istirahat dengan tenang di bawah timbunan tanah. Sesak, sakit dan begitu menyiksa hati laki laki tujuh belas tahun itu.
Untuk pertama kalinya dirinya merasakan jatuh cinta, dan Tuhan begitu sadis memisahkan nya dengan cara seperti ini. Mungkin, bila boleh memilih, dirinya lebih memilih putusnya hubungan karena orang ketiga atau tidak berjodoh namun dirinya masih bisa bertemu dan melihat sosok itu. Tapi kini, dalam hubungan nya dengan Biru, pihak ketiga nya adalah yang maha pencipta. Ia bisa apa?
“Sabar bro, gue yakin, sekarang Biru sudah tenang di sana. Ikhlaskan,” kata Maxim menepuk bahu Langit untuk beberapa kali.
Sejak tadi, Langit tidak berani untuk mendekat ke arah makam, ia hanya melihat dari kejauhan, tertutup oleh punggung beberapa orang di depan nya. Bukan ia tidak mau melihat untuk terakhir kalinya, namun ia khawatir, ia takut bila ia akan berlari dan menghambur memeluk jasad Biru. Ia tidak mau membuat kekasih nya semain sakit.
“Gue tau Nat, gue lega karena dia sudah sembuh. Gue lega, tapi untuk ikhlas gue masih berat. Baru sebentar gue deket sama dia, baru sebentar gue mencoba memperbaiki kesalahan gue, dan baru sebentar—“ Langit lekas mengusap air mata nya dengan kasar, ia kembali menatap pada gundukkan tanah yang sudah bertabur bunga yang berada beberapa meter dari tempat nya berdiri.
“Dia pergi dengan sebuah senyuman, jangan buat senyum nya menghilang. Turuti keinginan dia, bahagia lah agar dia juga bahagia di sana.” kata Nathan menghela nafas berat.
“Lo nyuruh gue bahagia?” tanya Langit langsung menatap Nathan dengan mata tajam nya, air mata nya masih deras mengalir membasahi wajah nya, “Lo nyuruh gue bahagia di saat kebahagiaan gue pergi ninggalin gue untuk selamanya Nat!” pekik Langit begitu lirih, ia mencengkram keras Nathan lalu tubuh nya lemas dan terjatuh di depan laki laki yang dulu menjadi musuh nya itu.
__ADS_1
“Lang!” Maxim dan Gerry berusaha membantu Langit agar berdiri, namun dengan cepat di tepis oleh nya.
“Lo gak tahu gimana rasanya Nat, lo gak tahu! lo gak tau saat lo lihat dia untuk terakhir kalinya, gimana saat dia menutup mata untuk terakhir kalinya, tapi lo gak bisa berbuat apa apa, lo gak tau gimana hancurnya gue!” sentak Langit, sontak menarik perhatian beberapa orang yang masih berada di sekitar makam.
“Gue gak sekuat itu, gue gak bisa sekuat harapan dia. Gue ngecewain dia, gue gak bisa, gue mau dia kembali sama gue, gue gak bisa!”
Nathan hanya bisa terdiam, ia memberikan Langit kesempatan untuk meluapkan semua sesak di dadaa nya. Ia mencoba memahami perasaan Langit, walau dirinya sendiri juga teramat sangat kehilangan sosok Biru.
"Tolong ikhlaskan putri Om, ya. Biarkan dia tenang dan bahagia di sana. Om tahu ini berat juga untuk kamu, tapi om minta jangan buat dia sakit lagi. Dia sudah cukup merasakan sakit di dunia ini, jangan biarkan dia terluka lagi karena melihat orang yang di sayangi nya seperti ini." Langit langsung mendongak dan menatap laki laki paruh baya di depan nya.
Memang benar, dengan dia yang tidak bisa ikhlas melepaskan Biru, itu hanya akan menambah luka Biru di sana. Dia harus ikhlas, agar Biru tenang dan Bahagia. Namun bagaimana dirinya bisa ikhlas? jauh di dalam lubuk hatinya begitu berat, ia masih belum bisa merelakan Biru pergi meninggalkan dia.
"Sekarang Biru sudah sembuh, tidak akan merasakan sakit lagi. Jadi om minta tolong, doakan untuk Biru jangan tangisi lagi. Jangan buat dia sedih yah," om Faris menepuk bahu Langit, lalu ia segera merangkul istrinya dan segera pergi meninggalkan pemakaman.
Bukan hanya Langit yang terpuruk dan kehilangan, tentu orang tua Biru jauh lebih terluka. Mereka yang selama ini menemani Biru, melihat tumbuh kembang Biru dan proses demi proses Biru menjalani hidup nya. Terutama Elsa yang melahirkan Biru, ini masih seperti mimpi untuk nya, membuat trauma itu semakin dalam di hati wanita muda itu.
__ADS_1