
“Ayah ... Bunda ... “ suara lemah dari Biru seketika membuat semua yang berada di ruangan itu langsung menghampiri nya. Faris dan Elsa dengan senantiasa menggenggam tangan Biru yang terasa begitu dingin.
“Iya Sayang, ayah sama bunda disini,” gumam Elsa mulai terisak.
Untuk kesekian kalinya, Elsa dan Faris melihat kondisi Biru yang sudah sangat parah, dan ia hanya bisa berharap dan berdoa semoga Biru bisa kembali melewati masa sulit seperti sebelum nya.
“Langit ... “ gumam nya lagi tersenyum saat melihat ke kiri dan melihat Langit juga di samping nya.
“Kamu harus kuat, aku akan terus disini nemenin kamu,” kata Langit setengah berbisik di telinga Biru.
“Bi—Biru mau jalan jalan.” Biru bergumam dengan begitu lirih, menatap orang tua nya secara bergantian satu persatu, “Biru mau melihat bunda.”
__ADS_1
“Sayang, kita nanti jalan jalan bareng yah kalau kondisi kamu sudah lebih baik, kamu mau kemana? Ayah akan nemenin Biru kemana pun Biru mau. Ke luar negri atau kemana pun asal Biru sembuh.”
“Ayah ... Biru mau ke taman Langit,” ucap nya melirik ke arah laki laki yang di sebelah nya, “Biru mau melihat langit biru di tengah hamparan bunda mawar putih.” Imbuh nya dengan tersenyum teduh.
“Sayang ... “ Faris nampak sangat tidak setuju dengan permintaan putri nya, namun melihat tatapan penuh permohonan dari Biru membuat nya di ambang kebingungan.
“Kita pergi tapi setelah kondisi kamu membaik, tidak sekarang.” Saut Langit dengan tegas, ia menatap Biru dengan tatapan yang sulit di jelaskan.
Untuk pertama kalinya, sejak dirinya bertengkar dengan ayah nya beberapa tahun yang lalu, ini adalah pertama kalinya Langit berbicara dan meminta pertolongan kepada sang ayah. Demi Biru.
Langit ingin membuat keluarga Sisil bangkrut, dan juga jaminan penjara seumur hidup, dan ia bersumpah bila ayah nya tidak bisa memastikan itu maka dirinya yang akan turun tangan, bahkan bila dirinya akan menghabiskan sisa hidup nya di penjara karena kasus pembunuhan. Tentu saja ayah dari Langit tidak akan membiarkan itu, ia tidak mau anak nya menjadi seorang pembunuh. Ia sudah mengupayakan segala cara untuk membalas perbuatan Sisil, terlebih saat ia tahu bahwa Biru adalah cucu dari sahabat orang tua nya.
__ADS_1
“Aku mau sekarang,” kata Biru memaksa.
“Aku gak mau.” Balas Langit dengan cepat.
“Kamu jahat,” Biru kembali meneteskan air mata, ia pun segera menepiskan tangan Langit dari bahu nya. Ia menatap orang tuanya dengan penh permohonan.
“Sayang, Langit benar. Ayah juga akan memberikan mu izin saat kondisi kamu sudah membaik, oke.” Tutur ayah Faris dengan lembut sambil mengusap kepala Biru.
“Biru mau istirahat,” gumam gadis itu mengusir semua orang secara halus, “Tolong tinggalkan Biru sendiri.” Imbuh nya lalu ia memejamkan mata seolah ingin tidur.
Faris dan Elsa menganggukkan kepala nya, ia memberikan waktu untuk Biru agar istirahat. Sementara Langit sejujurnya ia sangat tidak rela keluar dari ruangan Biru namun apa daya bila itu memang demi kebaikan Biru.
__ADS_1