
🍁🍁Kadang kita perlu Menangis untuk menghilangkan rasa sedih dihati. Tanpa seseorang pun tau apa yang kita rasakan.🍁🍁
.
.
.
.
.
Dua minggu sudah berlalu dengan begitu cepat, masa liburan sekolah pun telah usai. Dan sejak Langit mengantarkan Biru ke rumah sakit kala itu, hingga kini ia tidak pernah lagi bisa bertemu dengan nya. Nomor Biru tidak bisa di hubungi, dan juga berulang kali ia berusaha mencari informasi ke rumah sakit itu namun tidak ada jejak. Dirinya hanya mendapatkan info bahwa Biru sudah di pindahkan ke rumah sakit Singapore.
Dan kini, dirinya merasa sangat kesepian, merata[i nasib dan rasa bersalah nya di taman yang biasa ia kunjungi bersama Biru saat jam istirahat. Ia hanya bisa menghela nafas nya kasar saat mengingat kembali saat saat dirinya menghabiskan waktu bersama Biru kala itu.
"Elo kenapa sih Lang, kayaknya sayang banget sama tu bunga?" tanya Gerry sambil menyentuh kelopak bunga mawar yang sebagian sudah mulai gugur.
"Iya, sedari SD pasti lo selalu minta di adain taman khusus buat lo nanem mawarputih!” sambung Maxim menganggukkan kepala nya.
"Mawar putih, memiliki kenangan tersendiri buat gue,” jawab Langit seraya membayangkan kenangan dulu tentang mawar putih.
Flashback On*
Langit yang saat itu masih berusia lima tahun, sedang berlibur di kampung halaman sang kakek tepat nya di kota Bandung. Ia merasa bosan karena kampung itu masih sangat pelosok dan jauh dari keramaian.
Langit yang merasa bosan disana karena sepi dan jauh dari keramaian pun hanya diam duduk di tangga teras rumah.
"Langit, ngapain kamu disini nak?" tanya Nenek.
"Langit bosen nek."keluh Langit memanyunkan bibir nya ," Mama sama papa sibuk terus, Langit kesel."
"Mau ikut kakek ke ladang?" tawar sang Kakek.
"Gak mau," jawab Langit dengan cepat. Ia tidak mau bila ke ladang dan bertemu binatang binatang yang menjijikkan bagi Langit.
"Ayo lah, temani kakek sebentar, siapa tau nanti ketemu teman dijalan." kata Kakek maish berusaha membujuk cucu nya.
__ADS_1
"Emangnya Temen itu kaya Kerikil bisa di temui dijalan." kata Langit kesal, Meskipun baru berumur lima tahun namun Langit sudah seperti bocah berumur 8tahunan, selain tinggi dia juga memilik otak yang sangat cerdas diatas rata rata.
Benar saja saat dijalan Langit tak sengaja melihat seorang gadis dengan memakai dres berwarna putih dan memegang bunga mawar putih sambil bermain ayunan di bawah pohon mangga.
Langit yang saat itu hanya fokus kepada gadis cantik itu tanpa sengaja kakinya menyandung batu sehingga membuatnya terjatuh dan terluka.
"Auuwuwhwhh!” pekik Langit yang merasa lututnya perih.
"Astaga Langit, kenapa bisa jatuh begitu sih, ayo kakek gendong,"
"No, Langit sudah besar gak mau di gendong Langit kuat!” tolak nya, namun matanya terus fokus pada sosok gadis cantik dengan bunga mawar yang ada di ayunan itu.
"Ya sudah kita pulang kalau gitu!” ajak kakek namun Langit juga dengan cepat menggelengkan kepala nya.
"Gak mau, katanya kakek mau ke ladang.”
"Lutut kamu luka Langit nanti infeksi."
"Kakek itu siapa?" tanya Langit pada akhirnya.
"Oh itu Anna, cucunya kakek Samsul. eh kamu ini masih kecil sudah ganjen aja ya nanya nanya cewek."
"Hahaha, ya sudah ayo kerumah kakek Samsul saja, kita obati luka kamu disana." Kakek pun membawa Langit kerumah sahabatnya untuk meminta p3k,
"Lohh Langit kenapa?" tanya Samsul saat melihat Langit yang di gendong oleh kakeknya. Walau pun Langit menolak untuk di gendong, namun nyatanya kakek nya tidak tega dan tetap kekuh menggendong cucu nya.
"Jatuh, tapi gak mau diajak pulang," jawab kakek sambil melirik kepada Langit.
"Ya udah sebentar ya, kakek ambilkan obat dulu.” Saat kakek sedang mengobati kaki Langit, tiba tiba Anna datang menghampiri Langit.
"Darah na sudikit, ga boleh nais, Anna dalah na malen ada banak tapi gak nais," bicara Anna masih sangat cadel karena memang pertumbuhanya telat di karenakan fisiknya tidak seperti anak anak lainya.
"Aku gak nangis kok, aku kan kuat!" kata Langit, namun saat kakek memoleskan obat, Langit meringis perih.
"Sakit ya?" tanya Anna yang melihat ekspresi wajah Langit.
"Enggak." jawabnya tegas.
__ADS_1
"Mau main ayunan?" ajak Anna.
"Kaki ku masih sakit!” ucap Langit melirik ke arah lutut nya.
"Kan tadi kata na gak sakit," ledek Anna berdecak.
"Ya udah ayo." Langit akhirnya mengiyakan ajakan Anna karena malu bila harus bicara Sakit,
"Sepertinya kelak kita akan jadi besan," ucap Kakek Samsul tertawa begitu kencang saat melihat kedekatan Anna dan Langit.
"Hahhaa, ya kau benar, kita akan menjadi besan, kelak cucu cucu kita harus menikah dan menjadi pasangan."
"Langit. kamu mau mawal ini gak?"
"Gak, aku kan laki laki."
"Tapi mawal na cantik kaya Anna,"
"Kamu suka mawar putih?"
"Iya, mawal na lucu walna putih kaya baju Anna,"
"Nanti aku belikan mawar yang banyak buat Anna,"
"Tapi Anna lebih suka kalau Mawal na di tanam sundili yang banaaaakkk syekali di taman, telus ada kupu kupu na."
"Oke, nanti Langit akan buatkan taman yang indah untuk Anna yang banyak mawar warna warni,"
"No, Anna syuka sama mawal putih, gak mau walna walna,"
"Kenapa?"
"Gak syuka aja, Anna syuka sama Mawal putih."
"Baiklah, Nanti Langit akan buatkan taman cantik yang banyak mawar putih nya dan juga kupu kupu."
"Asiikkk, Langit janji yah." ujar Anna sambil mengulurkan jari kelingking nya untuk membuag janji dan disambut hangat oleh Langit.
__ADS_1
Flashback Off.