Langit Biru

Langit Biru
Bab 23


__ADS_3

🍁🍁 Bila kau tak izinkan aku untuk mencintaimu, maka izinkan aku untuk tetap bersama mu 🍁🍁🍁


.


.


.


“La—Langit,” gumam Biru lirih seketika langsung memundurkan langkah nya.


“Kenapa kamu tidak mau memperbaiki kesalahpahaman di antara kita? Kenapa kamu harus menyembunyikan semuanya dariku? Kenapa kamu malah lebih percaya padanya, kenapa—“ Langit menarik napas nya sedalam mungkin lalu menghembuskan nya secara kasar.


“Harusnya kita saling menjelaskan bukan malah saling menghindar!” imbuh Langit menatap Biru dengan kecewa.


“Tapi di antara kita memang tidak ada yang perlu di jelaskan!” kata Biru dengan tegas, walau sedikit lirih.


“Biru, aku—“

__ADS_1


“Langit, sejak awal aku sudah mengatakan padamu, jangan mencintai ku. Kenapa kamu tidak mau mencoba membuka hati untuk Sisil? Dia mencintai kamu, dia—“


“Biru cukup!” pekik Langit mengepalkan tangan nya dengan kuat, “Kamu ngerti gak sih, kalau yang aku mau itu Cuma kamu! Cuma kamu Biru!” 


“Langit, tapi aku—“


“Lihat mata aku!” Langit langsung memegang kedua bahu Biru dan menatap nya dengan intens. Mata keduanya saling menatap, menyelam semakin dalam hingga tanpa sadar air mata mulai keluar dari pelupuk matanya.


“Kita bisa lewati ini bersama Ru, aku mohon.” Pinta Langit memohon.


“Oke, kalau kamu tidak mengizinkan aku untuk mencintai kamu. Tapi setidak nya, izinkan aku untuk tetap bersama kamu. Menemani kamu,” kata Langit dengan tegas.


Biru mendongakkan kepala nya, kembali menatap Langit dengan mata yang sudah banjir, “Lang, aku—“


Langit sudah tidak bisa berkata kata lagi, ia tidak mau mendengar penolakan dari Biru lagi. Dengan segera ia menari tangan Biru dan membawa nya ke dalam pelukan nya, membuat tangis Biru pecah seketika.


“Aku mohon, beri aku kesempatan. Biarkan aku memberikan warna untuk kamu.”

__ADS_1


“Tapi kamu akan terluka Lang, dan aku gak mau,” Biru berulang kali menggelengkan kepala nya, berusaha memberontak hingga tiba tiba ia mencengkram bahu Langit dengan sangat erat.


Kepala nya begitu sakit, ia memejamkan mata nya dengan sangat kuat, nafas nya mulai kembali sesak hingga membuatnya hampir terjatuh.


“Biru!” seru Langit dan Nathan bersamaan. 


“Aaahhhh!” pekik Biru semakin kuat mencengkram rambut di kepala nya, entah sudah berapa banyak rambut yang tercabut akibat tarikan Biru, namun ia tidak memperdulikan nya. Dia hanya berharap rasa sakit di kepala nya bisa segera hilang.


Langit dan Nathan semakin panik, dengan cepat Langit segera mengangkat tubuh Biru dan membawa nya kembali masuk ke dalam rumah sakit. Setelah memastikan dokter menangani Biru, Langit dan Nathan menunggu di depan ruang tindakan.


“kenapa?” tanya Langit begitu lirih dan hampir tak terdengar, kini posisinya sedang duduk di sebuah kursi dengan kepala yang ia tundukkan dan tangan berpangku pada paha.


“Kenapa harus elo, kenapa bukan gue,” gumam nya lagi dengan tertawa getir, “Harus nya gue yang ada buat dia, gue pacarnya. Sedangkan elo.”


“Dia pasien kakak ipar gue, dan gue kenal sama dia sejak lama, mungkin bisa di bilang sebelum dia sekolah di tempat elo. Hanya saja, gue baru ketemu sama dia saat pertandingan kita,” jelas Nathan menghela nafas nya berat, "Dan gue suka sama dia."


Sontak Langit langsung mengangkat kepala nya dan menatap Nathan dengan tajam saat mendengar ungkapan hati musuh bebuyutan nya itu menyukai kekasih nya. 

__ADS_1


__ADS_2