
Hari minggu, hari yang begitu cerah. Secerah senyum seorang gadis yang berada di dalam mobil menuju sekolahan. Ya, meski hari minggu, Biru memaksa ingin pergi ke sekolah. Setelah kemarin Langit berjanji akan membawa nya ke taman bunga, kini dirinya akhirnya kembali memaksa untuk pergi di hari itu juga.
Walau panas dan sedikit terik, tak membuat seorang gadis yang berwajah pucat itu untuk mengurungkan niat nya. Langit, dengan telaten dan lembut menggendong tubuh Biru untuk memasuki area sekolah. Melewati beberapa lorong hingga akhirnya sampai di sebuah taman yang sudah ia siapkan dengan meja dan kursi. Ya, Biru ingin menikmati makan siang di sana.
Untuk dokter dan orang tua Biru ikut serta, namun mereka memilih menunggu di tempat yang cukup jauh dari area taman, meski begitu mereka masih bisa memantau walau dari kejauhan.
“Disini sangat indah,” gumam Biru yang terus tersenyum.
“Sayang, kamu lihat kupu kupu itu.” kata Langit saat melihat beberapa kupu kupu berterbangan di sekitar nya, kupu kupu yang awalnya dulu hanya satu dan kini sudah berkembang cukup banyak.
“Kenapa? Aku lebih suka melihat kamu daripada kupu kupu itu,” jawab Biru dengan mata yang terus fokus menatap Langit.
__ADS_1
“Tapi aku lebih suka melihat kupu kupu dari pada kamu,” ledek Langit terkekeh saat melihat wajah Biru sedikit mendengus.
“Tak apa, kamu tidak harus melihat ke arah ku. Biarkan aku yang selalu melihat kamu, walau itu dari kejauhan tapi aku sudah bahagia bisa melihat kamu.” Jawab Biru tersenyum membuat kekehan di wajah Langit langsung menghilang, “Aku berharap, kamu akan terus tersenyum dan bahagia seperti ini, walau—“
“Jangan katakan apapun yang akan membuat ku sakit.Aku tidak mau, aku hanya mau menghabiskan waktu sama kamu, jangan bicara terlalu banyak. Aku tidak suka!” cetus Langit kembali mendengus.
“Lang, kamu lihat langit itu, begitu cerah dan berwarna biru. Sesuai harapan ku, aku bisa menikmati keindahan langit biru bersama kamu.” Biru mengadahkan kepala nya menatap atap kaca pada taman tersebut, sehingga ia bisa melihat keindahan langit biru yang di hiasi beberapa awan putih.
“Andai aku bisa, aku pun juga ingin berharap seperti itu. Tapi aku cukup tau dan sadar diri bahwa harapan ku terlalu besar dan aku takut semakin membuat mu jatuh dan terluka.”
“Biru ... “
__ADS_1
“Langit,” Biru langsung memejamkan matanya dnegan cukup erat, ia menggigit bibir bawah nya serta menarik nafas nya dengan dalam, “Bahagia lah, jangan kembali lagi pada dunia kamu sebelum nya. Bahagia lah dan jadilah lebih berguna, kamu—“
“Sayang,” Langit langsung bangkit dari tempat duduk nya saat melihat Biru menjatuhkan kepala nya di meja, “Kita pulang ya!”
“Iya, aku ingin pulang Lang, aku ingin pulang,” gumam nya lirih, “Maafkan aku bila pada akhirnya aku benar menyakiti kamu.”
“Jangan katakan lagi.” Seru Langit, ia hendak mengangkat tubuh Biru dan segera membawa nya ke rumah sakit, namun dengan cepat Biru menggelengkan kepala nya, hingga akhirnya kini ia terduduk tepat di depan Biru yang sedang bersandar pada meja.
“Berjanjilah bahwa kamu akan bahagia,” pinta Biru yang terus menggenggam tangan Langit.
“Aku janji akan membahagiakan kamu, kita akan bahagia bersama, aku akan—“
__ADS_1
Biru dengan cepat menggelengkan kepala nya, “Aku akan bahagia saat melihat kamu bahagia.” Biru masih bisa tersenyum dan menyentuh wajah Langit dengan lembut. Membuat hati Langit terasa semakin perih dan tersayat, sangat menyakitkan saat melihat orang yang kita cintai berada di akhir penantian.