Langit Dan Bintang

Langit Dan Bintang
Awal Yang Menyebalkan


__ADS_3

Dara melempar apron yang baru saja ia lepaskan ke atas mini bar. Matanya mendelik tak suka kearah pemuda yang kini duduk sambil tersenyum memperhatikannya. Pemuda itu, kenapa menyebalkan sekali?


Kapan pemuda ini akan berhenti mengganggu hidupnya? Dara sudah muak dengan wajah tengil yang selalu dipasangkan oleh pemuda itu.


"Kau ... apa tidak punya pekerjaan selain dari menggangguku?"


Ingin sekali rasanya Dara mencakar wajah tampan pemuda itu.


What?


Apa tadi? Tampan?


Oh, No! Dara hanya salah sebut, lelaki itu sama sekali tidak tampan, begitu menurut Dara. But, reality is not always in line with thought.


"Kau seperti noda saos yang susah sekali untuk ku singkirkan." Nada suara gadis itu mulai meninggi. "Kenapa kau sangat menyebalkan?"


Pemuda itu terkekeh geli melihat amarah gadis di depannya semakin menggebu-gebu. Cantik. Lebih tepatnya semakin cantik.


"Kalau begitu, kau tidak perlu menyingkirkan ku! Anggap saja aku warna baru dalam hidupmu!" ucap pemuda itu tanpa dosa.


Dara memutar bola matanya jengah. Dara heran, kenapa Tuhan menciptakan manusia menyebalkan seperti pemuda di depannya ini? Dan kenapa pula harus Dara yang bertemu dengan orang semacam ini?


"Terserah kau Tuan, aku ingin pergi! Selamat tinggal."


Dara melangkahkan kakinya panjang-panjang, keluar dari dapur dimana tempat ia selalu berkutat sepanjang hari. Meninggalkan pemuda itu dengan terus menggerutu dan mengumpat.


Harusnya ia menyelesaikan pekerjaannya terlebih dahulu, tapi moodnya benar-benar rusak karena kehadiran pemuda tadi. Pesanan kue ulang tahun dari Nyonya Carley harus ia tunda, sampai moodnya membaik dan tentu saja sampai pria sialan itu enyah dari hidupnya.


"Arrgghhh!" Dara menggeram frustasi.


Kapan lelaki itu akan berhenti mengganggunya?


Lagi-lagi pertanyaan itu yang muncul di otak cerdas Dara. Tapi sayang sekali secerdas apapun otaknya, Dara tetap tidak menemukan jawaban atas pertanyaannya.


Dara merasa semua ini seperti kutukan, dimana setiap hari ia harus melihat wajah pemuda itu, mendengar gombalan yang tak masuk diakal darinya dan juga senyuman itu, Dara benar-benar muak melihatnya.


"Dara?"


Langkah kaki Dara berhenti saat ia merasa seseorang memanggilnya. Dan yeah! tepat dugaan Dara, satu lagi makhluk pengganggu hadir di hadapannya. God, what's wrong with him in this world?


"Loundry pada tutup kayaknya ya?"

__ADS_1


Dara memutar bola matanya jengah, malas meladeni lelaki yang sama menyebalkan seperti Bintang, pemuda yang ia tinggalkan di dapur tadi.


"Itu muka kusut amat, Neng," goda pemuda itu.


Dara berdecak, "Apa sih?"


Reno, pemuda itu mengambil jarak di depan Dara, "Baru jam segini udah mau pulang?" tanyanya.


"Bukan urusanmu! Lebih baik kau urus saja temanmu yang gila itu," omel Dara sambil menunjuk kearah dapur.


Reno mengerutkan keningnya bingung dan di detik berikutnya ia paham siapa yang dimaksud Dara.


"Bintang di sini?"


"Iya, aku disini!" saut pemuda itu dari ambang pintu dapur. Ia berjalan mendekati Dara dan Reno yang berdiri dengan sorot mata yang berbeda. Jika Reno menatap sahabatnya dengan pandangan berbinar lain halnya dengan Dara yang pastinya menatap Bintang dengan sorot mata tajam dan membunuh.


"Liatnya biasa aja cantik, nanti kau bisa jatuh cinta loh." Bintang tidak pernah merasa bosan menggoda Dara. Mengganggu wanita mungil nan cantik ini begitu menyenangkan, dan Bintang pastikan suatu hari Dara akan luluh kepadanya.


Dara menghentakkan kakinya kesal sebelum dia pergi meniggalkan dua pria yang sama sekali tak ia sukai itu.


"Dara ... hati-hati sayang!"


"I love you too," saut Bintang.


"Dasar gilaaaa ...!" pekik Dara.


...****************...


"Kapan kau bisa serius dengan seorang gadis?" tanya Reno.


Mereka kini sedang duduk di kafe milik gadis cantik nan mungil tadi, Dara.


"Apa kau pikir aku main-main?"


"Menurutku ... ya!"


"Kali ini aku serius Ren, dia gadis yang berbeda. Dia cantik, cerdas, dan ... tidak murahan."Jelas Bintang.


"Tentu saja! Dan sepertinya kau yang harus menjadi pria murahan untuk menaklukkan nya." Reno terkekeh mengejek sahabatnya itu.


Bintang ikut tersenyum, senyum yang seakan meremehkan dirinya sendiri. Bintang sadar bahwa berani jatuh cinta pada Dara berarti ia juga harus berani untuk jatuh dan mungkin berdarah saat harus menerima penolakan gadis itu.

__ADS_1


See, beberapa menit yang lalu saja gadis mungil itu sudah beberapa kali mengumpati dirinya, dan belum lagi sorot mata itu selalu mengajak berperang setiap kali melihatnya.


Bintang menggelengkan kepalanya pelan sembari tersenyum tipis. Membayangkan gadis pujaan hatinya itu selalu marah-marah setiap mereka bertemu, itu sangat menyenangkan untuk dirinya. Cinta memang sekonyol itu, bahkan amarah dari orang yang kita cintai pun terasa amat menggembirakan.


Tingkah Bintang itupun tak luput dari perhatian Reno yang telah menghabiskan dua cangkir kopi hitam di depannya.


"Sudah melamunnya?" tegur Reno.


"Ck. Siapa yang melamun?" elak Bintang. "Bangsat! Kau menghabiskan kopi ku."


Reno mengedikkan bahunya acuh, "Siapa suruh ngelamun!"


"Kau_!"


"Apa?" potong Reno cepat, "ayolah kita pulang, Dara tidak akan kembali ke sini lagi, jika itu yang kau harapkan dan harapan mu itu sia-sia."


"Bangsat!"


Reno tidak mempedulikan Bintang yang terus memakinya, sahabatnya itu, sekali-kali memang harus diejek supaya sadar diri tidak mudah untuk menaklukkan seorang Dara.


Dan di tempat lain, Dara kini tengah memilah es krim di dalam box pendingin yang cukup besar. Mengambil satu cup es krim dengan rasa vanilla yang wangi menggoda. Gadis itu segera menuju kasir untuk membayarnya dan ia ingin cepat pergi dari tempat ini. Menikmati es krim dalam suasana hati yang buruk akan menjadikan hati lebih baik pastinya.


Mengingat Bintang dan segala kelakuannya benar-benar membuat Dara kesal. Mengantri dengan antrian tiga orang saja di depannya terasa begitu lama menurut Dara. Mood gadis ini sama sekali belum membaik. Sebelum es krim yang dingin dan manis itu singgah di lidahnya semuanya tidak akan baik-baik saja. Pengaruh Bintang untuk hidup Dara memang sangatlah buruk.


Belum hilang kekesalannya terhadap pemuda itu, justru kini matanya menangkap sosok itu di antara antrian pada kasir di sebelah kanannya.


Huft! Kenapa tuhan selalu menguji kesabarannya?


Seperti biasa, Dara menatap tak suka kearah pemuda yang ia kira Bintang tersebut. Pemuda itu terlihat acuh saat pandangan mereka bertemu.


Lihat! bahkan di saat seperti ini lelaki itu masih sangat menyebalkan.


Tapi tunggu! Kenapa lelaki itu tidak mempedulikannya? Kemana mata yang biasanya mengerling nakal itu tak ia perlihatkan? atau senyum jahil yang selalu membuat jengkel itu juga tidak ada di sana?


Apa dia bunglon?


Alright, let's see what happens?


Bersambung...


__ADS_1


__ADS_2