
Langit baru saja menyelesaikan sarapannya sesaat setelah Bintang tiba di meja makan. Dua bersaudara itu saling melirik dengan ekor mata masing-masing.
"Pagi Ratuku!" Bintang menyapa mamanya yang sedang mengunyah roti, diiringi kecupan sayang di pipi wanita itu.
Nada tersenyum membalas sapaan putra sulungnya. "Pagi juga!"
Bintang melirik kearah Langit sekilas, lalu beralih ke Oma-nya. Dan matanya berhenti saat melihat kursi kebesaran sang Papa yang kosong. "Papamu nggak ikut sarapan Lang?"
Langit lantas berdecih mendengar pertanyaan itu."Kau udah nggak mengakui dia juga papamu?"
Bintang tertawa. Tangannya kini sibuk mengoles roti dengan selai kacang.
"Oma cantik, kok diam aja?" Ia beralih menggoda wanita tua itu.
Delena mencibir. "Dasar anak nakal!"
Bintang kembali tertawa. Menjahili orang-orang di rumahnya memang sangat menyenangkan, terutama Langit yang menjadi bahan bullyan setiap hari.
Seperti sekarang ini. Bintang dengan gaya tengilnya mempropokasi sang Oma dalam menyudutkan Langit.
"Cucu Oma yang satu itu masih betah aja ngejomlo? nggak ada niat gitu buat ngenalin pacar?" Celetuknya sambil memasukan roti yang sudah diolesi selai ke mulutnya.
Langit memutar bola matanya malas.
"Waktu kecil Oma kasi makan apa sih anak satu itu?" Langit membalas.
"Dia dulu sering makan rawon, makanya pecicilan!" jawab Oma.
Mereka semua tergelak. Dan kemudian muncullah sosok tampan yang penuh wibawa, papa dari si Kembar. Perhatian mereka seketika teralihkan saat lelaki dewasa itu duduk di tengah mereka.
"Kalian ngetawain apa?" tanya Nathan heran.
"Itu loh Pa, anak Papa yang sok kegantengan itu waktu kecilnya kebanyakan makan rawon kata Oma!" adu Langit.
Bintang mencibir perkataan Langit.
"Kampret!"
"Eh ngomong apa itu?" tegur Nathan.
"Maaf Pa!" Bintang menyengir.
"So...gimana hasil penyelidikanmu kemarin?" Nathan memulai topik serius. Pertanyaan itu dituju untuk Bintang.
"Hais Pa, santai dikit kenapa sih?" Bintang menggerutu, "kaku amat Pa, kayak Langit!"
Nathan menghentikan gerak tangannya yang semula asik mengoles roti dengan selai kacang. Meskipun watak dan kepribadiannya lebih cenderung seperti langit, namun kebiasaan dan makanan favoritnya seratus persen seperti Bintang.
Lelaki itu melihat sekilas kearah Bintang, lalu fokusnya kembali lagi pada roti dan selai di depannya.
"Urusan sepenting itu mau kau buat santai?"
__ADS_1
Langit dan Bintang saling melempar pandangan. Jika sudah menyangkut pekerjaan, maka duo kembar ini akan saling mendukung dan bekerja sama.
"Mereka gagal menjalin kerjasama itu, Pa!" Bintang memilh menjawab serius perkataan papanya?
"Alasannya?"
"Aku belum tau pasti."
Nathan nampak mengangguk mendengar jawaban Bintang.
"Kalau begitu, kau harus mengupayakan agar mereka benar-benar tidak menjalin kerjasama itu."
"Papa mengenal dua kubu yang bersekutu itu?" Kali ini Langit yang bertanya.
"Tidak. Hanya salah satunya!"
"Salah satu itu, apa punya dendam sama Papa...atau mendiang Kakek?" Langit mencoba menggali informasi dari Papanya.
Nathan memilih tidak menjawab, ia justru nampak mengalihkan pembicaraan. "Ayo berangkat! kita sudah hampir terlambat."
Nathan mengambil jas yang disampirnya di sandaran kursi. Lalu segera mengecup kening sang istri, kemudian beralih menyalami oma Delena.
Bintang dan Langit serempak mengedikan bahu dengan bibir yang tersungging mencibir.
Tak ingin ambil pusing, dua bersaudara itu lantas menyusul papa mereka yang sudah berada di teras, sebelum itu mereka menyempatkan diri mencium dua wanita kesayangan mereka bergantian.
***
"Pastinya ada sesuatu yang besar yang dirahasiakan Papa!" Langit menjawab.
"Aku curiga jangan-jangan Papa pernah ada main sama anak pemilik perusahaan itu!" Bintang mulai berasumsi.
"Maksudmu ... skandal, begitu?"
"Hei brother ... Papa cukup lama ditinggal sama Mama loh!"
Langit tampak kesal dengan pemikiran Bintang. "Papa nggak mungkin melakukan itu!" elaknya.
"Ya, akukan cuma mengira-ngira! Abisnya Papa mencurigakan."
Bintang mengedikan bahu, lalu mengambil posisi duduk di sofa yang ada di ruangan itu. Menjulurkan kakinya yang panjang, ia mengadu capek pada sang adik yang terlihat fokus pada laptop di depannya.
"Lang?" panggilnya.
"Hm?"
"Aku boleh keluar ya? Mau ke kafe wanita masa depanku."
Langit melirik kearah Bintang sebentar, lalu berkata, "terserah."
Bintang bersorak, lalu dengan langkah cepat ia keluar dari ruangan yang membuat napasnya sesak.
__ADS_1
Langit hanya bisa menggeleng pasrah melihat saudara kembarnya bertingkah layaknya remaja SMA itu.
Di tempat lain, tepatnya di kafe milik Dara, Reno sudah menunggu Bintang di sana. Cowok dengan rambut gondrong dikuncir itu terlihat asik memainkan ponsel di tangannya.
"Mau pesan apa, Mas?" Suara dari barista itu mengalihkan perhatian Reno. Cowok itu menatap pada gadis yang sedang tersenyum ramah padanya.
Reno memperhatikan gadis itu dari ujung kaki, lalu berhenti tepat di depan dada, kemudian naik lagi dan menangkap pada sepasang mata bulat yang teduh gadis itu. Untuk pertama kalinya Reno memperhatikan seorang gadis sampai sedetail itu.
Gadis yang membawa pena dan buku menu di tangannya pun merasa risih saat di tatap Reno seperti itu.
"Jadi, Mas-nya mau pesan apa?" Gadis itu memilih mengulang pertanyaannya.
"Pesan hati kamu, boleh nggak?"
Sedetik berikutnya Reno menyadari ketololannya, dan ia kemudian berdehem mengusir rasa gugup yang tiba-tiba menyerangnya.
Siska, gadis itu melongo tak percaya atas apa yang didengarnya. Baru kali ini ada pelanggan yang memesan hati. Huft...apa-apaan itu?
"Kopi hitam aja dulu!" Akhirnya Reno beralih menjawab. "Saya masih nunggu teman, bentar lagi juga sampai."
Siska mengangguk paham dan ia segera beranjak dari hadapan Reno. Baru beberapa langkah, Reno kembali memanggil gadis berseragam barista itu.
"Tunggu!"
Siska menoleh, "siapa nama kamu?"
Belum sempat Siska menjawab, suara yang cukup familiar di telinganya membuat ia langsung beralih pada sumber suara.
"Sorry Ren, lama nggak?" ucap pemuda itu.
Tanpa mempedulikan lagi pertanyaan Reno tadi, Siska lantas meninggalkan dua orang yang sudah mulai asik mengobrol itu. Sepertinya Reno juga sudah lupa dengan keberadaan Siska. Maka gadis itu memilih menyingkir.
Secangkir kopi hitam pesanan Reno akhirnya sampai dan itu berhasil mengalihkan perhatian dua pemuda itu.
"Loh, Mbak yang tadi mana?" tanya Reno pada barista laki-laki yang mengantarkan kopinya.
"Mbak yang mana, Mas? Di sini mbak-mbaknya banyak," jawab barista laki-laki itu.
"Ya udah deh, nanti saya cari sendiri aja."
Bintang yang menyimak obrolan Reno dengan barista itu menautkan alisnya. Heran, sejak kapan Reno peduli dengan gadis berseragam pelayan. Bukan maksudnya merendahkan, tapi seorang Reno selalu dikelilingi gadis-gadis berkelas, minimal model majalah. Jadi akan sangat heran jika Reno bisa tertarik dengan seorang gadis biasa apalagi hanya pelayan kafe.
"Siapa?" Bintang bertanya.
"Apa?"
Bintang tertawa, "Ren...Ren, sejak kapan berubah haluan?"
Seperti mengerti maksud Bintang, Reno pun lantas tersenyum, "Kalau cantik apa salahnya?"
Dan akhirnya tawa mereka pun membahana di dalam kafe itu.
__ADS_1
Bersambung...