Langit Dan Bintang

Langit Dan Bintang
Bertemu Langit


__ADS_3

Jika manusia biasanya berjalan dengan suatu tujuan, Dara justru sama sekali tak pernah memiliki tujuan yang pasti dalam hidupnya. Asa itu telah terputus sebelum ia merentangkan benang-benang mimpi yang terjalin dalam dirinya.


Gadis dengan mata seindah rembulan itu kini hanya berjalan tanpa arah, menyisir tepian danau buatan yang terletak tak jauh dari taman kota.


Menikmati angin yang tanpa henti bersemilir, membuat gadis itu memejamkan matanya sejenak. Ia merentangkan tangannya dan meraup oksigen dengan dalam. Serupa seekor burung yang tengah mempersiapkan gelembung udara pada paru-parunya untuk bekal ia mengudara.


Dara ingin terbang, bebas bersama langit, menggapai bintang lalu menari dalam malam. Tapi itu hanya hayalan semata. Nyatanya semesta selalu menolak ia untuk bebas.


Dari kejauhan ada sesosok rupawan yang memperhatikan tingkah Dara. Sekilas matanya menangkap bahwa gadis yang merentangkan tangan ke udara itu tengah bersiap untuk menjeburkan dirinya kedasar danau.


Secepat sambaran kilat menyentuh permukaan bumi, pergerakannya tepat sasaran. Lengan kokoh dengan otot-otot yang tercetak menawan itu kini berhasil menerbangkan tubuh mungil itu menjauh dari tepian danau.


"Aaaaaa...!" Gadis itu menjerit terkejut. Tanpa tau siapa yang kini telah menyeretnya menjauh dari tepi danau, ia terus memberontak dengan memukul tangan yang melingkar pada perutnya.


"Lepaskan aku...dasar gila!" Ia memaki.


Merasa gadis itu sudah pada zona aman lelaki itupun menurunkannya.


"Hei...kau yang sudah gila!" bantah lelaki itu.


Dara segera membalikan badannya mengahadap lelaki itu. Baru saja ia akan melayangkan protesnya, tiba-tiba matanya melotot terkejut, "kau?"


***


Langit baru saja memarkirkan mobilnya asal di tepi danau taman kota. Saat tiba-tiba matanya menangkap seorang gadis dengan gaun biru muda tanpa lengan berdiri di tepi danau dengan merentangkan kedua tangannya.


Yang terlintas di benak Langit ketika itu ialah bahwa Dara akan melompat pada dasar danau yang tenang itu. Maka dengan gerakan agresifnya ia pun segera melayangkan gadis itu menjauh dari danau.


Tapi kenyataan lain yang didapatnya, bahwa gadis itu justru terpelongo saat melihatnya setelah beberapa detik yang lalu ia masih sempat meneriaki Langit karena mengangkat tubuhnya tanpa permisi.


"Kau?"


"Apa?"


"Ya ampun Bin...apa yang kau lakukan?" Dara terlihat geram saat bertanya kepada pemuda di depannya.


"Bin?" tanya Langit heran.


Dara membulatkan matanya. Sepertinya ia mulai sadar jika lelaki yang dihadapannya saat ini bukanlah Bintang. Dara bisa melihat perbedaan itu dari cara lelaki itu bicara. Dan yang lebih meyakinkan Dara bahwa lelaki yang didepannya ini bukanlah Bintang yaitu dari bibir lelaki ini yang tak menyunggingkan senyum jahil yang menjengkelkan.


"Ka-kau...bukan Bintang?" tanyanya terbata, "tapi wajahmu itu?"


Langit terkekeh melihat raut bingung dari gadis yang belum ia tau namanya itu.


"Aku Langit, saudaranya Bintang!" jawabnya memperkenalkan diri.


Dara hanya ber 'oh', lalu ia beranjak dari pemuda itu.


"Tunggu!"


"Ya, ada apa lagi?'


"Kau tidak ingin berterima kasih padaku?"


Dara mengernyitkan dahinya? "Untuk apa?"

__ADS_1


"Karena aku sudah menyelamatkanmu."


"Ya, terimakasih kau sudah membuatku hampir mati, karena jantungan!" balas Dara kesal.


"Hah?"


Dara tidak peduli lagi dengan Langit yang masih terbengong. Lelaki itu ternyata sama menyebalkan seperti Bintang.


Melihat Dara berjalan semakin menjauh, Langit lantas mengejarnya. Entah mendapat ilham atau kebranian dari mana Langit melakukan hal itu. Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun ia melakukan hal ini lagi, mengejar seorang gadis.


"Kenapa kau mengikutiku?" Dara menggeram saat tau pemuda itu berjalan dibelakangnya.


Langit mengusap tengkuknya, mencari alasan yang pas untuk mengenal gadis itu. Ya, Langit ingin tau siapa gadis itu, minimal namanya saja.


"Aku cuma mau memastikan kalau kau tidak akan berbuat nekat lagi."


"Nekat?" Dara tak percaya dengan apa yang dia dengar. Ternyata laki-laki itu benar berpikir dia akan bunuh diri, tadi. "Astaga...kau pikir aku...?" Dara tidak bisa berkata saking kesalnya. "Aku tidak akan bunuh diri, jadi pergilah!"


Lihatlah, gadis manis pemilik mata seindah rembulan itu mulai meledak-ledak. Tapi justru hal itu membuat lelaki muda yang masih setia mengikuti langkahnya tersenyum-senyum dibelakangnya. Gadis itu sungguh menggemaskan, seperti anak kucing.


"Aku akan pergi, tapi sebelumnya beri tau dulu siapa namamu?"


Cara berkenalan yang aneh.


Dara berhenti dan berbalik. Matanya menatap, kali ini seperti seekor kucing yang siap berkelahi, menyeramkan.


"Setidaknya aku tau namamu jika besok polisi menemukan mayatmu di danau tanpa identitas." Langit beralasan.


Dara ingin sekali mencakar wajah laki-laki itu. Tapi ia hanya bisa menghentakan kakinya kesal, lalu berbalik meninggalkan Langit segera.


Langit tersenyum melihat raut kesal gadis itu. Mata itu benar-benar indah sekalipun sedang melotot kesal.


Tunggu dulu. Mata itu? Langit pernah melihatnya. Ya, gadis itu yang pernah bertemu dengannya di mini market waktu itu. Gadis dengan tatapan membunuh saat melihanya di mini market. "Astaga, dia salah satu gadis-gadis Bintang!" Langit teringat, "pantesan seprti mau membunuhku."


Dengan perasaan tak rela, Langit akhirnya membiarkan Dara berlalu. Gadis itu, pasti mereka akan bertemu lagi.


***


Jika biasanya Langit melangkah dengan beban yang begitu berat menggantung di kaki hingga kepalanya. Tapi hari ini seakan beban itu melayang entah kemana. Langkah kaki riang itupun diiringi senandung ringan dari bibirnya.


Hari ini menjadi hari pertama untuk seorang Langit Dirgantara melepas segala penatnya dengan memikirkan seorang gadis.


Tingkahnya yang berbeda hari ini pun akhirnya mendapat perhatian dari saudara kembarnya yang super tengil itu.


Belum sepenuhnya ia masuk kedalam rumah, ia sudah disambut cengiran konyol dan bullyan telak dari pemuda yang memiliki wajah 95% mirip dengannya.


"Wow...see Oma!" Sambutan pertama yang dilontarkan Bintang saat melihatnya. "Kayaknya kita bakal menggelar syukuran tujuh hari tujuh malam nih Oma!"


Langit mencibir, "apa sih?"


"Cieee...siapa namanya?"


"Siapa?"


"Gadis itu?" Bintang menaik-naikan alisnya menggoda.

__ADS_1


"Belum tau!" jawabnya jujur.


"Hah?" Bintang melongo bego' dan di detik berikutnya ia tertawa kencang.


Langit melemparnya dengan bantal sofa. justru membuat tawa Bintang semakin membahana.


"Astaga Lang...belum tau namanya aja, kau sudah sebahagia itu?" Bintang kembali tertwa.


"Berisik Bin!" kesal Langit melihat saudaranya itu.


"Hei...come on dude! Masa buat tau namanya aja perlu waktu lama? Gercap lah Bro!"


Langit mengedikan bahunya. Masa bodolah sama ocehan Bintang.


"Nanti Bin, kalo aku ketemu lagi sama dia bakal langsung kulamar."


Hal itu justru semakin menambah riuh suara Bintang.


"Baru ketemu hari ini?"


"Yang kedua kali!"


"Yang pertama?"


"Di mini market waktu itu."


Bintang mangut-mangut. Tapi tetap dengan tawa dari bibirnya. "Lama amat sih Lang geraknya? Udah dua kali ketemu belum tau namanya juga." Bintang mengeluh.


"Pertama kali ketemu, dia seperti ingin menelanku Lang dan itu gara-gara kau!"


"Maksudnya?"


"Iya. Dia gadis yang pernah aku ceritakan waktu itu!"


Bintang menyimak dengan wajah serius.


"Yang mengira aku adalah kau..." Langit menjeda kalimatnya, "yang menatapku seperti mau menerkamku."


Bintang mencerna setiap kalimat Langit.


Gadis?


Mini market?


Dan..


Tatapan yang seprti ingin menerkamnya?


Gadis itu?


Ah, tidak mungkin.


Bintang terdiam dengan raut wajah gelisah. Ia ingin menyangkal kebenaran yang ada di pikirannya.


Tidak, tidak. Pasti bukan Dara.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2