Langit Dan Bintang

Langit Dan Bintang
Masa Lalu Itu Masih Kelam


__ADS_3

Plak


Kini giliran sebelah pipinya yang lagi menjadi sasaran. Sedangkan rona merah dengan ukiran jari-jari telah berhasil menghias pipinya yang seputih pualam itu.


Dan wanita di depannya semakin menyorotkan kebencian yang dalam. Mata dengan manik indah bercahaya itu terlihat sedang berapi-api yang siap membakar lawannya.


"Kau_?"


Ia tak lagi melanjutkan kalimatnya. Entah lidah itu sudah tak sanggup berkata-kata atau justru ia sudah terlalu muak dengan segala yang akan ia ucapkan kepada gadis itu.


Jika manusia pada dasarnya dianugerahi sebuah hati yang luas, sayangnya manusia yang satu ini sama sekali tak memiliki hati. Ia berjalan meninggalkan gadis yang tertunduk itu dan berjalan menuju dua orang bodyguard yang selalu setia menanti perintah darinya.


"Bawa gadis tak berguna itu ke gudang dan ikat dia dengan rantai." Perintah itu segera diangguki dua orang tersebut.


Tanpa menoleh lagi pada gadis yang akan disekap itu, ia pun meninggalkan ruang kerjanya secepat mungkin.


"Ada kabar apa tentang manusia terkutuk itu?" Ia bertanya pada sekretarisnya yang tampak menunggu kedatangannya di dalam sebuah ruangan. Ruang khusus untuk ia dan beberapa orang penting dalam membahas hal-hal rahasia.


Prissa, sang sekretaris berdehem sebelum memulai kalimatnya.


"David Arseno...dilarikan kerumah sakit tadi malam!" Berita pertama yang disampaikan Prissa.


Laras tampak menunggu Prissa berucap selanjutnya, "Kanker hati yang diidapnya kini sudah menjalar dan menyerang organ-organ penting lainnya."


"Kemungkinan hidupnya tak akan lama lagi." Prissa mengakhiri informasinya.


Laras tersenyum miring mendengar kabar itu. Matanya yang selalu menatap akan membunuh itu semakin terlihat menakutkkan.


"Kau tak boleh mati secepat itu...kau harus menyaksikan sesuatu." Laras bergumam.


"Bagaimana dengan non Dara, Bu?" Prissa tiba-tiba bertanya.


Laras kembali menatap kepada sekretarisnya itu. "Aku sudah menyuruh bodyguard menyekapnya di gudang."


Prissa nampak sedikit terkejut namun segera mungkin ia mengembalikan sikapnya.


***


Hampir jam sepuluh lewat tiga malam, gadis itu masih di tempat itu. Ia menahan segala perasaannya.


Tubuhnya yang lemah itu semakin melemah. Matanya mulai berkunang-kunang. Perut yang sejak siang tadi belum diisi oleh apapun kini terasa pedih. Ah, Dara sungguh lebih baik mati dibandingkan tersiksa seperti ini.


"Papa!" lirihnya.


Air matanya kembali luruh.


"Papa ... Rara takut, Pa!"


Ia berbisik pada sunyi dan kelam. Menangis dan ia hampir menyerah.


Luka itu akan ia bawa sampai akhir hidupnya. Luka itu akan terus menghantui dirinya selamanya. Bagaimana caranya bisa lepas dari rasa sakit itu. Bagaimana ia akan sembuh dari luka yang diberikan wanita itu. Dara pasrah.


Dalam kelam tanpa setitik cahaya itu, tiba-tiba Dara merasakan seseorang datang mendekat kearahnya. Tubuh Dara semakin kaku. Ia takut. Tapi untuk berlari ia tak bisa. Kaki dan tangannya diikat rantai kuat.

__ADS_1


"Ayo makan, Ra!" ucap orang itu pelan. Cahaya dari ponselnya sedikit menerangi ruang itu.


Dara terpaku, dia ingin menolak tapi dia butuh makanan itu. Seseorang itu mengulurkan tangannya untuk menyuapi Dara dan disambut dengan ragu oleh Dara.


"Aku suapin ya! Aku nggak punya banyak waktu, Ra. Aku janji akan membebaskan mu dari tempat ini."


Dara mendengar jelas bagaimana kata itu keluar dari orang itu. Dara tak bisa menebak siapa orang itu. Sebagian wajahnya tertutup oleh masker, sedangkan kepalanya disembunyikannya di balik hodi.


Dia masih terus menyuapi Dara, gadis itu tanpa penolakan menerima suapan itu.


"Minum?" tawarnya.


Dara mengangguk.


"Aku harus segera pergi ... kau istirahatlah!" perintahnya.


Setelah kepergian seseorang yang tak Dara ketahui identitasnya itu kini ia kembali


***


"Ma, aku mohon bebaskan aku!"


Dara memohon dengan penuh belas kasih pada wanita di depannya. Tapi sayangnya wanita itu sama sekali tak menghiraukan. Sorot matanya masih tetap tajam seolah tengah menikam hati putrinya dengan kejam.


"Aku lelah, Ma." Dara berucap lirih.


Laras menyeringai. Ia berjalan dan berjongkok di depan Dara yang masih terikat. Rantai itu bukan hanya melilit kaki dan tangannya namun juga melilit hidupnya.


"Kau bilang lelah? Bahkan ini baru akan aku mulai." Ia berucap bersamaan dengan tangannya mencengkram kuat dua sisi wajah Dara.


Berbeda dengan wanita dewasa di depannya. Meski mata itu sama persis dengan keindahan yang dimiliki gadis di depannya, namun caranya menatap lawannya selalu penuh intimidasi. Sorot matanya selalu tajam dan penuh kebencian. Mata seindah rembulan itu seakan ternodai oleh kilatan-kilatan dendam yang tak berkesudahan,selalu ada, selalu nyata.


Cengkraman itu ia lepaskan dengan begitu kasar hingga memutar kepala Dara kesamping.


"Apa yang Mama inginkan dari ku?" tanyanya dengan menahan isakan pilunya.


Tak ada jawaban yang ia dapat dari sang mama. Wanita itu begitu misterius, sebarapa banyak rahasia kah yang disembunyikannya. Dara tak mendapatkan jawaban itu. Setiap kali Dara mencoba bertanya apa yang diinginkan mamanya, wanita itu selalu menghindar dan beranjak pergi. Sama hal yang ia lakukan saat ini, langkahnya mulai menjauh dan Dara hanya mampu melihat itu dengan tatapan terluka.


***


"Bagaimana kondisinya?"


Seseorang dengan setelan kemeja berwarna biru gelap yang dipasangkan dengan celana bahan berwarna hitam, beserta sepatu pentofel hitam mengkilap terpasang indah di kakinya. Lelaki itu kini berada tepat pada ruang yang bertuliskan ICU di rumah sakit ternama Ibu Kota dengan seorang dokter di depannya.


"Kemungkinan untuknya bertahan sangat tipis, tapi berdoa saja semoga ada keajaiban yang datang untuknya." Setelah mengatakan itu dokter itu pun berlalu. Tinggalah ia di sini, menatap seseorang di dalam sana yang masih bernapas karena pertolongan selang-selang kecil yang terpasang di tubuhnya.


"Dav, kau sudah hampir membayar lunas kesalahanmu!" Ferdi bergumam. "Tapi itu bukan berarti kau sudah bisa pergi dengan tenang. Masih ada tugas yang belum kau selesaikan, Dav!"


Dan setelah mengatakan itu, lelaki tersebut pun berjalan meninggalkan ruangan itu.


David Arseno, pria itu kini berada diambang keputusasaan. Mungkin hidupnya hanya berada pada ujung-ujung jarum yang tertancap pada nadinya.


Ah, tentang pria malang itu. Sudah hampir separuh dari umurnya ia bersembunyi dari rasa bersalah. Mendekam di balik dinginnya jeruji besi pun ia tak pernah merasa pantas untuk mendapatkan kata maaf.

__ADS_1


Dulu pria itu adalah seseorang yang penuh cinta. Namun sayangnya ia pernah dikhianati oleh orang yang paling dicintainya. Kemudian ia berubah menjadi seseorang yang tak lagi memiliki hati. Hidupnya ia hancurkan.


Berbagai hal buruk dan bahkan yang paling buruk pun ia kerjakan. Sampai pada ia menghancurkan hidup seorang gadis yang sama sekali tak tahu menahu tentang siapa dirinya. Ia laksana jelmaan makhluk dari dunia kegelapan yang dengan bringas memangsa gadis itu.


Dalam kondisi seburuk saat ini, ada satu hal yang selalu menjadi beban dalam dirinya. Kesalahannya dulu bukan hanya merusak hidup satu orang saja namun juga telah merusak hidup seseorang lagi.


Ia adalah sumber kesalahan itu, harusnya hanya ia yang pantas untuk dihukum. Tapi semesta sepertinya tak puas hanya menghukum dirinya saja, hingga seseorang yang sama sekali tak berdosa harus ikut menjalani hukuman atas kesalahan yang dibuatnya.


Setetes air mata jatuh dari sudut matanya. Air sebening embun itu perlahan menyusuri garis matanya hingga pecah di antara sudut telinganya.


Sebegitu besarkah penyesalan yang membebaninya, atau tak terampuni kah dosa masa lalunya.


Dan disisi lain wanita dewasa dengan sorot mata membunuh itu kini tubuhnya luruh pada sudut dinding yang dingin. Kulit putihnya semakin terlihat memutih dengan keringat dingin membanjiri kening hingga telapak tangannya.


"Tolong lepaskan aku ... lepaskan aku!" Ia terus berteriak memohon seolah kini ia berhadapan dengan monster yang siap menerkamnya.


Dan sejurus kemudian ia bangkit lalu mengambil sesuatu didekatnya. Sebatang tongkat bassball ia arahkan di depannya.


"Jangan mendekat! Atau aku akan membunuhmu!"


Kata itu ia ucapkan berkali-kali. Ia mengayunkan tongkat itu lalu mengenai vas bunga. Suara pecahan itu kemudian menarik seseorang untuk datang dan melihat apa yang sedang terjadi di dalam ruangan tersebut.


Prissa, menemukan Sang Nyonya dalam keadaan kacau. Gadis cantik dengan raut wajah datar tanpa emosi itu berlari memegangi Nyonya besar itu.


"Bu Laras, tenanglah!"


Ia memeluk wanita itu dari arah belakang. Laras yang terus memberontak membuat Prissa sedikit kuwalahan. Gadis itu pun mempererat pelukannya, "Bu Laras aku mohon tenanglah!"


Dengan penuh kesabaran Prissa membujuk Laras untuk tenang, sampai wanita itu akhirnya menyerah dan menjatuhkan tongkat bassballnya ke lantai.


"Bu Laras tidak apa-apa, ada aku di sini yang akan terus menjaga Ibu," tutur Prissa dengan lembut.


"Sekarang obatnya diminum dulu, Bu!" Prissa menyodorkan segelas air dan beberapa butir obat dari dalam laci meja.


Laras hanya menurut tanpa mengatakan apapun. Prissa memang sangat bisa diandalkan, gadis itu entah datang dari belahan dunia mana hingga bisa menjadi asisten sekaligus sekretaris dari seorang Larasati.


"Apa Ibu butuh sesuatu?" Prissa bertanya saat melihat Laras sudah cukup tenang.


Laras menggeleng.


Prissa kembali meletakan gelas itu di atas meja. Prissa menatap iba pada wanita yang semestinya sebaya dengan ibunya.


"Prissa...!" panggilnya dan perhatian Prissa tertuju pada apa yang akan disampaikan wanita itu. "Minta para bodyguard itu untuk melepaskan gadis itu!"


Prissa melesat keluar dari ruangan dan mencari keberadaan para bodyguard. Mata Prissa menangkap apa yang ia cari.


"Hei...Kau!" Prissa memanggil seseorang.


Dengan sedikit tergopoh lelaki itu menghampirinya, "Ada apa Mbak Prissa?"


"Cepat lepaskan Dara dari ruang bawah tanah." titahnya.


Dengan anggukan paham lelaki itu melangkah dengan cepat, meninggalkan Prissa yang selalu memasang wajah datarnya.

__ADS_1


Prissa kembali ke dalam untuk menemui bu Laras.


Bersambung...


__ADS_2