
Sunyi itu memang tak pernah bertepi. Sampai cahaya sang surya merenggut kegelapan malam. Semua yang terjadi benar berbanding terbalik. Sunyi itu, dingin itu dan kelam itu kini berganti bising yang memekakkan telinga beserta terang yang benderang menyilaukan mata.
Dari ribuan hari yang telah ia lalui sepanjang hidupnya mungkin ini adalah hari yang paling baik. Lihat saja mata yang mengerjap pelan namun sedikit menyentak itu menandakan bahwa semalam ia tidur dengan cukup pulas.
Kini giliran kedua tangannya yang terangkat membentang keudara, menggerakkannya kekiri dan kekanan secara bergantian, hingga menimbulkan bunyi patahan tulang yang sedikit menggelikan.
"Hai Nona...apa kau sudah bangun?"
Suara ketukan pintu disertai pertanyaan menyapa seseorang dari balik sana semakin meyakinkan dirinya bahwa kini ia benar berada pada dunia nyata, bukan mimpi indah yang sempat terlintas dipikirannya.
Seseorang seperti dirinya mana pernah merasakan lega bercampur puas saat terjaga dari malam dan kelam.
Setiap malam ia selalu diteror oleh mimpi buruk yang berakhir ia harus meringkuk pada sudut ruang yang gelap. Bersembunyi di sana dengan sebuah harapan mimpi itu tak akan bisa menemui keberadaannya. Bertahun-tahun ia lalui itu. Dan kini seperti menemukan pelita ditengah belantara, ia tak lagi merasa setakut dulu. Setidaknya ia telah menemukan setitik cahaya di dirinya sendiri. Asa itu masih ada dan ia akan menjemput bahagianya.
"Ya, aku aku sudah bangun!" jawabnya.
Setelah selesai dengan ritual di kamar mandi gadis cantik itu kini ikut duduk di meja makan bersama pemuda yang selalu berhasil memubuat hatinya jengkel. Tapi akhir-akhir ini justru pemuda itulah yang membawa iapada kehidupan yang sedikit berbeda.
"Suka nasi uduk nggak?" tanya pemuda itu.
Dara sedikit mengamati nasi putih yang telah dimasak menggunakan santan kelapa yang gurih itu beserta rempah daun-daunan yang harum menggoda. Makanan khas nusantara yang satu ini memang sangat menggoda iman. Belum lagi nasi tersebut disuguhkan bersama telur suwir yang tak kalah menguarkan aroma sedap dan ditambah sambal pedas manis dari olahan kedelai yang sudah mendapat sentuhan ragi hingga jadilah makanan itu bernama tempe.
Sebelum makanan itu mendarat kedalam mulutnya saja, Dara sudah menelan ludahnya terlebih dahulu. Bayangan lezat dan gurih sudah jelas berada di lidah gadis itu.
"Suka banget malah!" jawabnya sumeringah.
Bintang terkekeh, "Emang nggak takut gendut?"
Dara mencibir. Tangannya kini mulai menyendokan nasi gurih itu kedalam mulutnya. "Emang kalau gendut kenapa?"
"Ya biasanyakan cewek ribet!" Bintang beralasan, "nggak suka makanan berlemak, takut sama nasi apalagi pake santan!"
Cowok satu ini sepertinya sudah begitu hafal kalau soal perempuan. Dara sampai membulatkan matanya mendengar penuturan Bintang barusan.
"Ck, keliatan banget suka ngajak cewek makan!" sindir Dara.
Bintang tertawa. Rasanya Dara ingin melempar wajah tampan pemuda itu dengan samabal tempe di piringnya.
"Kayaknya kamu deh cewek terakhir yang bakal aku ajak makan bareng!" Bintang mulai dalam mode recehnya.
"Basi banget, Bin!"
__ADS_1
Bintang mendengus, "nggak percaya banget sih!"
"Percaya sama kamu sama kayak membebaskan dajjal."
Kali ini Bintang benar-benar tertwa. Puas sekal rasanya bisa membuat gadis kesayangannya itu kesal
***
Wanita dengan usia hampir menginjak 42 tahun. Ia begitu cantik dan beribawa. Wanita ini dingin, angkuh dan matanya yang seindah rembulan itu selalu menatap lawan didepannya dengan sorot kebencian dan mengintimidasi.
Siapa sangka wanita sempurna yang tak tersentuh satu ini memiliki kehidupan masa lalu yang teramat memilukan.
Waktu itu ia masih berumur 18 tahun. Dia satu-satunya pewaris dari keluarga Larasati. Gadis manis ini memang sudah ditempa sedemikian rupa oleh ayahnya agar pantas menjadi pewaris kerajaan bisnis yang dimiliki keluarga mereka.
Di usia yang semuda itu ia sudah diberi kepercayaan oleh ayahnya untuk mengolah salah satu hotel mereka yang saat itu tengah berkembang pesat.
Setiap harinya gadis itu datang ke hotel tersebut. Ia akan menghabiskan paginya berasama lemontea hangat tanpa gula dengan duduk manis pada bangku restaurant di lantai dasar gedung bertingkat itu.
"Pagi Mbak Laras!" Seseorang menyapanya.
Lelaki muda yang berumur kisaran 25 tahun. Namanya Ferdinand.
"Pagi juga, Mas Ferdi!" Ia balas menyapa.
Beberapa saat kemudian ia kembali lagi membawa semangkuk bubur ayam yang lezat ke meja Laras. Meletakan mangkuk itu didepan Laras yang asik mengotak-atik leptopnya.
"Sekali-kali sarapannya yang seperti ini!" ucap lelaki itu sambil menyodorkan mangkok berisi bubur tersebut.
Laras mengalihkan fokusnya dari laptop kearah lelaki itu. "Iya Mas, makasih!"
"Dimakan dulu deh, mumpung hangat!"
Laras menghentikan kegiatannya, lalu mengambil mangkok bubur ayam itu. Aroma gurih dari makanan itu memang sangat menggiurkan.
"Boleh tambah sambelnya lagi nggak mas?" pinta Laras.
"Nggak boleh, jangan terlalu pedes nanti sakit perut!"
Laras mencebikan bibirnya. Gadis itu mulai memasukan makanan dengan tekstur lembut itu kemulutnya.
"Tapi ini kurang seru Mas Ferdi!" protesnya lagi, "nggak ada pedes-pedesnya tuh nggak enak."
__ADS_1
Ferdi tak mengindahkan permintaan gadis pemilik hotel tempat ia bekerja ini. Ia kembali kedalam dapur sambil menggelengkan kepalanya dengan senyum manis dibibirnya.
Laras selalu mendapatkan apa yang ia mau. Hanya sesendok sambal untuk pelengkap makannya masa ia tak bisa mendapatkan itu. Mustahil rasanya.
Laras mengekor Ferdi kedalam dapur. Lelaki itu terkejut saat Laras merampas mangkok sambal yang ia pegang.
"Astaga Mbak...!"pekiknya terkejut.
Laras nyengir, memperlihatkan deretan giginya yang putih dan rapi.
"Sorry!" ucapnya yang kemudian melengos pergi.
Lelaki itu memang sangat manis, lembut dan baik hati. Ia hanya tersenyum saat Laras membawa pergi mangkok itu tanpa permisi.
Mengabaikan gadis yang kembali sibuk memakan bubur ayam lezat dengan ekstra cabe rawit itu ia kembali memulai pekerjaannya.
"Mas Ferdi...makasih ya bubur ayamnya! Enak banget."
Ferdi mengangguk. Fokusnya masih pada sesuatu yang ia masak. Pesanan makanan untuk tamu hotel. Laras memperhatikan Ferdi yang begitu cekatan dalam mengolah bahan-bahan makanan. Bahkan Laras sendiri tak pernah tau apa nama bahan-bahan makanan itu.
"Boleh nggak aku dibikinin lemontea satu gelas lagi?"
Ferdi menoleh, "Jangan!" tolaknya.
"Lah kenapa?"
"Sehari cukup secangkir aja!"
"Tapi aku masih pengen Mas, kali ini pakai gula!" Ia membujuk chef itu. "Pedes loh Mas ini...abis makan bubur ayam tadi."
"Siapa suruh cabenya ditambah?" Ferdi masih menolak.
"Kok pelit sih Mas?"
Ferdi tertawa. Gemas sekali melihat gadis cantik itu merajuk. Laras menghentakan kakinya kesal sebelum ia keluar dari dapur itu. Tapi tiba-tiba Ferdi mencekal pergelangan tangannya.
"Iya...aku bikinin tapi tunggu sebentar ya!" Akhirnya pemuda itu memilih mengalah. Hanya secangkir lemontea tak akan membuat ia repot. Akan lebih repot jika gadis pemilik hotel ini merajuk nantinya.
Bersambung...
Heii...hei...heiii.... Kita flashback dulu ya ke masa lalunya mama Laras. Kira-kira seburuk apa sih kehidupan dimasa lalu mama Laras?
__ADS_1
Yuk ikutin terus cerita ini bersama author!!