Langit Dan Bintang

Langit Dan Bintang
Ancaman


__ADS_3

Jam sudah menunjuk pada angka 12 siang. Seorang gadis dengan apron yang terpasang indah di tubuhnya masih berkutat dengan mixer, tepung, telur dan bahan-bahan kue lainnya.


Harusnya gadis ini sudah menyelesaikan pekerjaannya sejak kemaren. Tapi berhubung ada makhluk yang sangat menyebalkan itu mengganggunya jadi terpaksa ia harus menunda pekerjaannya. Nyonya Charly akan melangsungkan acara ulang tahun perkawinannya malam ini, jadi ia harus menyelesaikan pesanan kue ulang tahun itu segera. Semoga makhluk pengganggu itu tidak muncul hari ini. Doa Dara.


Tapi nampaknya Tuhan memang Maha baik. Belum beberapa menit doa indah itu ia kumandangkan tapi sosok tinggi nan tampan itu justru sudah menampakan rupanya di balik pintu dapur.


Sial.


Satu senyum yang begitu menawan menghias wajah lelaki muda ini. Biasanya kaum hawa akan merasa dunia mereka jungkir balik saat melihat senyuman itu. Tapi wanita satu ini memang benar-benar berbeda. Senyum itu sama sekali tak menarik perhatiannya.


"Mau apa lagi sih?" kesal Dara pada pemuda itu.


" Mau ngajak makan siang bareng!" jawabnya santai.


Dara tidak peduli. Ia masih sibuk dengan mesin pembuat kue yang terus mendengung itu di tangannya. Sesekali ia nampak kerepotan saat satu tangannya harus menggapai bahan lain untuk ia campurkan kedalam adonan kuenya. Semua gerak-gerik Dara itu tak luput dari perhatian Bintang.


"Perlu bantuan?" Bintang menwarkan diri.


"Enggak perlu. Makasih!" jawabnya ketus.


"Galak amat!"


Bintang mencebik. "Tapi makin cantik sih!"


Bukannya tersipu mendengar pujian seperti itu, Dara justru merasa semakin kesal.


"Kau benar-benar tidak punya pekerjaan lain, selain dari menggangguku?"


Bintang mengedikan bahunya. Dia mengambil dan membuka tutup botol pasta berwarna biru dan menyodorkan itu kepada Dara. Gadis itu menerimanya tanpa protes. Sepertinya Dara memang butuh bantuan itu karena sebelah tangannya masih sibuk dengan adonan kue yang hampir selesai di mixer.

__ADS_1


"Masih lama nggak selesainya?"


Dara menatap Bintang sekilas lalu fokusnya kembali lagi ke adonan kuenya.


"Kalau mau pergi ya pergi aja! siapa juga yang suruh di sini!"


"Aku kan cuma nanya, masih lama apa enggak? bukan mau pergi!" Bintang mencebikan bibirnya.


Ck. Dara semakin kesal saja dengan lelaki ini.


"Mbak Dara?"


Suara Siska dari ambang pintu mengalihkan perhatian Dara dan Bintang. Siska menatap Dara dengan raut gelisah. Sepasang matanya yang bulat indah itu bergerak takut. Gadis dengan seragam barista itu memajukan langkahnya pelan ke arah Dara.


"Ada Ibu Laras di depan Mbak!" ucap Siska ragu.


...****************...


Bintang menggenggam telapak tangan Dara, membawa gadis itu kembali pada dunia nyata setelah beberapa waktu lalu ia berada dalam dunia fantasi yang cukup menegangkan dan mungkin bahkan mengerikan.


Gadis mungil nan cantik itu terhenyak. Mata yang seindah rembulan itu menatap lelah ke arah Bintang. Bukan. Kali ini bukan lelah karena Bintang tapi karena Laras, wanita yang menjelma sebagai ibunya. Sebelum wanita itu pergi, ia sempat mengancam Dara tadi.


"Nanti malam kau harus datang menghadiri pertemuan penting itu. Aku butuh tanda tanganmu."


Tanpa basa-basi wanita itu langsung memberi titah kepada Dara. Bahkan belum sempat Dara menyapa apalagi mempersilahkan ia duduk.


"Duduk dulu Ma!" ajak Dara pada Laras dan langsung mendapat penolakan dari wanita itu.


Ia berdecih dengan sombong, matanya yang tajam itu menjelajahi seisi ruangan tempat Dara bekerja. Terlihat sekali wanita itu meremehkan kafe milik anak gadisnya ini. Ya Dara memang anak gadisnya, harusnya ia bangga dengan apa yang di miliki Dara saat ini. Tapi apa yang dia lakukan? Bahkan ia sama sekali tidak peduli.

__ADS_1


"Kau mengajakku duduk di situ? atau... di situ?" tunjuknya dengan nada jijik. "Bahkan aku tidak sudi berlama-lama di sini."


Dara menundukkan kepalanya. Setengah mati ia menahan air matanya agar tak jatuh. Dadanya sudah bergemuruh, bukan karena marah namun karena iba. Betapa malang dirinya atas takdir Tuhan yang menjadikan wanita ini sebagai ibunya.


Andai saja ia bisa melawan, sudah pasti ia akan membalas setiap kata yang di lontarkan wanita itu. Tapi dia Dara, gadis dengan sejuta kebaikan di hatinya.


Dulu papanya menasehatinya tentang bagaimana bersikap terhadap orang tua. Bahwa Dara tidak boleh melawan terhadap orang tua, jangan berkata kasar dan harus selalu memberi maaf.


"Kau masih ingat dengan ucapanku semalam, bukan?" Wanita itu kembali bersuara dan hanya di jawab anggukan dari Dara.


"Kalau begitu, aku beri kau waktu satu bulan. Dan setelah itu kau harus menjalankan perintahku."


Dara kembali mengangguk tanpa sepatah katapun. Kepalanya masih tertunduk layaknya pelayan istana yang mendapat titah dari Sang Raja. Tanpa suara, tanpa bantahan.


"Ingat konsekwensinya jika kau menolak!"


Dan wanita itu pun segera beranjak, meninggalkan Dara yang terus menunduk. Bahkan setelah wanita itu pergi Dara masih enggan mengangkat kepalanya. Semua perasaan kini bercampur aduk di hati dan kepalanya. Hatinya terasa begitu sakit. Air mata yang ia tahan akhirnya mendobrak keluar. Ia menghapus air mata itu dengan punggung tangannya. Dara tak peduli dengan tatapan banyak orang. Mulai dari para pengunjung kafe sampai ke para barista di sana. Saat ini ia hanya ingin menangis. Menumpahkan semua perasaannya yang entah seperti apa.


Sedangkan di ujung sana Bintang menatap gadis kesayangannya tengah menunduk. Pasti gadis itu sedang menangis. Semua kejadian beberapa saat lalu disaksikan langsung oleh Bintang. Lelaki itu bukan tidak bisa melindungi Dara, tapi ia hanya belum bisa melampaui batasannya. Dara bukan gadis biasa, dia gadis yang kuat. Dara tidak akan senang jika di bela, apalagi itu dirinya. Hubungannya dengan Dara tidaklah dikatakan baik, gadis itu selalu menolak kehadirannya. Jadi tidak mungkin ia akan menjadi pahlawan kesiangan, bukan?.


"Later, one day I will be the one who will protect you from anything and from anyone who tries to hurt you." (Nanti, suatu saat akulah orang yang akan menjadi pelindung untuk dirimu dari apapun dan dari siapapun yang mencoba menyakitimu.)


Bintang akhirnya memutuskan berjalan menghampiri Dara. Bukan untuk mengambil kesempatan namun ia lebih bersimpati kepada gadis itu. Dia bukan laki-laki pengecut yang mencari keuntungan dari kesempatan yang ada. Saat ini Dara tidak butuh gombalannya, yang di butuhkan Dara adalah seorang teman yang bisa menggenggam tangannya. Dan Bintang akan melakukan itu untuk Dara.


...****************...


**Bersambung...


(Aku tuh mau ngasi visual, tapi belum nemu yang cocok. Nanti ya, tak liat-liat dulu yang oke dan kece😍**.)

__ADS_1


__ADS_2