Langit Dan Bintang

Langit Dan Bintang
Ferdy, "My Little Girl"


__ADS_3

Lihatlah bagaimana semesta mengajakmu bercanda. Bagaimana ia membuatmu tertawa lalu menangis secara bersamaan. Lihatlah bagaimana cara kau menghadapi badai yang tiba-tiba menerpa. Rasa sakitmu, kecewamu dan bencimu adalah bentuk emosi yang juga semesta anugrahkan padamu.


Detik yang terus beranjak pun kini tak kau hiraukan lagi. Kau telah terlena dengan rasa sakitmu. Dan rasa kecewamu itu kini mulai menyemaikan benih-benih dendam yang kemudian tumbuh menyemarakkan kebencian. Lantas yang akan kau tuai kelak hanyalah sesal yang kembali menyakitimu lagi.


***


Dalam ruangan yang hanya berhiaskan cahaya remang kemerahan itu nyaris tak memeperlihatkan sesosok manusia yang tengah duduk pada bingkai kaca jendela kamarnya. Jendela itu sengaja ia buka selebar mungkin agar sesak yang menghimpit aliran napasnya sedikit lega. Namun kenyataannya, rasa sesak itu selalu menjadi pemenang dalam menguasai hidupnya. Bahkan dunia yang terbentang lebar inipun tak mampu menghilangkan sesak itu.


Ia mengalihkan tatapannya yang semula menerawang pada langit kelam kini berganti kepada benda kecil yang menyala di ujungnya. Ia menghisap benda bernikotine itu dengan dalam lalu ia mengambungkan asapnya ke udara. Benda itulah yang selalu menjadi teman baiknya setelah gadis kecil bermata seindah rembulan yang teramat dicintainya ia lepaskan dari hidupnya. Gadis kecil itu kini telah tumbuh menjadi gadis muda yang cantik, dengan sorot mata tajam namun tetap indah bagai sinar rembulan.


Ferdi menyunggingkan bibirnya. Senyum getir itu ia tujukan untuk mengejek dirinya sendiri. Betapa bodohnya ia dulu, betapa tidak bergunanya ia dan betapa naif dirinya ingin terus mencintai wanita yang telah ia hancurkan hidupnya.


"Maaf Laras! Maaf untuk segalanya." Itulah mantra yang selalu ia ucapkan di setiap malamnya.


Ia kembali menghisap sisa sigaret itu dengan tenang. Dulu bahkan ia tak pernah menyentuh benda terlarang itu. Namun setelah ia kehilangan segala yang dicintainya ia bahkan tak pernah ingin mencintai dirinya sendiri.


Setelah hisapan terakhirnya pada benda yang terselip di jarinya itu ia segera beranjak dari tempat yang paling nyaman yang ada di rumah itu.


Ferdi mengambil smartphone yang tergeletak di atas nakas. Menyalakan benda tersebut hingga sinar kebiruan dari benda itu memperlihatkan wajahnya yang tetap tampan dalam usianya yang matang. Seperti istilah, 'Life Begins at Forty'.


"Ya hallo!" Sapa seseorang di seberang sana.


"Kau di mana?" tanyanya spontan.


"Masih di rumah sakit. Ada apa?"


"Bisa kita bertemu?"


"Hei ini sudah terlalu larut...lebih baik besok saja!" tolak seseorang itu.


Ferdi mendengus kesal tapi setelahnya ia pasrah, "Oke."


Dengan langkah gontai ia berjalan keluar dari rumahnya menuju kearah sedan biru metalik yang terparkir cantik di tengah halaman.


Ia mengendarai kendaraan itu, membelah jalan ibu kota yang lengang. Tujuannya hanya satu, rumah lamanya.


Semenjak ia kembali ke negeri ini, setelah hampir sebelas tahun ia hidup di negeri orang, ini pertama kalinya ia mengunjungi rumah yang pernah ia tempati dulu.


Bayangan masa kecil putri tercintanya langsung memenuhi pandangan sejak ia mulai memasuki halaman rumah usang itu.


Dulu ketika ia pulang dari bekerja ia langsung disambut oleh tangan mungil dan suara melengking dari anaknya.

__ADS_1


"Papa!" Teriakan itu masih terngiang nyata dan Ferdi mulai mengedarkan pandangannya seolah tengah mencari-cari suara itu. Namun yang ia dapatkan hanya sunyi dan kelam.


Langkahnya berhenti kala ia telah sampai di dalam rumah, ia mencari letak saklar lampu pada dinding lantas menyalakannya.


Bayangan putrinya yang asik bermain di ruang tengah itu kembali mengisi penglihatannya. Gadis manis itu biasanya langsung berlari ke dalam gendongannya, mencium pipinya bertubi-tubi, lalu ia turun lagi dan kembali lagi memainkan mainannya. Mengabaikan sang papa yang bahkan masih syok mendapat perlakuan manis itu.


"Apa cuma begitu caramu menyambut, Papa?" tanya Ferdi yang sok merajuk.


Dara kecil mengalihkan perhatiannya dari pisau mainan yang ia tekan pada kue cantik yang ia bentuk dari playgoun, seolah-olah ia tengah memotong kue itu sungguhan.


"Waw...Rara buat kue baru lagi?" Dara mengangguk, "apa namanya?" lanjut Ferdi bertanya.


"'Lemon and Almond Sponge Cake'."


"'Lemon and Almond Sponge Cake'!" Ferdi membeo.


Mengingat lemon dan segala macam yang menyangkut buah dengan rasa unik itu Ferdi pun mengingat seseorang. Ya, seseorang yang telah hancur dan kehancuran itu disebabkan olehnya.


"Apa Rara mau coba buat kue cantik itu sungguhan?" Tawar Ferdi pada putri kecilnya dan gadis itupun mengangguk penuh binar.


"Tapi dengan syarat!"


"Hei...syaratnya mudah kok!"


"Apa?"


"Kau harus siap membereskan segala kekacauan yang ada di dapur nanti." Ferdi menaik-naikan alisnya menggoda.


"Hei...kita akan membuat kue Pa, bukan berperang!" protes Dara.


Ferdi tertawa, "Kita lihat saja nanti 'my little girl'! ucap Ferdi sambil berlalu.


***


"Tugasmu cuci piring, lalu menyapu dan mengepel...setelah itu kau bersihkan kompor dan meja pantri."


"Hah?"


"Dilarang protes!"


"Papa seperti ibu tiri...menyebalkan!"

__ADS_1


Ferdi tak bisa lagi menahan tawanya. Putri kecilnya itu sungguh menggemaskan. Bibir mengerucut maju di tambah dengan tatapan membunuh yang membuat lelaki itu semakin mencintai putrinya.


"Kau tau apa soal ibu tiri?"


"Seperti yang Papa lakukan," jawabnya cepat. "Menyuruhku melakukan semua pekerjaan...dan aku tau semua itu dari serial di TV." Akunya.


Ferdi semakin tertawa dan niat untuk menjahili putrinya semakin bertambah.


"Papa tidak menyuruhmu melakukan semua hal, hanya mencuci piring, menyapu, mengepel dan lain-lain!"


"Lalu...tugas Papa apa?"


Ferdi pura-pura berpikir. Padahal di dalam hati ia ingin sekali tertawa tebahak-bahak saat itu.


"Hm...tugas Papa...duduk di depan televisi sambil memakan kue lezat ini!" ucap Ferdi sambil mengangkat piring yang berisi kue yang mereka buat tadi.


Dan benar saja, gadis kecil itu melotot tak terima. "Hei...Papa macam apa kau ini?Benar-benar menyebalkan."


Ferdi meledakan tawanya. Ia pun segera beranjak dari sang putri yang melototkan mata seperti akan membunuhnya.


"Jangan sering-sering melototkan matamu seperti itu! Tak akan ada laki-laki yang bisa jatuh cinta padamu nanti!" Ferdi tak bisa berhenti menggoda putrinya.


Dara yang mendengar itu semakin melebarkan matanya, sungguh ia ingin mencakar wajah tampan papanya itu.


"Kau salah, Pa! Justru nanti lelaki itu akan jatuh cinta karena tatapan membunuhku ini." Dara menjawab sambil mengekor sang Papa ke ruang tengah.


Ferdi tersenyum, "Kalau itu benar, kau jangan melepaskan pria malang itu nanti."


"Papa...!" Teriak Dara tak terima dan disambut tawa nyaring dari sang Papa.


Ferdi tersentak dari lamunan panjang tentang putri kecilnya saat tiba-tiba ponsel yang berada di saku jelana bahannya berbunyi. Pria itu langsung megambil benda itu dan menjawab panggilan yang tertera di sana.


"Ya?"


"Pak Ferdi, pak David kembali kritis!" ucap seseorang di seberang sana.


Ferdi tak mengatakan apapun atas apa yang disampaikan orang tersebut. Lelaki itu bergeming, wajahnya terlihat datar. Namun ada satu kalimat yang terucap dari bibirnya.


"Sudah waktunya kau menyerah, Dav!"


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2