
"Maaf nyonya Charly, aku tidak bisa menghadiri acara anniversary Anda dan Suami!"
Dara sudah meletakan kue ulang tahun pesanan Nyonya Charly ke atas meja yang sudah disediakan di sana. Dara cukup proposional dalam menjalankan pekerjaannya. Meskipun tadi siang ia lewati dengan sangat berat dan menyesakan namun ia ingat dengan pekerjaan yang belum ia selesai. Maka dari itu Dara memutuskan menyelesaikan pekerjaannya terlebih dahulu. Meskipun tadi pekerjaan itu sudah diserahkan nya kepada Siska namun tanggungjawab atas pekerjaan itu adalah miliknya. Jadi Dara tidak akan melimpahkan semua itu kepada orang lain sepenuhnya.
"Memangnya kau mau kemana?" Nyonya Charly nampak kecewa saat menanyakan hal itu.
Dara tersenyum dan mengambil telapak tangan wanita paruh baya itu untuk ia genggam. "Mama mengajakku menghadiri pertemuan dengan rekan bisnisnya!" jelas Dara dengan lembut. " Dan aku harus hadir dalam pertemuan itu."
Nyonya Charly mengangguk-anggukan kepalanya tanda mengerti.
"Memangnya kau sudah baikan dengan ibumu itu?"
Dara tidak menjawab. Nyonya Charly paham itu. Dia juga tau jika Dara tidak memiliki hubungan yang baik dengan Mamanya. Pernah sekali Nyonya Charly melihat sikap Laras yang begitu kasar terhadap Dara. Wanita itu tidak pernah mengenal tempat jika ia ingin menyakiti Dara.
"Ya sudah, kau hati-hatilah dengan ibumu itu! aku sangat tidak suka dengan caranya memperlakukanmu."
Dara tersenyum. Ia mengecup pipi perempuan itu. Sungguh Nyonya Charly begitu baik padanya. Di saat ibu kandungnya begitu membencinya Tuhan mengirimkan wanita ini bersamanya.
"Selamat ulang tahun perkawinan ya, semoga kalian selalu bahagia!" ucapnya tulus, "aku mencintaimu." Dan satu kecupan lagi mendarat di pipi yang hampir tua itu.
"Iya. Terima kasih! Kau cepatlah menikah."
Dara tertawa mendengar ucapan itu. "Iya nanti kalau ada Tuan muda tampan dan kaya yang mau denganku!" candanya.
Hal itu membuat Nyonya Charly mencubit pipinya gemas, "kau ini!"
...****************...
Seorang gadis dengan anggunnya menuruni satu persatu anak tangga pada rumah besar dan mewah ini. Ia begitu cantik, begitu sempurna. Sinar matanya seindah rembulan, senyumnya menawan hati setiap yang melihat. Sekalipun ia adalah anak dari pemilik rumah mewah ini, bahkan ia tak pernah merasa menjadi seorang putri di rumah ini. Di sini ia hanyalah seorang anak yang tak dicintai, tak diharapkan dan tak dianggap ada. Kehadirannya hanyalah figuran. Ia hanya menjadi topeng untuk menutup rupa Sang Mama yang buruk.
__ADS_1
Ya buruk. Bolehlah ia mengatakan hal semacam itu untuk mengurangi rasa sakit di hatinya. Bahwa kenyataannya wanita itu memanglah bukan wanita yang baik.
"Aku sudah siap Ma!" ucap Dara di depan mamanya.
Wanita itu meneliti penampilan Dara. Wajahnya terlihat datar tanpa ekspresi dan kemudian ia berjalan meninggalkan Dara begitu saja. Dara mengikuti wanita itu keluar menuju mobilnya. Dara pun berjalan ke arah mobilnya sendiri. Wanita itu pasti tidak akan sudi berada dalam satu mobil bersamanya, pikir Dara.
Sopir sudah membukakan pintu mobil untuk Laras. Sebelum naik kedalam mobilnya yang mahal itu ia menoleh ke arah Dara yang baru akan membuka pintu mobilnya sendiri.
"Kau tak perlu membawa mobil bututmu itu!"
Dara menghentikan geraknya dan segera berjalan menuju mobil sang mama. Ia tahu maksud perempuan itu, lebih baik ia segera menuju wanita itu sebelum kata-kata yang lebih menyakitkan terlontar dari mulut nyonya besar itu. Dara sudah lelah, ia sudah tak memiliki tenaga lagi untuk menerima cercaan mamanya.
Di langit yang sama pada kota yang sama, namun dua kehidupan begitu berbeda. Langit dan Bintang nampak begitu asik menikmati makan malam mereka. Rumah ini terasa begitu hangat. Dua anak kembar ini hidup bergelimang kasih dari orang-orang di sekitarnya.
Wajah tampan dan otak jenius adalah bonus nyata yang digariskan Tuhan untuk keduanya.
Kekayaan keluarga mereka pun tak perlu diragukan.
Bintang mengangkat kepalanya melihat ke arah langit. "Memangnya kenapa?"
Sebelum menjawab Langit melihat kepada setiap orang yang sedang menikmati makan malam mereka. Di sana ada Nathan, papa mereka. Ada Sang Mama yang terlihat fokus dengan makanan di depannya dan ada Oma yang sepertinya juga ikut menunggu jawaban dari Langit.
"Aku ingin kau memantau hotel kita yang ada di pusat kota malam ini!"
"Kau mencurigai seseorang?" selidik Bintang.
"Ya. Sepertinya orang ini sangat berambisi untuk menghancurkan perusahaan kita."
Langit melirik ke arah papanya kemudian lanjut berkata, "Malam ini mereka mengadakan pertemuan dengan para investor asing untuk memperkuat koneksi mereka dan pertemuan itu di hotel kita."
__ADS_1
"Mereka sengaja mengadakan pertemuan itu di hotel kita karena mereka pikir bersembunyi di kandang musuh dapat mengecoh lawan."
Bintang yang mendengar itu hanya tersenyum miring. Otak cerdasnya langsung menangkap apa yang terjadi dan ia tau apa yang harus dilakukan.
"Baiklah. Aku akan mengurus mereka malam ini."
...****************...
Gadis itu terpaku di tempatnya berdiri dengan kepala yang menunduk. Sedangkan wanita dihadapannya kini tengah menatapnya dengan sorot mata penuh amarah. Tangannya terkepal kuat hingga terlihat buku-buku jarinya yang mengencang.
Wanita itu maju selangkah untuk bisa menggapai gadis dihadapannya. Dan gadis itu sepertinya sudah tau apa yang akan terjadi selanjutnya.
Plak.
Benar saja satu tamparan mendarat di pipinya dan disusul dengan cengkraman kuat pada dua sisi pipinya.
"Kau mengacaukan semuanya. Kau harus terima hukuman dariku." Ucap wanita itu penuh amarah dan setiap kata yang diucapkannya penuh penekanan.
Air mata gadis itu mulai merebak membasahi seluruh wajahnya. Cengkraman itu begitu menyakitkan dan juga hatinya. Selalu hati itu merasakan lebih sakit atas perlakuan wanita ini.
Bintang menghentikan langkahnya saat melihat seseorang yang sangat ia kenal tengah mendapat tamparan di wajahnya. Gadis yang teramat dicintainya kembali disakiti oleh orang yang sama, dan Bintang benci melihat itu.
Mulai hari ini, Bintang bersumpah tidak akan membiarkan siapapun menyakiti Dara.
"Jangan menyentuhnya lagi!" Bintang datang dan menarik tangan Laras dari pipi Dara.
Tentu saja Laras tak suka akan hal itu. Siapa pria ini yang begitu lancang menyentuh tangannya yang berharga. Berani-berani nya pemuda itu melarang atas apa yang dia lakukan. See, Laras mulai meneliti lelaki yang ada di depannya saat ini. Senyum sinis tersungging di bibirnya. Wajah sombong dan arogan itu semakin terlihat meremehkan lawan di depannya.
Tanpa sepatah kata pun ia berbalik dan meninggalkan Dara yang masih menunduk dan juga meninggalkan Bintang yang ikut mematung di sana. Sebelum ia benar-benar sampai pada pintu lobi, ia menoleh. Matanya tertuju pada Bintang. Selalu senyum meremehkan itu menjadi senjata andalannya untuk menjatuhkan lawan dan kali ini lawannya adalah Bintang.
__ADS_1
"Sebaiknya Kau jauhi gadis tak berguna itu!" Ia memperingatkan Bintang. Kemudian Ia kembali melangkah, meninggalkan gedung bertingkat ini.
Bersambung...