Langit Dan Bintang

Langit Dan Bintang
Tentang Dara


__ADS_3

Langit tiba-tiba merasa ada yang salah pada dirinya. Tatapan tajam dari gadis yang berada di antrian kasir disebelahnya membuat langit merasa ada yang tak beres. Why? tatapan gadis itu seakan ingin menerkamnya.


Langit mencoba mengabaikan gadis tersebut. Namun matanya sama sekali tak bisa diajak bekerja sama. Beberapa kali ia mencuri pandang pada gadis itu, namun hasilnya tetap sama, gadis itu menatapnya tajam.


Tanpa mempedulikan gadis yang tak ia kenal tersebut namun seperti sudah bermusuhan puluhan tahun dengannya, Langit lantas segera membayar minuman yang ada di tangannya. Mengeluarkan uang pecahan lima puluh ribu kepada kasir di depannya dan ia pun segera pergi dari tempat itu.


...****************...


Di sinilah Dara saat ini berada. Duduk manis di bawah rindangnya pohon flamboyan yang tengah bersemi. Bunga-bunga cantik dengan warna merah pinang itu kini tengah menjatuhkan kelopak-kelopaknya ke tanah. Tak cukup sampai di situ, daun-daunnya yang kecil itu pun ikut melayang oleh tiupan angin petang. Dara memejamkan matanya sejenak sambil menarik napasnya dalam. Ia biarkan angin menerpa kulit wajahnya. Sangat menenangkan. Angin seakan membawa seluruh beban di hidupnya, menerbangkan seluruh kenangannya di masa lalu. Untuk beberapa saat Dara membiarkan angin membelai mesra wajah dan rambutnya, seakan yang sedang membelainya saat ini adalah ayahnya.


Papa!


Dara bergumam dan detik itu juga ia membuka matanya kembali.


Mengingat masa lalunya bersama sang ayah selalu membuat ia takut untuk memejamkan matanya. Kenangan buruk tentang papanya selalu bergulung di dalam ingatan gadis cantik ini.


Dimana hari itu, ia yang baru menginjak remaja harus terluka dengan kenyataan bahwa ayah yang selama ini mencintainya tanpa syarat ternyata bukanlah ayah kandungnya. Lelaki yang menjadi cinta pertamanya itu dengan tega meninggalkannya pada seorang perempuan yang angkuh dan arogan.


Dara benci jika ia harus mengingat perempuan itu adalah ibu kandungnya. Bahkan perempuan itu tak layak menjadi ibu bagi siapa pun.


Dalam keheningan petang, setumpuk beban terus berkecamuk didalam hati gadis cantik ini. Terkadang mengingat masa lalu bukanlah sesuatu yang baik. Biarkan masa lalu itu berdebu, tak perlu menjenguknya atau mencoba membersihkannya. Karena hanya akan mengotori hati dan jalan hidup yang sekarang.

__ADS_1


Dara merasa sudah cukup untuknya menyendiri hari ini. Sebenarnya ia tadi ingin menghindar dari si menyebalkan itu, lelaki tak tau malu yang selalu menguntitnya. Tapi ternyata ia malah terjebak di sini. Terjebak dengan masa lalunya yang ternyata lebih buruk dari pada bertemu Bintang.


Ah, mengingat Bintang! Dara merasa ingin membunuh lelaki itu saja.


Angin masih terus bersemilir, seakan ikut mengantarkan langkah gadis cantik itu untuk pulang.


Dara sudah akan membuka pintu mobilnya, namun berhenti saat matanya menangkap sosok yang sangat ia kenal.


"Papa?"


Mata indahnya kini mulai berkaca-kaca. Sosok yang di seberang sana rupanya juga ikut menatap ke arahnya. Dara segera berlari untuk mengejar pria paruh baya itu namun lagi-lagi kakinya berhenti. Laki-laki itu seakan acuh dan berbalik meninggalkan Dara yang terdiam di tengah taman kota yang mulai ramai. Lalu lalang manusia di sekitarnya tak ia hiraukan, pikirannya terus tertuju pada sosok yang kian menjauh di ujung sana. Lelaki itu kini telah berubah. Tak lagi mengenalnya atau memang sengaja tak ingin bertemu dengannya. Hati dara kembali hancur, ia masih sangat mengenal lelaki itu adalah ayahnya dan selamanya akan tetap menjadi ayahnya.


"Kenapa?" Hanya satu kata itu yang mampu ia tanyakan. Entah pada siapa pertanyaan itu ia tujukan, dan entah jawaban seperti apa pula yang ia harapkan.


...****************...


"Dari mana kamu?" Pertanyaan itu menyambut kedatangannya.


Tidak ada nada lembut di sana yang ada justru senyum sinis yang menyertai pertanyaan itu. Sudah biasa untuk gadis mungil ini menerima perlakuan seperti itu. Dara menunduk kan kepalanya, enggan menatap wanita di depannya saat ini.


"Untuk kesekian kalinya aku memintamu, berhenti dari profesi mu yang tidak berguna itu! atau aku sendiri yang akan menghentikanmu?"

__ADS_1


Dara masih bergeming, kepalanya tetap menunduk. Gadis ini berubah 180° saat berhadapan dengan wanita itu. Jika di luar sana ia terlihat seperti gadis yang kuat dengan sorot mata yang tajam, suara yang tegas dan sulit untuk di bantah. Namun berbanding terbalik saat ia berada di rumah dan berhadapan dengan wanita satu ini. Dara begitu lemah dan seakan merelakan dirinya terus terintimidasi oleh wanita itu. Tidak ada Dara yang galak, apalagi membantah seperti yang sering ia lakukan pada Bintang.


"Apa kau mengerti apa yang aku mau?" Wanita itu kembali bersuara.


Dara masih diam seribu bahasa. Sampai ia merasa sesuatu mencengkram kuat rahangnya. Wanita itu mengangkat kepala Dara dengan mencengkram dua sisi pipinya dan menengadahkan kepalanya.


Air mata Dara kembali menitik. Sebenarnya ia sangat membenci semua ini. Mengapa ia begitu lemah? kenapa Tuhan mengirim wanita ini di dalam hidupnya?


"Jangan tunjukan air mata ini padaku! aku tidak akan terpengaruh. Karena aku membenci mu!"


Setelah kata-kata itu keluar ia segera berlalu. Kini tinggallah Dara dan segala kehancurannya. Hatinya begitu sakit. Luka yang di torehkan wanita itu begitu dalam. Dara terisak, bukan karena pipinya yang merah dan sakit akibat cengkraman tadi namun kata benci yang wanita itu ucapkan. Itu bahkan lebih menyakitkan dari sebuah tamparan.


Dara segera berlari memasuki kamarnya. Ruang persegi ini selalu menjadi saksi bisu penderitaan hidup Dara. Belasan tahun ia terkurung dalam sangkar emas milik ibunya. Kapan ia bisa bebas? siapa yang bisa membebaskannya?


Akankah ada pangeran berkuda yang akan menyelamatkannya?


Konyol.


Ini bukan dongeng. Ini realita yang ia jalani. Ini takdir Tuhan untuk hidupnya.


...****************...

__ADS_1


Bersambung.....


__ADS_2