
**Aku melihat satu kisah dari sepasang mata yang basah
Goresan hati pada suara angin
Suara kekecewaan dan belahan jiwa yang pergi
Aku pandangi sebuah hati yang berjuang
Yang telah bosan untuk menjadi lemah
Yang telah lelah memahami dan mengerti
Yang bangkit dari bingung dan berjuta tanya
Yang berdiri tegak dan melanjutkan jalan cintanya**
(King'CintaTanpaLoved)
***
Gadis itu mengerjap pelan saat cahaya mentari menyapanya lewat celah jendela. Nyanyian burung bersahutan serupa mengajak ia menari. Tapi gadis itu masih tampak bingung dengan apa yang terjadi saat ini. Rumah ini? Kenapa bisa?
Ah, ia baru ingat. Semalam, setelah wanita yang menjelma sebagai ibunya itu berhasil memporak-porandakan perasaannya dan mengacak-acak raganya, ia melarikan diri ke tempat ini.
Dari posisi yang berbaring, ia duduk dengan menekuk kedua kakinya dan menyembunyikan wajahnya di antara dua lututnya. Tanpa ia sadari seseorang mengamati tingkahnya yang dramatis itu.
Menyedihkan?
Memang. Gadis ini sepertinya terlahir untuk memerankan kesedihan. Tapi percayalah seburuk apapun kesedihan itu, ia selalu mengajarkan kita arti dari sebuah kebahagiaan. Kita tak akan pernah tahu akan senikmat apa bahagia tanpa memalui kesedihan itu terlebih dahulu.
Bintang terus mengamati gadis yang kini duduk membelakanginya. Bahu gadis itu terlihat bergetar, sudah dapat dipastikan ia tengah menangis. Dalam kepiluannya, rasa sakit dan iba membaur dalam hatinya yang rapuh.
Bintang belum sepenuhnya mengerti atau lebih tepatnya belum memahami apa yang terjadi pada hidup gadis yang dicintainya itu. Bagaimana kehidupan Dara yang sesungguhnya? mengapa Laras ibu dari wanita itu seringkali menyakitinya?
Pertanyaan-pertanyaan itu, satu persatu bermunculan di otaknya. Namun belum bisa ia temukan jawabannya.
__ADS_1
Bintang masih mengamati Dara yang terus meringkuk pada lututnya. Isakan lirih mulai terdengar oleh pemuda itu, namun Bintang diam saja. Membiarkan Dara menumpahkan segala rasa sakitnya dalam tangis. Bintang akan menunggu, menemani hingga gadis itu menyadari kehadirannya.
"Papa... apa Ara boleh kembali ke masa kecil Ara saja? Ternyata menjadi dewasa tidak semenyenangkan seperti cerita Papa dulu!" Dara berucap lirih.
"Papa ..., kenapa Papa membiarkan Ara tinggal bersama wanita itu? dia nggak baik Pa, dia jahat."
Dara mengadu lanyaknya anak kecil yang baru saja dimarahi ibu tirinya. Ada begitu banyak aduan yang dikumandangkan gadis bermata sebulat rembulan itu. Seperti seorang anak yang tengah berusaha meyakinkan sang ayah atas apa yang dialaminya, tapi sayangnya aduan itu tak mendapat pembelaan yang semestinya. Dara menangis, kecewa dan marah pada kehidupan yang terasa tak adil baginya.
Ingin sekali rasanya Bintang mendekat lalu merengkuh gadis itu kedalam peluknya. Menarik lalu membawa Dara menjauh dari rasa sakit yang dirasakannya saat ini. Namun Bintang sadar, dia belum layak untuk melakukan semua itu. Gadis itu, pasti akan menolak uluran tangannya. Cukup seperti ini saja, Bintang sudah merasa berguna.
Suara langkah kaki Bintang yang ingin beranjak dari ruang itu akhirnya berhasil mengalihkan atensi Dara. Gadis itu mendongakkan kepalanya lalu menoleh kebelakang dengan kedua lututnya masih bertumpu dalam dekapan tangannya.
"Bin?"
Bintang menghentikan langkahnya, sadar jika Dara memanggilnya.
"Kenapa masih di sini?" tanya Dara.
Bintang mengamati wajah yang terlihat sembab itu, sebelum ia memberi alasan tentang dia masih berada di rumah ini.
"Aku...emhh, ketiduran semalam!" jawabnya asal. Walaupun kenyataannya benar begitu.
Dara mengangguk paham.
Kemudian ia berdiri dari duduknya dan berjalan mendekat kearah Bintang.
"Makasih untuk semuanya Bin!" ucapnya. "Aku harap setelah ini jangan datang menemui ku lagi."
Bintang terkejut mendengar permintaan Dara. Dan setelah itu Dara berlalu meninggalkan Bintang yang bingung di tempatnya.
***
Sebuah gedung berlantai tak kurang dari tiga puluh tingkat dengan bertuliskan nama LARASATI GRUP menjulang tinggi di tengah Ibu Kota. Dan di dalam sana ada seorang wanita dengan usia hampir 42 tahun sedang duduk pada kursi kebesarannya. Wanita itu kini tengah membaca lembaran kertas yang tertata rapi dalam sebuah map. Dokumen perusahaan.
Dan di depan meja kebesaran itu pula ada seseorang yang tampak tenang menunggu Sang Nyonya Bos memeriksa isi dari dokumen tersebut.
__ADS_1
Tampak sesekali wanita itu mengernyitkan dahinya. Lalu raut wajah itu berubah masam. Hampir begitu selama lebih dari 20menit.
Dan seseorang yang sedari tadi menunggu dengan ekspresi wajah yang datar, pun merasa kinerja jantungnya bekerja lebih ekstra menanti titah dari Sang Nyonya.
"Apa alasan mereka membatalkan kerja sama dengan kita?" Akhirnya satu pertanyaan lolos dari wanita bernama lengkap Adinda Kanya Larasati itu.
Wanita yang dikenal dengan panggilan Nyonya Laras itu menatap tajam ke arah seseorang yang sejak tadi berdiri mematung di depan meja kerjanya. Seseorang itu bernama Prissa, asisten sekaligus sekretarisnya.
Prissa berdeham sebelum menyampaikan kalimatnya. Wanita muda dengan raut wajah datar tak terbaca itu mulai menyampaikan beritanya.
"Mereka meminta Nona Dara langsung yang menandatangani kontrak kerja sama itu." Jelas Prissa.
"Dengan alasan Nona Dara adalah pemilik saham terbesar di perusahaan ini." Prissa melanjutkan penjelasannya.
"Tapi, seperti yang kita tau. Nona Dara sama sekali tidak pernah mau terlibat dalam urusan perusahaan. Dan hal itu menjadi poin lain untuk mereka membatalkan kerja sama." Prissa mengakhiri penjelasannya.
Laras tampak semakin kesal dengan apa yang ia dengar. "Anak itu lagi, kenapa dia sama sekali tidak berguna?" Laras mulai murka.
Prissa hanya bisa kembali diam tanpa memberi saran apapun jika sudah menyangkut Dara. Sang Nyonya Bos itu akan bertindak sesuai keinginannya tanpa bisa dibantah jika berurusan dengan Dara.
"Bawa gadis bod*h itu kehadapan ku hari ini." Titahnya pada Prissa. Dan gadis itu hanya bisa mengangguk.
Setelah kepergian Prissa dari ruang kerjanya, Laras menggeram marah. Ia melempar semua barang yang ada didekatnya ke lantai.
"Aku sangat membencimu. Harusnya aku tidak membiarkanmu hidup."
Bagaikan akibat sebuah ledakan nuklir, hidup Laras di masa lalu memang porak-poranda. Masa mudanya, masa depannya, keluarga yang selalu menyanjungnya bagai Dewi hilang dan musnah dari hidupnya. Laras muda yang ceria dengan wajah elok bagai Dewi Amor berubah menjadi puing-puing tak berupa, hanya karena seseorang.
Dan seseorang itu berkaitan erat dengan Dara. Laras sangat membenci orang itu, seumur hidupnya. Dan jika ia mati pun ia akan membawa kebencian itu ke akherat.
"Lihatlah ... jika kau bisa menyaksikan akan aku tunjukan seberapa aku membencimu, dan kau pasti akan menyesal telah membuat dia lahir ke dunia ini." Laras memaki.
"Anakmu harus membayar mahal atas semua yang kau ambil di masa laluku."
Dan semua serapah itu ia akhiri, saat ia merasa kepalanya berdenyut hebat. Ia segera merogoh laci mejanya, mengambil beberapa butir obat dari dalam botol kecil yang ia simpan disana.
__ADS_1
Bersambung....