Langit Dan Bintang

Langit Dan Bintang
Aku Akan Membebaskanmu


__ADS_3

Ajak ia berdiskusi tentang apapun. Tentang bumi itu datar atau bulat. Atau tentang langit yang terlihat mendung namun tak jadi menurunkan hujan. Atau tentang apa saja, asalkan kau tak mendiamkannya.


Ajak ia bergelut seperti ombak yang membelai karang, atau seperti rintik hujan yang berlomba-lomba menjatuhkan diri ke bumi. Asal kau jangan mengabaikannya seperti rumput layuh.


Bukankah dia begitu berarti bagimu? Jadi tak selayaknya kau membisu saat didekatnya.


***


Pemuda itu kini melangkah sedikit tergesa, bahkan ia tak menghiraukan sapaan beberapa orang yang dilewatinya. Tujuannya satu, menemui gadis manis yang sudah beberapa hari ini tak ia jumpai.


"Hai!" sapanya.


Gadis itupun menoleh dari aktivitasnya yang tengah menata kue pada nampan kayu berwarna coklat muda.


"Kau ini benar-benar nggak punya pekerjaan selain datang ke sini?" Dara mencibir.


"Hey Nona...aku ini dari kantor loh! Nggak liat pake pakain rapi begini?" bela cowok itu.


Dara menautkan alisnya. Heran, kenapa cowok yang satu ini tak pernah bosan menemuinya. Padahal ia selalu bersikap ketus terhadap pemuda itu.


"Lagi pula pekerjaan terpenting yang harus kulakukan adalah menemuimu."


Dara tidak menghiraukan ucapan Bintang.


Gadis itu masih sibuk dengan kue-kue cantik dan manis itu. Menatanya sedemikian rupa, yang kemudian akan segera ia letakan pada etalase untuk dijual.


Sebuah kue cantik menarik perhatian Bintang. 'Lemon Almond Torta'. Kue yang didepenuhi taburan almond menguarkan aroma wangi menggoda. Perpaduan wangi vanilla dari cake yang lembut dipadukan aroma almond dan disempurnakan oleh aroma lemon yang segar. Jadilah kue itu sasaran empuk untuk Bintang nikmati. "Hm...'delicius'! gumam Bintang.


Untuk kali kedua pemuda itu mengambil Lemon Almond Torta tersebut tanpa permisi. Memasukan lagi kedalam mulutnya tanpa dosa. Dan hal itu, tentu saja memancing si kucing manis itu menjadi kucing garang.


"Kau harus membayar kue itu dua kali lipat!" ucap Dara disertai tatapan membunuhnya.


Bintang tertawa, "Apa kau lupa, aku pernah memborong isi kafemu dua hari yang lalu!"


Dara tidak dapat menyembunyikan kekesalannya. Lelaki ini, kenapa menyebalkan sekali.


"Lalu aku harus berterima kasih, begitu?"


"Nggak perlu Nona, kau cukup tersenyum saja!"

__ADS_1


Dara terdiam. Memperhatikan Bintang yang masih asik mengunyah. Kemudian fokusnya kembali lagi pada kue-kue yang sudah ia tata.


"Siska?" Dara memanggil teman kerjanya.


"Iya Mbak?" Gadis itu datang dari arah pintu dapur, "kenapa Mbak?"


"Tolong letakkan ini ke depan!"


"Oke siap!"


Gadis berseragam barista itupun segera keluar. Dara kembali memperhatikan Bintang. Mengamati setiap gerak-gerik pemuda itu. Bagaimana ia tersenyum, bagaimana mata yang terbingkai sempurna itu mengerjap, bagaimana tangannya yang kokoh itu bergerak meraih sebotol air mineral lalu membuka tutupnya dengan mudah. Semua itu Dara amati sedemikian rupa.


Dalam benak gadis itu, apakah mungkin lelaki sesempurna Bintang sudi menerima dirinya.


Dia bukanlah gadis yang sempurna. Dirinya, keluarganya dan kehidupannya terlalu cacat untuk disandingkan bersama Bintang.


"Ngelamunin apa?" Bintang menjawil hidung kecil menjulang itu dengan jarinya, membuat lamunan Dara seketika terurai.


"Bin?" Gadis itu selangkah mendekat kearah Bintang.


Namun kemudian ia tak lagi melanjutkan kalimatnya. Dara memilih menunduk menyembunyikan wajahnya.


"Ra? Ada apa?"


Dengan kepala yang masih menunduk Dara menggeleng pelan. Tapi bukan Bintang namanya jika tak mampu membuat lawan bicaranya mengakui sesuatu.


Bintang mengulurkan tangannya mengangkat dagu gadis itu. Mata seindah rembulan itupun mulai kembali memancarkan sinar lembutnya. Gadis ini, bagaimana mungkin ada orang yang tak bisa menyayanginya.


"Hm?"


"Makasih buat malam itu!" Akhirnya Dara membuka suaranya.


Bintang tersenyum. Kali ini benar-benar tulus, bukan senyum jahil seperti biasanya.


"Apa aku boleh mengatakan sesuatu?"


Dara mengangguk, "Ya!"


"Belajarlah menerima kehadiranku, Ra. Aku nggak pernah ada niat mempermainkanmu!" Bintang berucap lirih, matanya masih mengunci tatapan Dara.

__ADS_1


Raut gelisah terpatri jelas dari gadis manis itu. Matanya bergerak gelisah mencari alasan yang pas untuk menolak maksud lelaki di depannya kini.


"Aku mencintaimu, tanpa perlu kau tau apa sebabnya, tanpa perlu kau tau sejak kapan. Yang perlu kau tau...aku sangat mencintaimu."


Kalimat panjang itu Bintang ucapkan tanpa ada rencana sebelumnya. Atau seperti orang-orang yang perlu berlatih keras dalam merangkai kata-kata indah untuk ia ungkapkan kepada pujaan hati mereka. Namun bagi Bintang, biarkan semuanya mengalir, tak perlu ia merencanakan semua itu hanya untuk membuat Dara bahagia.


Sedangkan Dara hanya bisa membatu di tempatnya. Bila gadis lain akan melompat keudara saat medengar ungkapan cinta dari seseorang yang mungkin juga disukainya. Lalu Dara semakin merasa dirinya tak layak dan tak pantas menerima semua itu terlebih dari Bintang, lelaki sempurna di muka bumi ini.


"Apa yang kau inginkan, Bin?"


Pertanyaan itu sengaja Dara lontarkan. Berharap Bintang berhenti mengeluarkan kalimat-kalimat cintanya yang lain yang bisa semakin membuat Dara merasa tak layak menerimanya.


"Hiduplah bersamaku, Ra!" Dan justru permintaan itu yang keluar dari mulut Bintang. Dara ingin sekali rasanya melompat kedasar jurang saat ini, agar dia hilang dan Bintang bisa mengajak wanita lain untuk hidup bersamanya.


Sekali lagi Dara benar-benar merasa tak pantas.


"Come on Ra! Kita menikah dan aku akan membebaskanmu dari wanita itu, emh...maksudku Mamamu."


Dara bergeming dalam waktu yang cukup lama sampai sebuah sentuhan lembut di puncak kepalanya menyeretnya kembali tersadar. "Kau tak perlu menjawabnya sekarang. Aku akan menunggu."


Dan lelaki itupun berlalu setelah ia mendaratkan kecupan manis di kening Dara.


Demi apapun yang ada di dunia ini, Dara begitu terharu dengan semua ini. Dia bahagia. Tapi sayangnya ia tak bisa menerima kebahagiaan itu datang dalam hidupnya. Dia tak pantas, tak layak dan tak boleh.


Sedangkan di luar sana Bintang juga merasakan kekacauan yang sama seperti Dara. Dia tau Dara pasti akan menolak dirinya, gadis itu pasti setelah ini akan semakin menjauh darinya.


Bintang mengusap wajahnya kasar, lalu ia menjatuhkan kepalanya pada setir mobilnya.


"Please Ra...jangan lari dari hidupku, aku nggak akan bisa!"


Bintang baru akan menyalakan mesin mobilnya dan beranjak dari parkiran kafe milik Dara saat matanya menangkap beberapa orang dengan seragam hitam memasuki kafe. Bintang mengamati mereka lalu melihat ke arah mobil yang mereka kendarai. Di sana tampak ada dua orang lagi dengan seram yang sama.


"Siapa mereka?"


Di detik berikutnya Bintang tersadar, bahwa tujuan mereka ke sini adalah Dara. Bintang melompat dari mobilnya hendak kembali masuk kedalam kafe, tapi dia sudah melihat beberapa orang itu sudah membawa Dara keluar dari kafe dan masuk kedalam mobil.


"Dara!"


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2