Langit Dan Bintang

Langit Dan Bintang
Bersama Bintang


__ADS_3

Cukup dengan mendengar suara derap langkah yang teratur itu saja, Dara sudah bisa menebak siapa mereka yang kini memasuki kafe miliknya.


Langkah kaki yang menimbulkan suara seperti genderang itu menggema memenuhi ruangan yang hampir seluruhnya berdindingkan kaca.


Dara yang sejak kepergian Bintang dari kafenya tadi pun beranjak dan duduk pada kursi di meja kasir.


"Ada apa lagi kalian mencariku?" Dara bertanya dengan malas dan juga sedikit takut.


Salah satu dari empat orang dengan seragam hitam yang biasa Dara lihat itu menatap Dara dengan tatapan datar.


"Nyonya meminta anda untuk datang menemuinya!" ucap salah seorang itu.


"Tapi bukankah waktu itu aku sudah menemuinya?"


"Sebaiknya anda menurut sebelum kami menyeret paksa anda Nona!" Mereka mulai mengancam.


Dara akhirnya menyerah dan ia bangkit dari duduknya. Membiarkan empat orang bodyguard itu membawanya seperti tawanan.


Dari kejauhan mata gadis itu menangkap sebuah mobil yang cukup ia kenal, meskipun pemilik mobil tersebut sering bergonta-ganti kendaraannya saat datang ke kafenya tapi Dara masih hafal bahwa mobil itu milik pemuda itu.


Entah apa yang Dara harapkan dari seseorang yang berada di dalam mobil tersebut, tapi hatinya melantunkan sebuah doa agar orang itu bisa membebaskannya dari para bodyguard itu.


Dara menundukkan kepalanya. Gadis itu merasa kini jiwanya telah diterbangkan oleh malaikat maut, ia ketakutan. Tubuhnya tiba-tiba terasa menggigil saat bayangan sang Mama yang akan melecutinya dengan kalimat-kalimat membunuh dan tangannya yang lembut itu akan mencengkram rahangnya dengan kekuatan penuh, hingga rasanya tulang pipinya akan meluruh menyamai tanah.


"Dara!" teriak seseorang.


Pemuda itu dengan kecepatan tak terduga berhasil meraih Dara dari keempat orang berseragam hitam itu.


Raut muka datar tadi tiba-tiba berubah bringas. Keempat orang itu mulai menyerang Bintang bersamaan.


Bukan Bintang namanya jika tak bisa menghindar, menangkis dan bahkan membalas serangan beruntun yang ditujukan padanya kini.


Pemilik sabuk tertinggi dari ilmu bela diri yang berasal dari negeri Cina itupun berhasil melumpuhkan empat orang berbadan besar di hadapannya.


Dengan segera ia membuka pintu mobilnya, memaksa Dara masuk.


Mobil yang hanya diproduksi sebanyak 100 unit di dunia itu kini melaju membelah jalanan ibu kota yang padat.

__ADS_1


Tak ada suara yang mengisi ruang sempit yang bergerak itu. Kedua anak manusia itupun masih terdengar mengatur napas mereka masing-masing. Kejadian beberapa waktu tadi cukup membuat jantung keduanya berpacu tak tentu arah.


"Kau bisa membuat semuanya semakin sulit, Bin!" Akhirnya Dara yang memulai bicara. Setelah mobil yang dikendarai Bintang sudah memasuki jalan bebas hambatan yang terlihat cukup lengang.


Bintang menoleh. Wajah yang biasanya terlihat santai itu kini berada dalam mode khawatir.


"Kita bicara nanti, ya!" pinta Bintang, "sekarang tenang lah."


Dara mengangguk. Ia menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi dengan sedikit lega. Perlahan matanya terpejam. Lelah. Tentu saja hal itu yang dirasakan gadis itu kini.


***


"Gadis bodoh itu, kenapa selalu mencari masalah denganku?" Wanita itu memaki.


"Dan kalian semua juga sama bodohnya!"


Sekarang wanita itu mulai menandai satu persatu anak buahnya.


"Kau harus bisa membawa gadis sialan itu kemari!" perintahnya.


Semua bergerak cepat seperti kereta api yang melaju tanpa bisa dihentikan dan tanpa peduli tentang apa yang akan dilintasinya.


"Tunggu!" Seseorang mengentikan langkah dua orang bodyguard yang bertugas mencari Dara. Kedua orang itupun menoleh.


"Jika kalian bertemu gadis itu, perlakukan dia dengan baik!" ucapnya.


"Bawa dia pada bu Laras tanpa harus kalian menakutinya. Dia gadis yang penurut jika kalian bersikap sopan padanya!" Seseorang itu terus memberi arahan.


"Ingat! Dia tetap anak dari bos kita. Jadi sopanlah."


Begitu seseorang itu memberi petuah dia pun langsung berlalu. Kedua orang yang mendapat perintah itupun segera beranjak.


Dan di sinilah tempat persembunyian gadis cantik itu. Di temani sang bintang yang terus bercahaya disisinya.


"Setelah ini bukan cuma aku yang mendapatkan masalah, tapi kau juga!"


Nada suara Dara terdengar begitu khawatir. Namun berbeda dengan pemuda di sampingnya. Bintang kini terlihat santai dengan sesungging senyum menghias bibirnya.

__ADS_1


Wajahnya yang beberapa waktu lalu sempat terlihat tegang, kini sudah kembali ceria. Bahkan mungkin sifat jahil dan tengilnya juga sudah mulai beroprasi.


Bintang memang semudah itu berubah. Apalagi saat ini, dia ingin membuat Dara sedikit rileks. Gadis itu perlu sedikit hiburan darinya setelah melewati siang yang menegangkan yang berujung penculikan dirinya ketempat ini.


Mengalihkan pembicaraan, Bintang membawa gadis itu ke sebuah jembatan kecil yang menghubungkan taman dibelakang rumah kayu yang mereka singgahi saat ini ke sebuah hutan yang dipenuhi tanaman kayu jati.


Waktu sudah hampir menginjak senja. Perjalanan yang mereka tempuh tadi lumayan jauh. Jakarta-Bandung yang memakan waktu hampir empat jam.


Ya. Bintang membawa Dara ke Bandung. Menurut Bintang di sini cukup aman untuk Dara sembunyi dari mamanya. Entah apa yang diinginkan wanita itu sebenarnya, sampai Dara harus dibawa oleh orang-orang suruhannya.


Bintang menggenggam telapak tangan Dara, membawa gadis itu berjalan menyisiri sungai kecil yang indah. Suara gemericik air yang tumpah dari sela-sela bebatuan sungguh membuat hati sejuk, sesejuk air yang mengalir itu.


"Lupain dulu ya masalah tadi!" ucap Bintang tiba-tiba.


Dara menoleh, membiarkan tangannya digenggam oleh pemuda itu. Ia pun mengikuti langkah Bintang yang lambat.


"Apa kau suka tempat ini?" Bintang kembali bersuara.


Dara mengangguk.


"Dulu masa kecilku dilewati dengan bermain dihutan seperti itu!" Bintang menunjuk kearah hutan yang berada diseberang tempat mereka berdiri. Dan Dara mengikuti arah yang ditunjuk Bintang.


Gadis itu mendelik tak mengerti apa maksud pemuda itu. Apakah sewaktu kecil dulu ia tinggal di hutan. Dara ingin bertanya hal demikian tapi Bintang sudah melanjutkan ceritanya.


"Tinggal di tempat seperti ini sangat menyenangkan, Ra. Kita tak perlu menghadapi dunia dan segala masalahnya. Yang terus kita rasakan cuma seperrti hidup di surga."


Dara menatap kearah Bintang. Lelaki itu, kenapa bisa memiliki pikiran yang se-simple itu.


Bintang menoleh pada Dara, ternyata gadis itu tengah menatapnya. Pandangan mereka bertemu dan Bintang merasa jiwanya saat ini begitu kacau.


"Jangan natap kayak gitu, cantik! Nanti aku bisa khilaf loh!" Bintang mulai menggoda.


Merasa Bintang sudah kembali pada kebiasaannya, Dara pun mulai waspada. Lelaki tengil ini pasti tak akan pernah kehabisan bahan untuk menggoda Dara. Di mulai dari senyum jahilnya, diikuti kerlingan nakal dari matanya dan terakhir gombalan konyol yang tak masuk akal pasti akan segera ia luncurkan jika mendapat sesikit saja celah untuknya menyelipkan topik pembicaraan.


Dara mencibir, tak meanggapi ocehan Bintang. Gadis itu memilih duduk pada batu-batu yang sedikit berlumut itu. Membiarkan kakinya bersentuhan dengan air yang dingin. Berharap semua masalah yang ia hadapi kelak bisa terselesaikan dengan kepala yang dingin pula.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2