
Pemuda dengan usia hampir menginjak angka 26 tahun itu kini sibuk berkutat bersama laptop yang ada didepnnya. Cahaya kebiruan dari benda bertegnologi canggih itu menjadi satu-satunya penerang dalam ruang gelap dan kedap suara itu. Wajah rupawan yang berhiaskan hidung mancung menjulang beserta bibir tipis namun bervolume di bagian bawahnya, sungguh menambah kesempurnaan makhluk ciptaan Tuhan yang satu itu. Lelaki muda itu ialah Langit Dirgantara Ravendra.
Saudara kembar dari Bintang Angkasa Ravendra ini begitu fokus mengamati setiap angka yang berbaris sempurna pada halaman laptop di depannya. Inilah Langit, yang selalu menghabiskan waktunya untuk bekerja. Sikap dingin yang nyaris tak tersentuh itu tak pernah sekalipun memikirkan urusan jatuh cinta.
Dia masih dengan konsentrasi yang tinggi, meneliti setiap detail balance sheet yang tertera di layar laptopnya.
Statement of financial position yang melaporkan aktiva, liabilitas dan ekuitas pemegam saham perusahaan itu adalah hal wajib yang harus dilakukan Langit. Bukan hanya mengenai laporan itu saja yang menjadi tugasnya namun segala sesuatu yang berhubungan dengan perusahaannya akan ia tangani dengan sedemikian sempurna.
Atensi langit tiba-tiba teralihkan saat ponsel yang berada di atas meja kerjanya bergetar. Dengan segera ia pun menyambar benda pipih nan canggih itu. Terlihat nama saudara kembarnya yang menelpon dan tanpa menjeda waktu Langit segera menjawab panggilan itu.
"Ya hallo!" sambarnya cepat.
"Woii...santai Bro!" jawab si penelpon di seberang sana dan sudah pasti di sertai cengiran khasnya.
Langit berdecak, lalu kemudian menjawab. "Ada apa kau menelponku di jam seperti ini?" tanya Langit malas. "Sudah nggak pulang kerumah, nggak masuk kantor pula!" lanjutnya menggerutu.
Bintang terkikik mendengar protes dari adik kembarnya itu. Pasti saat ini wajah Langit terlihat kesal dengan lipatan di dahinya yang tak terhitung jumlahnya. Dan Bintang sangat menikmati momen seperti itu.
"Hehehehe...sorry Mas Jenius, aku ada keperluan penting."
"Apa yang lebih penting dari urusan gadis-gadismu itu?"
"Tepat sekali. Kau memang jenius my brother." Bintang memuji.
Tapi Langit terlihat semakin frustasi dengan pujian tak masuk akal itu. Harusnya Langit tak perlu mengatakan hal yang tidak penting tadi kepada si tengil yang satu itu.
"Lalu?" Langit ingin segera ke inti pembicaraan.
"Kau harus membantuku kali ini?"
"Membantumu?"
"Ya!"
"Dalam urusan apa?" Langit mulai terpancing.
"Menyelidiki seseorang!" jawab Bintang.
"Tidak untuk seorang gadis, Big no." Tolaknya.
__ADS_1
"Hei ayolah. Ini urgent." Bintang memelas.
Langit diam sesaat, berpikir apakah ia mengiya kan atau tidak permintaan saudara kembarnya itu. Lalu kemudian ia mengangguk, "Oke."
***
Saat itu ia masih menggunakan seragam putih abu-abu. Berbekalkan sebotol air mineral digenggamannya. Ia duduk pada sebuah bangku taman dan meminum air dari botol tersebut.
Langit sudah hampir gelap. Hanya menyisakan cahaya jingga di ujung-ujung cakrawala. Harusnya ia bersama seseorang saat itu. Tapi entah kenapa seseorang itu tak datang.
Saat ia rasa sudah tak perlu lagi menunggu akhirnya ia memutuskan untuk pulang. Berjanji pada dirinya sendiri bahwa mulai hari itu ia tak akan pernah percaya lagi pada seseorang dan juga cinta.
Sebuah janji yang tak ditepati, membuat kepercayaannya tenggelam bersama malam. Hari-haripun berganti, bahkan seseorang yang berjanji bertemu dengannya di taman waktu itu sama sekali tak ia lihat lagi. Gadis itu hilang tanpa kabar. Ya, seorang gadis. Gadis remaja yang cantik, dengan mata seteduh langit senja.
Gadis pertama dan satu-satunya yang pernah mengisi hati seorang Langit Dirgantara. Namun sayangnya gadis itu pergi tanpa ucapan perpisahan. Dan hal itulah, membuat pemuda yang kini duduk manis di sebuah kafe yang sedang menunggu saudara kembarnya itu menjelma menjadi sosok dingin nyaris tak tersentuh.
Beberapa saat menunggu, akhirnya pemuda dengan rupa yang sama persis dengan dirinya itu terlihat berjalan kearah mejanya. Seperti biasa Bintang selalu terlihat menawan dengan senyuman yang terus terbit di bibirnya, ah atau lebih tepatnya dengan cengiran khasnya.
Kemeja berbahan import yang sudah pasti harganya melebihi gaji othor selama empat bulan itu di gulung hingga ke siku. Membuat ketampanan pria muda itu semakin nyata.
"Aku cuma punya waktu 35menit!" Tanpa basa-basi Langit langsung melayangkan kalimatnya.
"Santai dikit woi Lang!"
Langit berdecak. Kapan sih saudara kembar satu-satunya itu bisa lebih serius.
Bintang mengambil posisi duduk tepat menghadap Langit. Menatap lekat kedalam manik legamnya.
"Kau mengenal wanita bernama Laras? Pemilik Larasati Grup." tanya Bintang to the poin.
Sepasang alis hitam dan tebal itu menaut heran. Secepat kilatan cahaya menyambar bumi di kala hujan, maka secepat itu pula otak Langit berotasi. Namun kali ini, si jenius itu justru berpikir lebih ekstrim di bandingkan sambaran petir.
"Kau_?" Langit menggantungkan pertanyaannya. "Aiss...jangan bilang kau mulai mengincar tante-tante?"
Pertanyaan menuduh itu sontak saja membuat Bintang melongo tak percaya. Saudara kembarnya yang terkenal super jenius itu kenapa bisa berpikir sekonyol itu?
Beberapa saat setelah ia memasang tampang cengo atas pertanyaan itu, sejurus kemudian ia justru terbahak-bahak atas tuduhan itu.
"Hei...apanya yang lucu?" Langit terlihat kesal mendengar tawa Bintang yang mulai mengalihkan perhatian orang-orang kearah mereka.
__ADS_1
Bintang belum selesai dengan tawanya. Namun Langit sudah memperingatkannya dengan waktu yang tersisa hanya tinggal beberapa menit saja, sebelum Si Jenius itu kembali ke kantor.
Bintang berdehem. Mengatur ekspresi wajahnya sedemikian serius. Setelah mendengar tuduhan tadi sulit rasanya untuk seorang Bintang kembali ke mode tersebut. Tapi lihat saja, sepertinya kali ini ia benar-benar berhasil untuk serius.
"Dia selalu memperlakukan putrinya dengan buruk." Bintang mulai bercerita.
"Putrinya bernama Andara Larasati. Gadis itu...aku mencintainya."
Kali ini Langit yang dibuat terpelongo oleh penuturan Bintang. Apa tadi, cinta? Sejak kapan Bintang bisa mencintai seorang gadis dengan benar?
"Hei Lang, ayo lah! Jangan menatapku seperti itu. Aku serius kali ini...gadis itu berbeda Lang, aku nggak akan main-main sama dia." Bintang mencoba meyakinkan Langit.
"Lalu, apa yang harus aku lakukan?" tanya Langit.
"Cari tau tentang wanita bernama Laras itu." Jelasnya.
"Cari informasi apapun Lang. Masalalunya, kehidupannya. Apapun itu, yang bisa mengungkap alasan wanita itu selalu menyakiti putrinya.!"
Langit tampak berpikir sebelum ia mengucapkan sesuatu.
"Bukankah menyelidiki seseorang itu adalah keahlianmu?"
Bintang mengangguk, tapi kali ini ia tak bisa melakukan itu sendiri.
"Lalu?"
"Kalau dia tau aku menyelidiki ibunya, Dara pasti akan membunuhku Lang."
"Lalu, apa aku nggak akan dibunuh oleh gadis itu kalau dia juga tau?"
Bintang berdecak, "Kau niat membantuku nggak sih Lang?"
Kali ini Langit yang tertawa mendengar pertanyaan frustasi dari kembarannya. Melihat wajah Bintang yang tak berdaya itu membuat Langit menyudahi tawanya.
"Oke Bin...oke!" Langit menyerah. "Wanita itu, bukan...yang harus aku selidiki?" Langit menunjuk ke arah wanita yang kini duduk manis bersama seseorang.
Dan seketika mata Langit tertuju kepada seseorang yang bersama Laras di sana. Langit mengenali sosok itu, sungguh.
Bersambung...
__ADS_1