Langit Dan Bintang

Langit Dan Bintang
Bintang Dalam Kelam


__ADS_3

Waktu sudah menunjuk pada pukul sebelas lewat sembilan malam saat Bintang memasuki kamarnya.


Pria muda pemilik senyum menawan itu kini terlihat murung. Entah apa yang sedang ia pikirkan saat ini? Yang jelas wajah itu tak sesumeringah biasanya.


Tentu saja percakapannya berasama Langit tadi yang menjadi penyebabnya. Meskipun belum pasti bahwa gadis yang bisa menarik perhatian saudara kembarnya yang kaku itu benar adalah Dara. Well, banyak gadis di luar sana yang memiliki tatapan menikam seperti Dara.


Ya, bisa jadi itu bukan Dara. Begitulah kira-kira Bintang menghibur dirinya sendiri.


Tapi bila realita yang dihadapinya kelak benar begitu, lantas apa yang harus ia lakukan?


Bintang sudah dibuat pusing oleh perdebatan otaknya sedari tadi.


"Arrgghhh...!" Bintang menggeram, mengacak rambutnya frustasi.


"Jangan macam-macam lah Lang!" umpatnya.


Ia kemudian berjalan ke pintu menuju balkon kamarnya. Ia menggeser pintu kaca dengan bingkai kayu bercat putih itu. Bintang menatap langit yang sama sekali tanpa cahaya. Langit pekat dengan awan-awan hitam yang bergulung menyembunyikan sinar bintang dan menenggelamkan rembulan.


Apakah nasibnya akan sama seperti bintang di langit saat ini? Hilang dan tenggelam bersama sang rembulan?


Jika ia adalah bintang dan Dara si gadis pujaan hatinya adalah rembulan maka ia akan rela jika harus tenggelam bersama setiap malam. Namun keraguan itu lagi-lagi menghatam sudut hatinya.


Sedangkan pada ruang yang bersekat dinding yang terletak di sebelah kamarnya, kini justru saudara kembarnya itu tengah tersenyum-senyum. Persis seperti ABG yang baru pertama kali jatuh cinta.


Hatinya kini seolah tengah dipenuhi ribuan kuntum bunga dengan warna-warni kupu-kupu yang berterbangan. Ah, sungguh indah dan menabjubkan.


Bintang merogoh saku celananya, mengambil smartphone-nya di sana dan ia mulai menyalakan benda pipih itu. Cahaya dari benda canggih itu kini menerpa wajahnya, tapi sayangnya cahaya itu tak cukup mampu menerbitkan senyum manis seperti biasanya. Pemuda ini tengah diliputi patah hati sebelum cintanya bersemi.


Ia menimbang-nimbang akan menghubungi siapa di saat seperti ini?


Reno?


Ah, rasanya terlalu konyol menelpon sahabatnya satu itu di tengah malam seperti ini. Tidak mungkinkan ia merengek dan mengadu seperti bocah yang kehilangan mainannya? Justru ia akan dibully habis-habisan oleh pemuda itu tentunya.


Ia men-scroll layar ponselnya lagi kemudian berhenti pada sebuah nama. Akankah ia menghubungi seseorang itu saja?


Seseorang yang sejak tadi menjadi pusat kekacauan hidupnya.


Dengan dorongan hati yang hampir patah itu ia lantas menekan tombol panggilan ke nomor tersebut. Dan entah apa yang akan ia katakan kepada seseorang di seberang sana kelak. Atau ia justru akan mendapat makian dari orang itu karena menelponnya di tengah malam seperti ini?

__ADS_1


Pada dering ketiga, panggilan itu akhirnya dijawab, dan suara diseberang sana...apa yang terjadi?


"Bin?" Suara itu terdengar lirih.


Bintang terpaku beberapa saat, kemudian ia tersadar bahwa pasti terjadi sesuatu pada seseorang itu. Dara.


***


Gadis itu meringkuk pada sudut ruang kamarnya yang kelam. Mimpi buruk itu selalu datang. Tapi kali ini seperti nyata.


Tubuhnya kini bergetar ketakutan. Airmatanya tumpah membasahi lengan dan lututnya yang bertumpu menyatu. Kondisinya saat ini, persis seperti seseorang yang depresi.


Sampai sebuah benda bergetar dari atas nakas tepat di bawahnya ia meringkuk. Cahaya dari benda itu menjadi satu-satunya sumber penerang dalam ruang gelap itu, kini.


Dara meraih benda itu dengan tangan yang gemetar, ia melihat nama 'Bintang Hati Dara' tertera di sana.


Jika pada kondisi normal, pasti gadis itu akan mengomel saat membaca nama yang terlihat konyol itu. Sungguh bukan Dara yang meng-save nomor itu apalagi menuliskan nama pemilik nomor dengan tulisan lebay seperti itu.


"Bin?"


"Hei? Kau kanapa?" Pertanyaan itu begitu kentara mengisyaratkan kekhawatiran.


"Dara?"


"Hell...Dara?"


****. Bintang memaki. Gelombang kekacauan di otaknya semakin menggulung. Emosinya serupa muntahan lahar panas dari kawah merapi.


Dengan gerakan influsifnya Bintang melesat meninggalkan kamarnya. Tak peduli dengan gelap yang mengintai di atas langit sana. Awan hitam yang menggantung itu sudah mulai menjatuhkan partikel-partikel kecil ke bumi.


Namun kekhawatirannya pada gadis yang ia telpon tadi mengalahkan derasnya hujan.


Sedikit kesulitan saat ia harus mencari di mana letak kamar gadis itu, sebab rumah itu terlalu luas untuk ukuran sebuah rumah. Sampai satu notif pada ponselnya menginformasikan titik yang ia cari.


"Dara?"


Bintang menemukan gadis itu setelah ia berhasil memanjat sebatang pipa penghubung dari tower air yang sudah tak berfungsi lagi. Melalui celah-celah kecil yang cukup meloloskan tubuhnya dari pantauan CCTV, ia pun kini berada di depan gadis itu.


Ia mengedarkan pandangannya, mencari keberadaan Dara dalam kegelapan itu. Tak sampai beberapa detik matanya pun menangkap keberadaan gadis itu.

__ADS_1


"Dara?" Bintang kembali menggumamkan nama gadis itu. Ia berjongkok dihadapan Dara, mengulurkan tangannya untuk menyentuh puncak kepala Dara pelan.


Gadis itu akhirnya menyadari kehadiran Bintang, ia mendongak. Dalam kelamnya malam ia merasa menemukan setitik cahaya dalam hidupnya, seperti cahaya bintang.


"Kau baik-baik saja?"


Bagaimana mungkin pertanyaan seperti itu dilontarkan Bintang saat ini. Tentu saja gadis itu dalam keadaan buruk. Bintang merutuki dirinya sendiri.


"Maksudku, apa Mamamu menyakitimu lagi?"


Dara tidak menjawab, matanya hanya menatap kosong kearah Bintang. Mata seindah rembulan itu kini meredup, tak lagi memancarkan sinar lembutnya.


Bintang mengusap airmata gadis itu yang menitik. Ia ingin merengkuh Dara dalam peluknya, tapi ia kembali teringat bahwa Dara belum sepenuhnya menerima kehadirannya.


"Dara...jawab aku! Apa dia menyakitimu lagi?" Bintang mengulang pertanyaannya.


Dara menggeleng. "Aku hanya bermimpi. Tapi mimpi itu begitu nyata."


Bintang mengangguk, tangannya lagi terulur menghapus airmata Dara yang kembali jatuh.


Tubuh yang bergetar takut tadi pun beringsut tenang. Dara menggenggam telapak tangan Bintang yang masih menempel di pipinya.


"Aku takut, Bin!"


Bintang sudah tidak bisa menahan untuk tak merengkuh tubuh mungil itu dalam dekapannya. Ia menarik gadis itu, memeluknya dengan sayang. "Aku disini Ra, aku akan selalu ada."


Dara tidak menolak kehadiran Bintang saat ini. Ia membiarkan tubuhnya dibawa oleh lelaki itu untuk dipeluknya. Membiarkan tubuhnya dilindungi pemuda itu, karena memang itulah yang ia butuhkan saat ini. Seseorang yang bisa mendekapnya dan mengusir ketakutannya.


Jika ada yang bisa, ia pun ingin dibawa menjauh dari hidupnya yang buruk ini. Jika hal itu semudah membuang sampah, maka ia pasti sudah membuang Laras dari hidupnya sejak lama.


Bersambung...


***


'Duh...babang Bintang, othor gemesh banget deh'


Sebenarnya cerita Bintang sama Langit itu ada versi mereka kecil loh. Itu aku gabung sama kisah cintanya Oma Delena, Mama Nada dan Papa Nathan.


Tapi aku selesaikan cerita ini dulu deh, baru nanti aku publish cerita Babang Bintang yang tengilnya emang dari kecil.

__ADS_1


Makasih ya buat kalian yang baik hati udah baca ceritaku sampe part ini. Peluk hangat dari Lemontea.


__ADS_2