
Rinai hujan mulai menyerbu saat Bintang membawa Dara masuk pada sebuah restaurant cepat saji yang tak jauh dari rumah gadis itu. Bintang tau sejak insiden penyekapan yang dilakukan Laras pada Dara beberapa hari yang lalu membuat gadis itu belum makan makanan dengan benar.
"Aku ke toilet bentar ya, Bin," ucap Dara setelah mereka masuk ke dalam restaurant tersebut. Bintang mengangguk dan dia menuju pada meja kosong di dekat jendela kaca.
Dari jendela besar itu Bintang bisa langsung menyaksikan bagaimana hujan turun. Rintik-rintik yang berjatuhan itu seperti berlomba-lomba mengejar permukaan tanah.
Bintang merogoh saku celananya, mengambil ponsel yang tersimpan di sana. Ia menghubungi Langit dan tak berapa lama suara berat saudara kembarnya itu terdengar diseberang sana.
Bintang langsung tertawa saat mendapat pertanyaan beserta umpatan dari Langit. Saudara nya itu kalau kesal makin menyenangkan untuk diolok-olok, tapi saat ini bukan waktu yang tepat untuk terus bercanda. Maka dari itu Bintang langsung pada topik yang ingin ia sampaikan.
Bintang menyudahi obrolannya bersama Langit ketika melihat Dara berjalan kearah mejanya. Lelaki itu tersenyum dan dibalas oleh Dara.
"Mau makan apa?" Bintang bertanya saat Dara sudah duduk di bangkunya.
"Apa aja deh!" jawab Dara singkat.
Beberapa saat kemudian seorang pramusaji datang membawakan makanan mereka. Tak ada percakapan apapun diantara mereka selama mereka makan. Segala sesuatunya terlihat baik-baik saja. Tapi adakah yang tau jika saat ini keduanya tengah berperang melawan pikiran masing-masing. Bintang dengan segala keresahannya. Melihat gadis yang sangat dicintainya selalu mendapat tekanan membuat Bintang berpikir untuk melarikan gadis itu saja saat ini.
Sedangkan Dara merasa kehadiran Bintang adalah sebuah mimpi yang indah. Dara ingin sekali berlari mendekap namun ia juga ingin segera mungkin menjauh. Sebab ia selalu merasa tak pantas untuk mendapat perhatian pemuda itu apalagi untuk mendapatkan cintanya.
Dara adalah gadis yang memiliki sifat inscure yang berlebihan. Tekanan serta perlakuan buruk yang selalu diterimanya membuat ia menutup diri dari siapapun termasuk Bintang.
"Dimakan, Ra. Jangan didiemin aja makanannya!" tegur Bintang saat melihat Dara hanya melamun di depan makanan di piringnya.
Dara terkesiap. Ia mengerjap pelan sambil memaksakan senyum.
"Makasih Bin untuk semuanya."
Bintang tak menjawab hanya seulas senyum yang ia berikan.
"Ra, kau tau ... aku sudah muak dengan apa yang dilakukan Mama mu, jadi biarkan aku melakukan sesuatu untuk membebaskan mu." Bintang berkata setelah ia menyselesaikan makannya.
Dara mendongak dan menatap Bintang dengan tatapan terkejut.
"Bin_?"
"No, Ra! Aku udah nggak bisa liat kamu tersisksa terus dan kejadian kemarin aku rasa itu harus jadi yang terakhir!" tegas Bintang.
__ADS_1
"Tapi aku baik-baik aja, Bin!" Dara membela.
Bintang mendengus kesal lalu ia menatap Dara dengan dingin. Mata yang selalu memancarkan sinar hangat itu tiba-tiba membuat Dara menggigil.
"Kau bilang baik-baik aja? Sedangkan ini, apa?" ucap Bintang sambil meraih pergelangan tangan dara yang masih biru.
Dengan terburu-buru gadis itu melepaskan tangannya dari genggaman Bintang. Ia memalingkan wajahnya gelisah.
"Ini bukan apa-apa kok!" jawabnya gugup.
"Ck." Bintang mengumpat, "Bukan apa-apa ... terus yang apa-apa tuh kayak gimana?"
"Bin, please ... aku baik-baik aja." Dara membujuk.
Pemuda yang selalu menampilkan senyum menawan serta cengiran menyebalkan itu kini berubah. Tatapannya sungguh membuat jantung Dara ingin meninggalakan tempatnya. Selama mengenal lelaki itu Dara tak pernah merasa takut saat melawan atau memarahinya, tapi untuk kali ini Dara merasa teramat takut melihat sikap Bintang yang berubah dingin.
"Bilang sama aku, apa cara yang paling baik buat aku membebaskanmu?"
Dara ingin menagatakan sesuatu, tapi Bintang sudah melanjutkan kalimatnya lagi.
"Apapun itu, akan aku tempuh. Termasuk membuat jera mamamu."
"Mama ... hanya kecewa sama aku, dia pasti nggak sengaja lakuin semua ini, Bin!"
"Nggak sengaja?" Bintang berdecak, "selalu Ra, selalu dia menyakiti mu!"
"Tapi dia mamaku, dia bebas melakukan apapun!"
"No! Aku nggak akan biarin dia nyakitin kamu."
Perdebatan keduany terhenti saat ponsel Dara berdering. Terlihat nama Siska di sana. Dara mengernyitkan dahinya, pikirannya langsung beralih pada sesuatu. Kafenya. Pasti sedang terjadi sesuatu di sana saat ini. Jika tidak Siska tak akan menelponnya.
"Mbak Dara!" Serbuan suara seseorang di seberang sana sebelum Dara sempat mengucapakan sapaannya.
"Kafe ditutup sama bu Laras, Mbak!"
Dan ya, tepat saat ini petir tiba-tiba menyambar di luar sana. Suara gaduh itu sama persis seperti suara di dalam pikirannya, kacau balau.
__ADS_1
"Ada apa?" tanya Bintang heran.
Dara menggeleng, tapi matanya yang indah itu tak bisa berbohong apa lagi yang dibohongi itu Bintang. Bagi Bintang, Dara itu seperti buku yang terbuka, mudah sekali untuk ia baca.
"Nggak apa-apa tapi panik gitu!" sindir Bintang.
"Kafe ditutup sama Mama!" Akhirnya Dara mengaku.
Bintang tak terkejut, ia sudah menduga pasti Nyonya Besar itu melakukan sesuatu lagi untuk mengusik hidup Dara.
***
Hujan masih terus mengguyur Ibu Kota hingga tengah malam. Seorang pria paruh baya baru saja keluar dari ruang ICU di salah satu rumah sakit.
Sebelum keluar dari ruangan tersebut ia sempat mengatakan beberapa hal pada lelaki yang terbaring lemah di atas tempat tidur pasien itu. David Arseno, masih belum juga membuka matanya saat Ferdi mengajaknya bicara.
"Kau harus bangun, Dav!" Ferdi memulai percakapannya.
"Kau harus membayar semua air mata putrimu ... ah, maksudku ... putriku."
"Dia putriku. Aku yang membesarkannya, tapi lagi-lagi kau yang menghancurkan segalanya." Ferdi berucap dengan menahan amarahnya.
"Aku terpaksa menyerahkan dia pada wanita itu karena sebuah perjanjian."
Ferdi menghela napasnya kasar, kemudian lanjut berucap, "aku sangat membenci mu, Dav. Sangat."
Perkataannya tadi masih terngiang dipendengarannya sendiri. Langkahnya semakin cepat menyisir pada koridor rumah sakit yang sunyi. Hanya derap langkah kakinya saja yang terus menemaninya hingga keluar dari rumah sakit itu.
Ferdi mengambil iPhone yang terselip di antara saku jasnya. Ia membuka sebuah aplikasi yang menghubungkannya pada sesuatu. Sebuah jaringan yang bisa membuatnya mengawasi seseorang dari jarak jauh.
Setelah ia selesai dengan segala urusannya, ia melangkah menuju mobilnya yang sudah terparkir di depan lobi.
Dengan sigap sang supir membukakan pintu mobil untuknya dan ia segera menaiki kuda besi itu dengan tenang.
"Kita akan kemana lagi, Pak?" tanya pak Budi, sang supir yang selalu setia mengantarkannya kemanapun.
"Rainbow Club!"
__ADS_1
Bersambung...
Kira-kira mau ngapain ya Bang Ferdi ke Rainbow Club? Wkkwkkw