Langit Dan Bintang

Langit Dan Bintang
Dalam Sepi


__ADS_3

Angin musim pancaroba berhembus cukup kencang hingga berhasil menerbangkan helai-helai rambut Dara yang menjuntai panjang.


Seperti biasa, gadis itu duduk seorang diri dibawah rindangnya pohon dengan bunga berwarna merah pucat, disertai daun-daun kecil yang menyerupai gerimis saat gugur.


Dengan kepala yang menunduk diam, Dara mulai mengingat setiap kejadian buruk yang dilewatinya belasan tahun ini. Dan yang paling jelas diingatannya adalah sosok ayah yang selalu memberinya kebahagiaan dan disusul dengan memori buruk yang diperankan oleh sang mama. Bentakan hingga pukulan yang kerap kali ia terima seketika membuat tubuhnya menggigil.


Dara begitu takut dengan perlakuan kasar mamanya, hingga membuat gadis itu sering bermimpi buruk.


Laras datang membawa seutas tali di tanganya. Matanya memancarkan aura kebencian yang nyata. Dara bisa melihat jika sorot kebencian itu ditujukan padanya.


Secepat angin berhembus, Laras melesat kearahnya. Tanpa tau apa yang diinginkan wanita itu, Dara beringsut mundur. Dan ketika ia merasa pijakannya melayang, Dara terbangun dari tidurnya.


Tanpa terasa mimpi itu bahkan hampir setiap malam datang menghantuinya. Dara takut. Ia selalu meringkuk di sudut ruang kamarnya saat mimpi itu berakhir. Dara merasa hampir gila, mungkin akan benar-benar gila.


"Non Dara?" Sapa seseorang di belakangnya, dan hal itu berhasil menyeret kesadaran Dara pada situasi yang ia hadapi saat ini.


Dara menoleh, mendapati dua orang dengan seragam hitam dengan tubuh tegap memandangnya dengan raut wajah datar.


Tanpa perlu bertanya siapa mereka, Dara sudah tau jawabannya. Lalu ia pun bertanya, "ada apa lagi mama mencariku?"


"Nona Dara diminta menemui Nyonya!" jawab salah satu bodyguard itu.


Dara hanya bisa mengangguk pelan. Tanpa minat bertanya apapun lagi. Dua bodyguard itu terlihat begitu sopan terhadapnya, seolah dia adalah putri kesayangan Sang Nyonya.


Berbeda dengan sebelumnya, jika orang-orang suruhan Laras biasanya berlaku kasar saat menyeretnya menghadap Nyonya besar itu, tapi kali ini hanya ada dua utusan dari Sang Nyonya untuk meringkusnya dan ditambah dengan tutur sapa bodyguard itu yang sungguh di luar pikiran Dara.


"Silahkan Non Dara ikut ke mobil yang di sana!" Pinta salah satu bodyguard sambil menunjuk kearah mobil hitam mengkilap yang terparkir dibelah kanan taman.


Dara menatap takut-takut ke arah dua orang itu. "Lalu, mobilku?" tanyanya pelan.


"Biar sopir yang urus Non!"


Dara mengangguk dan melangkah lebih dulu, mengabaikan dua orang yang ikut berjalan dibelakangnya.

__ADS_1


***


Ia merasa menjadi seorang penjahat, dengan tingkat kejahatan tinggi, mungkin sekelas kejahatan genosida[1]. Sebab ia digiring oleh beberapa orang pangawal saat mulai memasuki kerajaan LARASATI.


Sebenarnya tanpa pengawalan semacam itu ia juga takkan bisa kemana-mana. Seperti menaiki carousel maka ia akan berputar-putar di sana dan berhenti di tempat yang sama. Jadi apa yang perlu dikhawatirkan oleh para jongos-jongos itu.


Dara memasuki sebuah ruang yang belum pernah ia masuki selama hidupnya. Jika manusia normalnya bisa bebas masuk atau bahkan bermain di dalam ruang kerja sang mama namun itu tak akan pernah berlaku untuk Dara. Bahkan hingga usianya yang sudah menginjak angka 23 tahun itu, ia justru baru menapakan kakinya di sini. Di kantor milik ibunya.


Saat pintu yang menjulang itu terbuka, nampaklah seseorang di dalamnya. Seorang wanita dewasa yang cantik dan berkelas. Seperti biasa tatapan wanita itu selalu mengintimidasi lawan di depannya.


Dara melangkah dengan kepala menunduk. Raut ketakutan terpatri jelas di wajahnya yang memucat. Baru melihat sorot mata wanita itu saja tubuh Dara sudah menggigil. Dan kini ditambah dengan suaranya yang tegas menyentak jantung Dara.


Gadis itu terlonjak, saat tiba-tiba sebuah map dilempar tepat mengenai wajahnya.


"Ambil dan baca!" Begitu titah Sang Nyonya.


Dengan tangan yang gemetar takut, Dara berjongkok memungut lembaran kertas yang berserak di lantai. Memasukan kembali kertas-kertas itu kedalam map yang ikut terlempar tadi.


Dara mulai membaca setiap detail huruf yang tertera di sana. Merasa sudah cukup gadis itu pun memberanikan diri mengangkat kepalanya dan menatap takut ke arah Sang Mama.


Dara baru akan membuka mulutnya untuk mengatakan sesuatu namun Laras sudah kembali bersuara.


"Bawa dia keluar." Perintahnya pada salah satu bodyguard yang berada di dalam ruangan itu. "Dan kau Prissa, atur jadwal pertemuan dengan pihak ARISTA secepatnya." Titahnya lagi pada Prissa sang sekretaris.


***


Dalam diam itu tersembunyi banyak cerita pilu. Dalam hening, menyimpan sejuta rindu. Dalam keterpurukan terdapat sejuta harapan. Kemudian airmata merupakan sahabat sejati dalam melampaui rahasia-rahasia itu.


Setelah beberapa hari Dara tak menginjakan kakinya di kafe miliknya, hari ini gadis itu memutuskan untuk datang kesana.


Beberapa karyawan yang melihatnya datang langsung menyambut dengan senyum ramah mereka. Di sini, Dara sedikit merasa hidup. Bertemu dengan orang-orang yang menyayanginya dengan tulus. Para Barista itu sengaja Dara rekrut dari kalangan mahasiswa di kampusnya dulu. Adik-adik tingkatnya yang hidup jauh dari keluarga dan butuh biaya tambahan untuk makan atau bayar kos-kosan.


Terkadang Dara merasa jauh lebih beruntung dari mereka yang hidup serba kekurangan namun memiliki semangat untuk melanjutkan pendidikan demi mencapai hidup yang lebih baik kedepannya. Meskipun mamanya tak sebaik seorang ibu pada umumnya, tapi setidaknya wanita itu memenuhi segala kebutuhan Dara sepenuhnya. Hanya kasih sayang saja yang tak wanita itu berikan untuk Dara.

__ADS_1


"Mbak Dara?" Siska menyapa dengan girang. Gadis cantik dengan seragam barista itu langsung menghambur memeluk Dara.


"Hei...segitu kangen ya sama aku?" Dara membalas pelukan karyawannya itu.


Siska memang bukan karyawan biasa, gadis itu adalah orang kepercayaan Dara. Dia sudah Dara anggap seperti saudara.


"Ish...mbak Dara kemana aja? tiga hari loh nggak ke kafe?" Siska bersungut-sungut.


"Ada deh!" jawab Dara nyengir.


"Itu loh Mbak, si Mas ganteng itu tiap hari kesini!" Siska memberi informasi.


Dara terkekeh, "emang ada yang ganteng mas-mas yang datang kesini?"


Siska merengut, lalu mulai menceritakan sosok ganteng yang dimaksudnya.


"Di hari pertama dia menghabiskan lima cangkir kopi hitam tanpa gula...duduk manis di sini sampai sore." Dara bersorak mendengar cerita Siska.


"Lalu di hari kedua, dia datang lebih pagi. Memesan kopi hitam tiga gelas dan di lanjut dengan mocachino dingin dan croissant isi fla."


"Dia keluar kafe sekitar jam 2, lalu mbak tau? Dia datang lagi di jam 5." Siska tertawa-tawa saat menceritakan itu.


Dara menggeleng tak percaya dengan apa yang ia dengar.


"Dan di hari ke tiga Mbak...dia borong semua kue yang ada di etalase!"


"Wow...," Dara bersoak "bagus dong, bisa cepat kaya kita."


Siska terkikik saat melanjutkan cerita selanjutnya. "Itu Si Mas-mas, Mbak! ngadain sayembara."


"Hah?" Dara melongo.


"Iya Mbak. Siapa yang bisa bawa Mbak Dara ke kafe hari itu sampai jam lima sore, maka selama sebulan dapat makan gratis dimanapun dan kapanpun!"

__ADS_1


Seketika gelak tawa mereka membahana memebuhi ruang dapur yang cukup luas itu. Dan tanpa mereka sadari seseorang yang menjadi topik pembicaraan sedang mengamati mereka dari ambang pintu dapur.


Bintang tersenyum, bahagia rasanya bisa melihat tawa Dara yang lepas seperti itu dan Bintang tak akan mengusiknya untuk beberapa saat. Biarkan wanita kesayangannya melepaskan lelahnya di sini tanpa ia ganggu.


__ADS_2