
"Pa...aku nggak mau pokoknya!"
"Kau harus menurut apa kata Papa...dan Omamu sudah setuju."
"Kalian kenapa sih selalu maunya sendiri? Kalian nggak pernah mikirin perasaan aku?"
Gadis itu mulai terisak. Menahan segala kekesalan dan kekecewaan yang terpendam dalam dirinya. Hidupnya selalu dikendalikan oleh ayah dan juga oma-nya.
Laras muda kini berlari meninggalkan ayahnya dalam ruang kerjanya. Demi apapun yang ada dimuka bumi ini Laras bersumpah sangat membenci ayahnya. Lelaki itu begitu egois, di dalam hidupnya hanya kekuasaan yang selalu ia pikirkan.
Di sinilah tempat ia melarikan diri. Satu-satunya tempat yang bisa membuat hatinya membaik dalam waktu yang singkat. Ditemani secangkir minuman hangat dengan rasa asam yang segar dipadukan bersama seduhan teh dengan aroma wangi yang menenangkan. Minuman favorit sekaligus terapi alami untuk jiwanya yang kacau.
"Jam segini masih kerja?" Pemuda itu bertanya sambil menyodorkan setoples kukis manis dengan taburan keju di permukaannya.
Laras menoleh kemudian ia mengangguk lemah.
"Jangan dipaksainlah kalau capek! Pulang aja trus langsung istirahat," saran Ferdi.
Laras menghembuskan napasnya kasar. Ia menghentikan gerak jarinya yang sedari tadi menari di atas keyboard laptopnya.
Ia meneguk lemontea hangat yang kini hanya tersisa setengah gelas lagi. Ferdi membukakan tutup toples kukis yang ia bawa tadi kemudian mengambil satu dari sekian banyak benda kecil dan manis itu.
Ia mengarahkan kukis itu kearah Laras. Dengan sedikit tersenyum gadis itu membuka mulutnya menerima kue tersebut.
"Manja banget sih!" Ferdi sok menggerutu. Padahal ia teramat bahagia melakukan hal kecil yang bermakna besar itu untuk gadis cantik di depannya kini.
"Mas udah mau pulang?" tanya Laras.
Ferdi melirik jam di tangannya, "Sebentar lagi sih, kenapa?"
"Aku lapar!" aku Laras. "Boleh dimasakin nggak?"
"Mau dimasakin apa emangnya?"
"Apa aja deh! Apapun yang Mas Ferdi masak pasti enak!" Laras tersenyum dan disambut sentilan gemas dari Ferdi di ujung hidungnya.
"Bisa aja kalau ada maunya!"
Laras mengekori pemuda itu masuk kedalam dapur. Mengamati bagaimana pemuda itu meracik bumbu untuk masakannya. Benda mengkilap dengan salah satu sisinya yang tajam itu bergerak lincah diatas papan iris berwarna biru muda.
Hampir 20 menit menunggu akhirnya makanan yang diharapkan kini tersaji dengan cantik di atas meja. Laras harus menelan ludahnya susah payah saat melihat betapa menggiurkannya makanan satu ini.
'Miso Glazed Black Cod' adalah makanan yang paling banyak digemari pengunjung resto di hotel ini.
Dan Laras baru kali pertama melihat secara langsung bagaimana lihainya sang chef membuatkan makanan lezat itu.
"Kok didiemin makanannya? Katanya tadi lapar?" Ferdi menegur Laras yang nampak tak tega memakan makanan secantik itu.
"Aku nggak tega Mas ngerusak tatanannya!" Laras beralasan.
"Norak deh!"
__ADS_1
Laras tertawa, "Tapi beneran Mas, coba deh diliat...ikan cod-nya jadi eksotis begitu ya! Astaga...." Laras terpekik sendiri melihat tampilan ikan itu yang semula putih berubah coklat mengkilap.
Ferdi hanya geleng-geleng kepala mendengar gadis itu berceloteh. Bukankah aneh jika orang kaya terkagum-kagum hanya dengan makanan sekelas ikan saja.
"Dimakan! Lebih sayang kalo nggak dimakan." Ferdi mengingatkan lagi.
***
"Mas...boleh nebeng nggak pulangnya?" tanya Laras.
Ferdi nampak terkejut dengan pertanyaan gadis di depannya kini.
"Mobil kamu?"
"Tadi bannya kempes, Mas. Terus dibawa sama orang bengkel."
"Oh ya udah, aku antar."
Jam sudah menunjuk pada angka 10.25 malam. Jalanan Ibu Kota saat ini cukup terbilang lengang. Jadi tidak akan ada alasan macet untuk malam ini.
Laras melirik kearah Ferdi yang tampak fokus dengan jalan di depannya. Tak ada dari dua anak manusia itu. Sampai tiba-tiba suara dari ponsel milik Ferdi berbunyi.
"Ya halo!" sapa Ferdi pada si penelpon.
"Bantu aku Fer, sekarang!" Perintah seseorang di sana. "Ini urgent...anak buahku sudah dibabat habis oleh mereka."
Ferdi diam beberapa saat. Sedangkan Laras nampak acuh dengan obrolan Ferdi dan orang yang menelponnya.
"Kau dimana?"
Wajah Ferdi berubah khawatir. Ia melirik kearah Laras yang sudah mulai mengantuk. Gadis itu, sepertinya lelah. Tapi Ferdi harus segera menolong sahabatnya yang sedang dalam bahaya. Terlambat sedikit saja mungkin sahabatnya akan tertangkap oleh musuh.
Ferdi lantas berinisiatif membawa Laras pulang keapartemennya saja. Sebab beberpa menit lagi Ferdi sudah memasuki jalan menuju ke apartemennya.
"Ini ambil lah!" Ferdi menyerahkan kartu untuk masuk kedalam apartemennya.
Laras menautkan alisnya, "Apa ini?"
"Lantai 35, Blok C. Kamar nomor 22!" Begitu intruksi Ferdi pada Laras.
Laras semakin bingung dengan maksud Ferdi.
"Itu apartemenku! Kau istirahat dulu di sana. Aku harus membantu temanku yang dalam bahaya!" Ferdi menghentikan mobilnya tepat di dedepan lobi apartemen.
Tanpa berkomentar apapun Laras langsung menuruti perintah Ferdi.
"Paswordnya, enam angka terakhir nomor ponselmu."
Laras terbengong mendengar ucapan Ferdi. Tapi seolah tak ada waktu lagi Ferdi langsung meminta Laras turun dan segera masuk kedalam apartementnya. Sebelum itu ia sempat mengucapkan sesuatu pada gadis itu.
"Jangan membukakan pintu untuk siapapun! Kau paham?" Laras mengangguk, "masuklah!"
__ADS_1
***
Hampir dua jam lebih Ferdi belum juga kembali. Laras, gadis itu sudah tertidur di dalam kamar lelaki itu.
Laras tersentak saat mendengar suara gaduh dari arah dapur apartemen yang hanya dihuninya sendiri saat ini.
Laras keluar dari dalam kamar mencoba mengecek sumber suara itu.
"Mas Ferdi udah pulang?" tanya Laras sedikit ragu. Sebab suasana ruangan itu cukup gelap.
Tak ada jawaban. Berarti bukan Ferdi pikir laras.
Saat Laras akan kembali lagi kedalam kamar tiba-tiba mulutnya dibekap seseorang dari arah belakang. Gadis itu memberontak, tapi tenaganya tak cukup kuat untuk lepas dari seseorang itu.
Dalam suasana gelap Laras tak dapat melihat jelas wajah orang itu. Kini orang asing itu sudah berhasil membawanya pada sofa diruang tengah.
Laras masih terus mencoba melepaskan diri. Dengan sekuat tenaga gadis itu menggigit telapak tangan yang membekap mulutnya.
"Bangsat!" umpat orang itu.
Laras bisa mendengar lelaki itu merintih menahan sakit pada telapak tangannya yang mungkin berdarah.
Tubuh mungil itu semakin gemetar ketakutan. Dunia seakan telah runtuh. Di dalam hati ia terus merapalkan doa agar ia bisa selamat malam ini. Entah siapa orang yang saat ini mencoba berbuat jahat padanya tapi yang jelas Laras sangat takut.
Gadis itu kini bersembunyi di balik lemari besar yang entah berada dimana posisinya. Entah ada di dapur, ruang tengah atau kamar, Laras sudah tak peduli.
Tubuhnya semakin menggigil kala suara langkah itu semakin mendekat. Dan...ya! Gadis itu kembali tertangkap oleh seseorang itu.
"To-tolooong!" Laras berteriak.
Namun sayangnya tak akan ada yang menolong gadis itu. Satu tamparan mendarat di pipi lembutnya.
"Aaaaaa!"
Laras merasakan sesuatu yang asin menembus lidahnya. Airmata bercampur darah segar dari sudut bibirnya melebur dalam indra pengecapnya.
Pria asing itu semakin brutal merenggut pakaian gadis itu. Merobeknya dengan kasar hingga kacing-kancing baju itu bertebaran.
Laras menjerit histeris. Memohon agar orang itu berhenti. Demi apapun Laras lebih baik mati dari pada harus melewati penyiksaan ini.
Lagi-lagi Laras mencoba lari namun ia tetap tertangkap. Selain ruang ini cukup gelap juga Laras belum hapal dimana letak pintu dan jalan keluar dari apartemen ini.
"Aku mohon...lepaskan aku!"
Tak ada jawaban dari laki-laki itu, yang ada justru lelaki itu semakin kasar menjamah dirinya.
Tangis Laras semakin menjadi saat seluruh pakaiannya sudah berhasil dilepas oleh lelaki itu.
Dan...
Bersambung...
__ADS_1
Ya Allah...deg-degan banget nulis part ini. Pengen berhenti...sumpah nggak tega banget sama Laras, tapi ya mau gimana lagi? Nasib Laras udah terlanjur buruk ditangan othor wkwkwkww....!
Semangat!!!