
"Ma, aku mohon bebaskan aku!"
Dara memohon dengan penuh belas kasih pada wanita di depannya. Tapi sayangnya wanita itu sama sekali tak menghiraukan. Sorot matanya masih tetap tajam seolah tengah menikam hati putrinya dengan kejam.
"Aku lelah, Ma." Dara berucap lirih.
Laras menyeringai. Ia berjalan dan berjongkok di depan Dara yang masih terikat. Rantai itu bukan hanya melilit kaki dan tangannya namun juga melilit hidupnya.
"Kau bilang lelah? Bahkan ini baru akan aku mulai." Ia berucap bersamaan dengan tangannya mencengkram kuat dua sisi wajah Dara.
Gadis itu menatap penuh permohonan kepada wanita yang menyandang status sebagai mamanya itu. Mata keduanya beradu. Seorang wanita muda dengan sorot mata sayu dengan manik hitam bercahaya, persis seperti langit jernih dengan sinar rembulan di tengah malam pekat. Mata itu benar-benar indah, seindah rembulan yang teduh. Tak ada sorot kebencian di dalamnya. Mata itu selalu menatap penuh binar cinta, tak pernah mengahakimi dan tak pernah menyimpan dendam meski sakit kerap kali ia terima.
Berbeda dengan wanita dewasa di depannya. Meski mata itu sama persis dengan keindahan yang dimiliki gadis di depannya, namun caranya menatap lawannya selalu penuh intimidasi. Sorot matanya selalu tajam dan penuh kebencian. Mata seindah rembulan itu seakan ternodai oleh kilatan-kilatan dendam yang tak berkesudahan,selalu ada, selalu nyata.
Cengkraman itu ia lepaskan dengan begitu kasar hingga memutar kepala Dara kesamping.
"Apa yang Mama inginkan dari ku?" tanyanya dengan menahan isakan pilunya.
Tak ada jawaban yang ia dapat dari sang mama. Wanita itu begitu misterius, sebarapa banyak rahasiakah yang disembunyikannya. Dara tak mendapatkan jawaban itu. Setiap kali Dara mencoba bertanya apa yang diinginkan mamanya, wanita itu selalu menghindar dan beranjak pergi. Sama hal yang ia lakukan saat ini, langkahnya mulai menjauh dan Dara hanya mampu melihat itu dengan tatapan terluka.
***
"Bagaimana kondisinya?"
Seseorang dengan setelan kemeja berwarna biru gelap yang dipasangkan dengan celana bahan berwarna hitam, beserta sepatu pentofel hitam mengkilap terpasang indah di kakinya. Lelaki itu kini berada tepat pada ruang yang bertuliskan ICU di rumah sakit ternama Ibu Kota dengan seorang dokter di depannya.
"Kemungkinan untuknya bertahan sangat tipis, tapi berdoa saja semoga ada keajaiban yang datang untuknya." Setelah mengatakan itu dokter itu pun berlalu. Tinggalah ia di sini, menatap seseorang di dalam sana yang masih bernapas karena pertolongan selang-selang kecil yang terpasang di tubuhnya.
"Dav, kau sudah hampir membayar lunas kesalahanmu!" Ferdi bergumam. "Tapi itu bukan berarti kau sudah bisa pergi dengan tenang. Masih ada tugas yang belum kau selesaikan, Dav!"
__ADS_1
Dan setelah mengatakan itu, lelaki tersebut pun berjalan meninggalakan ruangan itu.
David Arseno, pria itu kini berada diambang keputus asaan. Mungkin hidupnya hanya berada pada ujung-ujung jarum yang tertancap pada nadinya.
Ah, tentang pria malang itu. Sudah hampir separuh dari umurnya ia bersembunyi dari rasa bersalah. Mendekam di balik dinginnya jeruji besi pun ia tak pernah merasa pantas untuk mendapatkan kata maaf.
Dulu pria itu adalah seseorang yang penuh cinta. Namun sayangnya ia pernah dikhianati oleh orang yang paling dicintainya. Kemudian ia berubah menjadi seseorang yang tak lagi memiliki hati. Hidupnya ia hancurkan.
Berbagai hal buruk dan bahkan yang paling buruk pun ia kerjakan. Sampai pada ia menghancurkan hidup seorang gadis yang sama sekali tak tahu menahu tentang siapa dirinya. Ia laksana jelmaan makhluk dari dunia kegelapan yang dengan bringas memangsa gadis itu.
Dalam kondisi seburuk saat ini, ada satu hal yang selalu menjadi beban dalam dirinya. Kesalahannya dulu bukan hanya merusah hidup satu orang saja namun juga telah merusak hidup seseorang lagi.
Ia adalah sumber kesalahan itu, harusnya hanya ia yang pantas untuk dihukum. Tapi semesta sepertinya tak puas hanya menghukum dirinya saja, hingga seseorang yang sama sekali tak berdosa harus ikut menjalani hukuman atas kesalahan yang dibuatnya.
Setetes ait mata jatuh dari sudut matanya. Air sebening embun itu perlahan menyusuri garis matanya hingga pecah di antara sudut telinganya.
Sebegitu besarkah penyesalan yang membebaninya, atau tak terampunikah dosa masa lalunya.
"Tolong lepaskan aku...lepaskan aku!" Ia terus berteriak memohon seolah kini ia berhadapan dengan monster yang siap menerkamnya.
Dan sejurus kemudian ia bangkit lalu mengambil sesuatu didekatnya. Sebatang tongkat bassball ia arahkan di depannya.
"Jangan mendekat! Atau aku akan membunuhmu!"
Kata itu ia ucapkan berkali-kali. Ia mengayunkan tongkat itu lalu mengenai vas bunga. Suara pecahan itu kemudian menarik seseorang untuk datang dan melihat apa yang sedang terjadi di dalam ruangan tersebut.
Prissa, menemukan Sang Nyonya dalam keadaan kacau. Gadis cantik dengan raut wajah datar tanpa emosi itu berlari memegangi Nyonya besar itu.
"Bu Laras, tenanglah!"
__ADS_1
Ia memeluk wanita itu dari arah belakang. Laras yang terus memberontak membuat Prissa sedikit kualahan. Gadis itu pun mempererat pelukannya, "Bu Laras aku mohon tenanglah!"
Dengan penuh kesabaran Prissa membujuk Laras untuk tenang, sampai wanita itu akhirnya menyerah dan menjatuhkan tongkat bassballnya ke lantai.
"Bu Laras tidak apa-apa, ada aku di sini yang akan terus menjaga Ibu," tutur Prissa dengan lembut.
"Sekarang obatnya diminum dulu, Bu!" Prissa menyodorkan segelas air dan beberapa butir obat dari dalam laci meja.
Laras hanya menurut tanpa mengatakan apapun. Prissa memang sangat bisa diandalkan, gadis itu entah datang dari belahan dunia mana hingga bisa menjadi asisten sekaligus sekretaris dari seorang Larasati.
"Apa Ibu butuh sesuatu?" Prissa bertanya saat melihat Laras sudah cukup tenang.
Laras menggeleng.
Prissa kembali meletakan gelas itu di atas meja. Prissa menatap iba pada wanita yang semestinya sebaya dengan ibunya.
"Prissa...!" panggilnya dan perhatian Prissa tertuju pada apa yang akan disampaikan wanita itu. "Minta para bodyguard itu untuk melepaskan gadias itu!"
Prissa melesat keluar dari ruangan dan mencari keberadaan para bodyguard. Mata Prissa menangkap apa yang ia cari.
"Hei...Kau!" Prissa memanggil seeorang.
Dengan sedikit tergopoh lelaki itu menghampirinya, "Ada apa Mbak Prissa?"
"Cepat lepaskan Dara dari ruang bawah tanah." titahnya.
Dengan anggukan paham lelaki itu melangkah dengan cepat, meninggalkan Prissa yang selalu memasang wajah datarnya.
Prissa kembali ke dalam untuk menemui bu Laras.
__ADS_1
Bersambung...
Hai reader maaf ya, rada pendek chapternya di kerenakan author satu ini lagi ngantuk berat. Nanti kalo aku lanjut silakan nyanyi. Hahaha..selamat membaca.