
Berbanding terbalik dengan kehidupan Dara, hidup Bintang justru dipenuhi oleh cinta. Lihatlah! lelaki muda ini tengah bermanja dipangkuan sang mama. Dengan usia yang hampir menginjak dua puluh enam tahun ia masih saja bertingkah layaknya anak berusia enam tahun. Ia merebahkan kepalanya di atas pangkuan sang mama sambil memainkan ponselnya. Sesekali nampak wanita yang masih begitu cantik itu menyuapi putranya dengan cemilan yang ia pegang.
"Udah enggak cukup lagi sofanya buat nampung kaki kamu kak!"
Tiba-tiba matanya beralih pada sosok wanita satu lagi penghuni rumah ini. Wanita itu sudah terlihat lebih tua, namun tetap cantik dengan pakaian rumahan yang melekat indah di tubuhnya. Meskipun kerutan sudah menghias setiap sisi wajahnya wanita itu masih terlihat sempurna.
"Sofanya aja yang kurang gede Oma!" sangkalnya.
Wanita itu mencibir kemudian mengambil posisi duduk di sofa seberang mereka. "Enggak malu sama umur kamu tuh!" cicitnya lagi.
Bintang ikut mencibir. Mendengar omelan wanita itu sudah biasa. Wanita itu Oma-nya, ibu dari sang ayah. Sejak kecil Oma lah yang selalu membantu mamanya dalam mengurus Bintang dan saudara kembarnya, Langit. Sebab sang mama memiliki keistimewaan pada dirinya. Autism spectrum disorder yang membuat mamanya menjadi wanita istimewa. Namun sekarang mamanya sudah sembuh dari kelainan tersebut sejak beberapa tahun yang lalu. Dan semua itu tak luput dari peran sang Oma yang notabennya adalah seorang dokter dan psikolog.
"Langit belum pulang?" Oma bertanya sambil mengganti chanel televisi dengan remot di tangannya.
Bintang mengedikkan bahunya tanda ia tidak tahu.
"Memangnya kamu tadi enggak ngantor? Kamu tuh ya kok makin gede makin bandel sih?"
Bintang tergelak, "aku tuh cuma menikmati masa mudaku yang tertunda Oma!" jawabnya asal.
Mata Oma langsung beralih menatap kearahnya yang asik menerima suapan puding dari sang mama.
"Nikah aja kamu kak dari pada main-main terus!"
Kini Bintang juga ikut menatap Omanya. "Memangnya udah boleh?" tanyanya dengan seringai di bibir.
Ingin sekali wanita itu berdiri dan menjewer telinga cucu laki-lakinya satu ini. Kenapa bukannya semakin hari semakin dewasa malah justru Bintang semakin hari semakin kekanak-kanakan.
"Ma...emangnya mama udah mau punya cucu?".
Sekarang ia beralih menatap mamanya. Wanita itu meski sudah dinyatakan sembuh namun kadang dia masih asik dengan dunianya sendiri. Autism spectrum disorder memang tidak bisa sembuh sepenuhnya. Oleh sebab itu terkadang fokus mamanya bukan pada mereka yang tengah asik mengobrol.
Bintang mendongakkan kepala untuk menatap mamanya kemudian ia menyentuh lembut sebelah pipi wanita itu. Hal itu sontak mengalihkan perhatian sang Mama ke arah nya. Seulas senyum tulus Bintang berikan untuk wanita cantik itu. Menanti jawaban atas pertanyaannya tadi dengan sabar.
__ADS_1
Lihatlah bagai mana lelaki muda itu begitu mencintai wanita istimewa ini. Wanita yang telah melahirkannya di tengah badai dan kesunyian. Bintang dan Langit sangat memuja sang Mama, memperlakukan wanita itu bagai Ratu. Karena memang sesungguhnya ibu adalah ratu bagi setiap anak. Dan hal itu berbeda dengan Dara. Jika Langit dan Bintang menganggap mama mereka ratu, Dara justru menganggap mamanya adalah penyihir yang menakutkan.
"Mama udah mau punya cucu belum?" Bintang mengulangi pertanyaannya.
Wanita itu malah menarik gemas hidung mancung Bintang. Dan hal itu membuat Bintang tertawa-tawa. Bukannya kesal tak mendapat jawaban justru Bintang merasa bahagia dengan ulah konyol mamanya.
Oma yang dari tadi memperhatikan ulah mereka berdua ikut tersenyum.
"Selamat malam!"
Suara lembut dan tegas itu menghentikan Bintang yang tertawa nyaring.
"Lang? baru pulang sayang?" Begitulah Oma menyambut lelaki kesayangannya.
Bintang berdecih melihat ke arah omanya yang di balas cibiran oleh wanita tua itu.
Langit yang melihat itu hanya mampu menyunggingkan senyumnya dan mengambil posisi duduk di sebelah sang Oma. Ia melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan Bintang, merebahkan kepalanya di pangkuan sang Oma.
"Pasti capek ya? sudah makan apa belum?" tanya Oma yang sengaja memanas-manasi Bintang.
Kapan pertanyaan seperti itu akan didapat Langit dari seorang gadis. Begitu pikir Bintang.
"Capek Oma!" Hanya itu jawaban dari Langit. Saudara kembar Bintang ini memang irit bicara dan lebih banyak bekerja. Memang begitulah harusnya, kita dituntut lebih banyak bekerja dari pada berbicara bukan?.
"Masih Oma yang setia nanya kayak gitu Lang? ck. Kapan pertanyaan itu kau dapat dari seorang gadis?" ledek Bintang.
"Kau...diam lah!" sergah Oma dan di balas tawa dari Bintang.
"Siapa lagi gadis yang kali ini Bin?" tanya langit tiba-tiba.
Bintang mengubah posisi tidurannya yang terlentang menjadi miring untuk menjangkau pandangannya ke arah Langit. Tangannya yang sejak tadi sibuk memainkan ponsel juga ikut berhenti.
"Hm?" Pertanyaan ambigu itu ia lontarkan kepada saudara kembarnya.
__ADS_1
Langit melirik malas ke arah Bintang dan lanjut berkata, "tadi aku bertemu seorang gadis di minimarket dan_!"
"Kau mendapat ciuman lagi dari gadis-gadis yang kau temui itu?" potong Bintang cepat. "Waaauuu...good job brother!" soraknya riang, "kau tak perlu susah-susah mencari gadis setelah ini!" lanjut Bintang tertawa-tawa.
"Bangsat kau Bin...!" kesal Langit, "gara-gara ulahmu aku yang selalu kena imbasnya!"
Bintang semakin tidak bisa lagi menahan tawanya, "bahahahha!"
Dua bersaudara ini memang sangat bertolak belakang jika dalam urusan asmara. Langit tidak terlalu tertarik dengan urusan perempuan dan justru Bintang adalah Don Juannya. Namun dalam urusan pekerjaan mereka berdua memang seperti langit dan bintang, yang begitu saling membutuhkan dan melengkapi.
"Tapi kali ini berbeda Bin!"
Bintang kembali melihat kearah Langit, sudut matanya terlihat melebar. "Maksudnya?"
"Iya...dia seperti ingin memakanku!"
"Hahahahaha...!" Bintang kembali tertawa. Suka sekali anak ini tertawa.
"Hei! aku serius!"
"Ya ya ya! lanjutkan!"
"Dia gadis yang cantik dan...manis!" Langit bicara sambil mengingat-ingat wajah gadis itu. "Tapi tatapannya itu? ngeri."
Lagi Bintang kembali meledakan tawanya. Lelaki ini memang tidak bisa bertoleransi saat mendengar curhatan saudaranya. Sifat jahilnya memang tidak bisa di kontrol. Walaupun begitu Langit tetap menceritakan apapun kepada Bintang.
Bintang mencoba mengingat-ingat siapa gadis yang di maksud Langit. Setahu Bintang setiap gadis yang bertemu Langit dan mengira Langit itu adalah dirinya pasti gadis-gadis itu langsung melancarkan aksinya. Seperti bergelayut manja di lengan Langit, ada yang hanya sekedar see you hai dengan melambaikan tangan dan ada juga yang sampai mencium Langit di tempat umum.
Tapi kali ini, kata Langit gadis ini berbeda. *Se*perti ingin memakannya?
Seketika Bintang ingat dengan satu nama. Dara.
Ya, tidak salah lagi. Pasti Dara. Karena tidak ada satupun wanita di dunia ini yang menatapnya seolah ingin menerkamnya.
__ADS_1
Bersambung...