
Langit itu kian mendung diiring gelenyar cahaya yang sesekali tampak berkilauan di sana. Meskipun cahaya itu terlihat indah dan memukau namun efek yang ditimbulkannya begitu buruk. Sama halnya dengan apa yang dijalani oleh Dara. Memiliki garis keturunan LARASATI dan menjadi satu-satunya pewaris dari kerajaan Larasati Group harusnya menjadikan ia seseorang yang berkilau dan memukau. Namun sayangnya semua itu hanya fatamorgana. Dara dan hidup yang dijalaninya seperti benda yang di bias cahaya dalam air.
Dara menatap pantulan dirinya di dalam cermin, wajahnya terlampau sempurna. Mata seindah rembulan yang berbingkai alis tebal, hidung kecilnya yang menjulang dan disempurnakan oleh bibir merah muda yang sedikit bervolume. Dara menyunggingkan senyum pada dirinya sendiri, senyum manis yang terasa kelat untuknya telan.
"Non, Dara?" Panggil seseorang di luar kamarnya. Dara menghela napas sejenak. Tubuhnya lelah begitupun hatinya dan pikirannya. Ia masih enggan keluar dari kamarnya dan juga tak berminat bertemu siapapun hari ini.
"Ada seseorang yang nyariin, Non." Bi Inah memberi tahu.
"Iya, Bi. Aku keluar!" sahut Dara pasrah.
Dilihatnya seseorang di sana. Laki-laki itu memunggunginya. Bi Inah yang masih ada di samping Dara menoleh bersamaan dengan Dara yang juga ikut menoleh. Wanita paruh baya itu tersenyum kepada Dara, "ganteng loh Non orangnya!" ucap Bi Inah menggoda.
Dara mencoba tersenyum sebaik mungkin berharap segala yang terjadi kemaren tak lagi meninggalkan bekas di wajahnya yang pias.
Fokus Dara kembali lagi pada sosok lelaki yang masih membelakanginya, sepertinya lelaki itu belum menyadari kehadiran Dara di belakangnya.
Dara berdeham sebagai isyarat untuk mengalihkan perhatian orang itu. Dan benar saja ia langsung berbalik. Senyum manis ia sunggingkan untuk gadis cantik yang nampak terkejut melihat kedatangannya kerumah ini, namun pemuda itu mengabaikannya.
Ia terus memasang senyum tampannya dan kerlingan matanya tampak menggoda iman.
Jika dulu Dara sangat tak menyukai senyuman pemuda itu, tapi entah kenapa akhir-akhir ini gadis itu tampak menikmatinya dan kadang ia juga rindu dengan senyum jahil beserta kerlingan nakal dari mata pemuda itu.
"Hai!" Pemuda itu menyapa dan membuat Dara tersentak dari rasa terkejutnya.
"Bin?"
"Iya."
Dara berdecak saat melihat Bintang yang kini melebarkan senyumnya. Selalu senyuman itu berhasil membuat Dara jengkel.
"Kenapa kesini?" tanya Dara heran.
"Kangen!"
Sumpah demi apapun Dara sedang tidak berminat bercanda. Ini adalah hari terbaik yang ia miliki setelah melewati badai yang memporak-porandakan jiwanya beberapa hari yang lalu karena amarah mamanya. Dan tanpa ia duga hari ini justru ia dipertemukan dengan Bintang, yang dengan santainya lelaki itu mengatakan 'kangen'.
Dara tak habis pikir dengan semesta yang benar-benar ingin mempermainkan hidupnya. Di satu sisi dia dianugrahi seorang ibu yang luar biasa kejam dan di sisi lain ia dikaruniai seorang Bintang yang selalu ingin mengajaknya bahagia.
"Hei! Kok melamun? Nggak suka ya liat aku kesini?"
Dara cepat-cepat menggeleng dan sejurus kemudian mengangguk. Bintang terkekeh geli melihat Dara yang seperti salah tingkah. Dan hal itu semakin membuat Bintang ingin menggoda gadis di depannya.
"Gimana sih Ra, masa tamu nggak diajak duduk?" sindirnya, "Bibi aja pengertian banget langsung bawain aku minum!"
Dara melototkan matanya tajam dan dibalas cengiran dari Bintang.
"Makasih ya Bi_?"
__ADS_1
"Bi Inah, Den!" sahut wanita itu cepat dan diangguki Bintang dengan senyum tampannya.
Setelah bi Inah kembali masuk kedalam, Dara kembali bertanya pada Bintang. "Kenapa kesini, Bin?"
"Kangen, kan udah di bilang tadi!"
"Bin ...!" Dara mulai jengkel.
"Cuma mau mastiin kalau kau baik-baik aja, Ra." Akhirnya Bintang menjawab dengan benar.
Dara tertegun. Segitu besarkah Bintang peduli padanya.
"Aku baik-baik aja, Bin! Nggak usah khawatir."
Bintang mengambil gelas berisi minuman yang dibawa bi Inah tadi kemudian meminumnya.
"Nggak ada orang yang baik-baik aja setelah disekap semalaman di dalam gudang!"
Dan perkataan Bintang berhasil membuat Dara terkejut. Dara menatap Bintang dengan tatapan penuh selidik.
"Kau tau dari mana, Bin?"
Bintang tersenyum lalu beralih menggenggam tangan gadis itu, "Ayo ikut aku!" ajaknya pada Dara.
***
Ia baru akan menghubungi saudara kembarnya yang tak tau diri itu karena melepaskan tanggung jawab kantor kepadanya, dan saat itulah telpon genggamnya berbunyi.
"Kau kemana lagi, hah?" tanya Langit geram.
Terdengar kekehan renyah diseberang sana. Langit semakin merutuk seseorang itu.
"Ayolah Bin, aku nggak akan bisa melindungimu dari Papa kali ini!" ucap Langit yang tampak frustasi.
Kali ini bukan kekehan lagi yang didengar Langit tapi melainkan ledakan tawa dari saudara kembarnya itu.
"Ck, kalau kau didekatku sudah mati aku cekek kau Bin!"
"Kau dimana?" Kali ini Bintang yang bertanya.
"Hei ... kau pikir aku kelayapan sepertimu?" Nada bicara Langit mulai meninggi.
Bintang kembali tertawa di sana, "Ya ... ya, aku lupa kalau saudaraku satu-satunya ini pekerja keras," pujinya. "Boleh minta bantuan?"
Langit mengumpat, "Apa yang kau mau?"
"Carikan aku orang yang bisa diandalkan untuk mengawasi seseorang!"
__ADS_1
"Mengawasi siapa?"
"Ck, kenapa kau jadi kepo begitu, Lang?" ledeknya.
"Ah, terserah kau. Aku jadi pusing!"
Bintang kembali tergelak, "jangan lupa, Lang!"
"Ya."
"Siapa?" Tanya Nathan yang tiba-tiba sudah berada di ruangan Langit. Lelaki itu nampak mengerutkan keningnya saat melihat Langit menjawab telpon dengan kesal.
"Biasa, Pa. Anak Papa satu itu!" jawab Langit.
"Kemana lagi dia nggak ada di kantor?"
Langit mengedikan bahu dan kembali lagi fokus pada berkas-berkas yang menumpuk itu.
"Papa minta kau menemui seseorang, Lang!"
Langit menghentian gerak tangannya yang asik membubuhi tanda tangannya pada berkas-berkas tersebut.
"Hah?"
"Seseorang yang pernah menyelamatkan hidup Papa!"
Dahi Langit mengkerut, "Seseorang yang pernah menyelamatkan hidup Papa?"
"Ya ... dia baru saja kembali ke negara ini."
"Untuk apa aku menemuinya dan kenapa bukan papa saja?"
Nathan menggeleng, "Papa belum bisa menemuinya sekarang."
Langit semakin bingung. Begitu banyak pertanyaan yang bermunculan di benaknya. Tapi ia bisa apa, selain menjalankan tugas yang di perintahkan Nathan padanya.
"Pa?"
"Ya?"
"Kapan aku harus menemui orang itu?" tanya Langit akhirnya setelah beberapa detik mereka terdiam. "Dan apa yang harus ak sampaikan padanya?"
Nathan tersenyum penuh makna pada Langit, "Nanti Papa atur jadwal buat kau bertemu orang itu."
Langit bergeming. Kenapa Papanya tiba-tiba menjadi aneh.
BERSAMBUNG...
__ADS_1
Maaf ya mungkin alurnya masih acak-acakan, tapi nanti bakal nemu kok titik penyelesaiannya. Makasih buat semua yang udah mampir. Jangan lupa mampir di IG Lemontea2704 ya. Makasih... makasih..see you babay.