Langit Dan Bintang

Langit Dan Bintang
Info Dari Langit


__ADS_3

"Yakin mau pulang?"


"Aku nggak mungkin terus sembunyi di sini kan Bin?"


Bintang mengangguk. Dara benar, tidak mungkin juga untuknya membiarkan gadis itu sembunyi layaknya penjahat yang sedang melarikan diri.


Bintang mengamati setiap gestur gelisah yang coba disembunyikan gadis itu darinya. Lelaki itu dalam keadaan waras, maka ia akan menanggapi Dara dengan serius kali ini.


"Apa yang akan kau katakan pada wanita itu kelak...ah, maksudku Mamamu?"


Dara menoleh pada Bintang, lelaki itu masih sibuk membelai kucing yang tampak pulas di pangkuannya.


"Aku nggak perlu mengatakan apapun padanya dan dia juga nggak akan pernah peduli dengan alasanku!"


Jawaban Dara cukup membuat Bintang paham bahwa betapa tidak berartinya gadis itu untuk Laras.


"Jangan khawatir, Bin. Dia nggak akan membunuhku!" Lanjut Dara berucap, namun terlihat ada senyum getir di bibir gadis itu.


"Walau sebenarnya aku lebih memilih dia bunuh dari pada dia siksa!" Dara mengucapkan kalimat itu dengan pelan. Matanya menatap lurus pada pohon-pohon rindang di seberang sungai.


Mereka kini duduk pada balai-balai yang terbuat dari kayu. Tak ada atap pada balai-balai ini, ukurannya pun hanya bisa menampung dua orang saja untuk duduk. Tingginya hampir sedada orang dewasa. Terdapat dua anak tangga yang juga terbuat dari kayu sebagai undukan untuk mempermudah menaikinya.


Bintang masih mengelus kucing manis itu yang kini menggeliat bangun. Bintang melepaskan hewan berbulu itu, membiarkan ia melompat turun dan mencari kenyamanan yang lain. Mungkin berada dipangkuan Bintang bukanlah hal yang menyenangkan.


Seperti Dara saat ini. Ia akan membiarkan gadis itu pergi. Membiarkan Dara menyelesaikan masalah hidupnya sendiri. Bintang bukan tidak ingin membantu tapi gadis itu yang menolak. Dia tidak ingin membuat Bintang mendapat masalah dengan mamanya, walau sebenarnya hal itu bukan masalah untuk Bintang.


"Jangan biarkan siapapun menyakitimu, Ra. Kau harus bisa melindungi dirimu sendiri!"


Dara membisu, tidak menjawab iya atau menggeleng tidak. Di dalam hatinya ia tau badai seperti apa yang akan dia hadapi setelah ini.


Bintang meraih jemari gadis yang terlihat melamun itu. Menggenggamnya erat seolah ia sedang menyalurkan kekuatan pada gadis itu.


Dara menoleh memaksakan senyum di bibirnya.


"Boleh aku mengatakan ini sekali lagi?"


Dara menggeleng. Ia tau hal apa yang akan Bintang katakan padanya.


"Jangan Bin...lupakan semua perasaan itu." Dara menundukan kepalanya.


"Aku terlalu cacat untuk dirimu yang sempurna," ucapnya lagi.


Bintang perlahan melepaskan genggamannya pada jemari gadis itu. Membiarkan segala perasaan kecewanya yang menguasai. Tidak, ia bukan kecewa karena penolakan Dara padanya. Dia kecewa pada dirinya sendiri yang belum mampu membawa gadis itu keluar dari lembah hitam hidupnya.

__ADS_1


Bintang merutuk dirinya sendiri. Di dalam hati ia bersumpah akan membawa Dara pergi dari Laras si wanita kejam itu.


"Tunggu Ra, tunggu sebentar lagi!"


***


Bintang memasuki mobilnya setelah ia mengantarkan gadis kesayangannya kemblali. Entah ini keputusan tepat atau tidak yang pasti lelaki itu kini berada diambang kegelisahan.


"Dari mana aja Bin?"


Seseorang yang berperawakan dirinya menyapa. Langit menatap Bintang dengan raut cemas yang juga bercampur kesal.


Bintang nyengir, memperlihatkan wajahnya setengil biasanya. Dan hal itu membuat saudara kembarnya berdecak malas.


"Udah nggak pulang-pulang, sekalinya datang malah cengengesan!" omel Langit.


"Hehehe...Kau rindu ya dengan ku?"


"Ck. Gayamu sok dirindukan."


"Hahahahah...ngaku aja Lang, nggak usah gengsi gitu." Bintang semakin menggoda Langit, sedangkan yang digoda malah memperlihatkan wajah datarnya. Akhirnya Bintang mengalah dan sejurus kemudia ia mulai membahas topik yang serius bersama kembarannya itu.


"Informasi apa yang udah kau dapat, Lang?"


Langit menyerahkan sebuah amplop yang berisikan data mengenai seseorang.


"Dia tidak pernah menikah...tapi memiliki seorang putri."


Bintang tampak fokus dengan penjelasan Langit. "Kau tau?" lanjut Langit berucap, "dia pernah mengalami pelecehan dan akibat pelecehan itu ia depresi berat selama lebih dari dua tahun."


Bintang sedikit terlonjak mendengar informasi itu. "Jadi, gadis yang kau bilang sangat kau cintai itu, kemungkinan adalah anak dari hasil pemerkosaan yang dialminya dulu."


Langit menyelesaikan informasi yang ia dapat.


Bintang terpaku di tempatnya. Ada begitu banyak pertanyaan yang ingin ia lontarkan. Ada banyak pikiran yang juga berkecamuk dalam kepalanya. Ah, Dara. Gadis itu. Bagaimana kalau ia tau semua ini. Bintang semakin kacau. Apa yang akan ia lakukan setelah ini.


"Lalu sekarang apa yang akan kau lakukan?" Pertanyaan Langit membuyarkan lamunannya. Pertanyaan yang sama yang juga sedang ia pikirkan jawabannya.


"Menurutmu, apa sebaiknya yang harus aku lakuan?" Bintang balik bertanya.


Langit menatap lekat kearah saudara kembarnya yang tampak bingung itu. Belum pernah Langit melihat Bintang sebodoh seperti sekarang ini. Biasanya Bintang selalu cepat berpikir tantang tindakan yang akan ia ambil berikutnya jika masalah yang dihadapinya adalah perusahaan, tapi kali ini berbeda.


Langit menangkap raut gelisah di setiap gerakan mata Bintang. Gestur dari tubuhnya pun tak kalah menunjukan kegalauan.

__ADS_1


"Aku rasa sebaiknya kau istirahat dulu Bin." Tiba-tiba Langit memberi nasehat. Saudaranya itu sedang tidak baik-baik saja. Dan hal itu mendapat anggukan dari Bintang.


"Apa papa mencariku beberapa hari ini?" Bintang mengalihkan topik pembicaraan.


"Ya! Dan yang paling rewel di rumah saat kau tak pulang adalah Oma."


"Hah?" Bintang terpukau mendengar berita itu, "biasanya yang selalu dia khawatirkan dirimu?"


"Hei...Kau jangan lupa dia itu musuh rasa cinta, kau tau?"


Bintang tergelak, "Ya...ya...ya! Dia nggak akan ada duanya, ah...aku jadi merindukannya."


"Sebaiknya kau pulang, Bin. Temui Oma dan Mama...lalu istirahatlah." Langit memang manusia paling mengerti di bumi ini dan Bintang bersyukur akan hal itu.


"Baiklah! Thanks Lang...."


Langit mengangguk dan fokusnya kembali lagi kepada laptop di mejanya.


Bintang melesat meninggalkan gedung perusahaan itu. Ia ingin segera sampai ke rumahnya dan menemui dua wanita tercintanya, mama dan omanya di rumah.


"Hallo Ratuku!" Sapanya saat melihat Nada yang tengah menggunting daun-daun kering pada tanaman berpot di teras rumah. Bintang memeluk manja pada wanita itu dan dibalas usapan lembut di pipinya.


"Kangen Mama!" ucapnya.


"Kemana aja dua hari nggak pulang?" Dara bertanya lembut.


"Ada urusan Ma!"


Di saat itulah sang Oma keluar dari dalam rumah. Mendapati dirinya yang masih bergelayut manja pada bahu mamanya.


"Dasar anak nakal...kemana aja nggak pulang?" Pertanyaan yang disertai jeweran di telinganya membuat Bintang terpekik kaget.


"Wohoho...ampun nyonya...aku nggak akan mengulanginya lagi!" Bintang mengaduh sok dramatis.


"Makin gede makin susah diatur ya!"omel wanita itu.


"Ampun Oma sayang!" Bintang beralih memeluk wanita tua itu, "nggak lagi deh nggak pulang!" ucapnya.


"Kalau sampai nggak pulang lagi...Kau bakal Oma hukum!"


"Iya...iya!" jawabnya menyerah. Tapi bukan Bintang namanya jika tidak bisa membuat Omanya kembali berteriak.


"Kalau aku pulang bawa menantu plus cucu...juga nggak boleh?"

__ADS_1


"Bintaaaaang...," pekik Oma dan pemuda itu langsung terbirit masuk ke dalam rumah.


Bersambung...


__ADS_2