
Sedangkan di tempat berbeda, pemuda yang berprofesi sebagai chef di restoran berbintang itu kini tengah mengalami luka robek dibagian paha kirinya. Luka sayatan benda tajam dengan diameter hampir 10cm memanjang hingga kepaha atasnya.
Ferdi mengikat luka itu menggunakan kemejanya. Ia masuk kedalam mobilnya setelah berhasil melumpuhkan beberapa orang berpakaian preman dengan badan besar dan sangar.
Demi sahabatnya yang juga hampir kehilangan nyawa karena ulah orang-orang bayaran itu ia kini meringis menahan luka bacok yang sudah terasa perih disepanjang pahanya.
Dan disampingnya kini terlihat sahabatnya juga dalam keadaan tak kalah buruk darinya. Lelaki tampan itu menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi.
Darah segar masih terlihat mengucur dari balik kemeja putih yang ia kenakan. Luka itu ia dapat dari sentuhan benda runcing yang terbuat dari logam. Untung saja amunisi itu hanya menggores kulit lengannya jika tidak sudah dapat dipastikan nyawa lelaki itu sudah tidak berada di tubuhnya lagi.
"Apa kau gila melawan algojo-algojo itu tanpa bantuan orang-orang kakekmu?" Ferdi mulai mencecar sahabatnya dengan pertanyaan-pertanyaan menohok.
Lelaki muda itu meringis. Bukan meringis karena lukanya saja tapi juga meringis mendengar pertanyaan Ferdi.
"Justru mereka orang-orang suruhan kakekku!" jawabnya.
"Hah? Apa kakekmu udah nggak waras? Dia ingin membunuhmu? Gila." Ferdi tak percaya dengan apa yang terjadi saat ini.
"Dia bukan cuma gila, tapi juga psikopat!"
Ferdi cuma menggeleng.
"Kita kemana? Ke rumah sakit atau_?"
"Ke markas saja!" potongnya cepat.
Dengan sisa tenaga yang hampir habis Ferdi mengendarai mobilnya dengan kecepatan rata-rata. Hingga tak kurang dari 30 menit mobil yang dikendarainya sudah masuk dalam sebuah gedung dengan desain eropa klasik.
Gedung itu hanya terdiri dari tiga lantai dengan pintu besar yang menjulang. Disekeliling gedung terdapat tanaman rambat yang hampir menutup seluruh permukaan bangunan.
Jika dilihat sekilas gedung tersebut sudah tak layak untuk ditempati. Ditambah lagi bangunan itu terletak cukup jauh dari pemukiman penduduk ibu kota.
Ferdi terus melajukan mobilnya memasuki pintu tersebut. Bangunan dengan cat berwarna sedikit keemasan itu semakin menambah keyakinan bahwa gedung tersebut hanyalah gedung tua usang yang menyeramkan.
Tepat di sebelah timur dari bangunan itu terdapat sebuah lorong menuju ruang bawah tanah. Lorong tersebut hanya bisa dilewati oleh kendaraan roda dua. Atau jika dalam keadaan darurat seperti saat ini mereka terpaksa menggunakan pintu rahasia dengan card yang hanya dimiiki dua orang saja dan salah satu pemilik card itu adalah Nathan.
__ADS_1
"Cepat lakukan tugasmu, Derren!" Ferdi memerintah salah satu rekannya yang berada di dalam ruangan itu. Lelaki itu langsung merebahkan dirinya di atas matras yang memang tersedia di sana.
Hal yang sama juga dilakukan Nathan.
"Apa yang terjadi?" tanya Derren sambil membuka ikatan kemeja yang melilit paha Ferdi yang terluka.
Ferdi mendesis saat ikatan itu terlepas.
"Jangan bertanya dulu, Der! Aku merasa hampir kehabisan napas nih!" Ferdi mengeluh.
Tanpa bertanya apapun lagi, pria berkacamata itu segera menggunting celana bahan yang dikenakan Ferdi. Kain pelapis berwarna hitam pekat itu dipotong dari arah kanan memanjang ke kiri hingga 20cm. Kemudian gunting itu melesat naik hampir mencapai pinggang, lalu mengitari sebelah sisinya lagi hingga robekan kain itu hampir menyerupai persegi panjang.
Pria berkacamata yang berprofesi sebagai dokter bedah itu kini mulai menyuntikan anestesi lokal dibawah kulit yang terdapat luka tersebut.
"Lumayan nih lukanya!" Dokter itu sedikit membuat guyonan sambil tangannya yang mulai menyulam benang mengkilap itu dengan ujung jarum yang sedikit bengkok.
Ferdi mendelik dan dokter muda itu justru menampilkan senyum jenaka di bibirnya.
"Tenang Bro...ini nggak akan sesakit patah hati kok!" candanya.
"Ck. Kau tau apa soal patah hati?"
Ferdi merutuk dalam hatinya. Sumpah demi rasa lemon yang asam jika saat ini dirinya sedang tidak terluka sudah ia pastikan dokter tengil satu ini akan mendapat ganjaran yang setimpal dari ucapannya. Tapi nasib baik sedang memihak dokter muda itu jadi ia tak akan mendapat balasan apapun saat ini.
"Ngomong-ngomong bagaimana kelanjutan kisahmu dengan anak pemilik hotel itu?"
Dan di detik itu pula Ferdi teringat dengan seseorang. Gadis itu, anak pemilik hotel yang dimaksud Derren...kini? Ah, Ferdi langsung bangkit dari posisinya yang berbaring. Ia berdiri namun bentakan Derren mengembalikan kewarasannya.
"Hei ini belum selesai!" bentak Derren.
Ferdi mendengus, "Kalau begitu cepat selesaikan!" perintahnya.
Nathan yang berbaring lemah pada matras disebelah Ferdi hanya bisa menggeleng dengan kelakuan dua orang itu.
Seperti manusia yang terlupakan, Nathan kini hanya pasrah dengan rasa sakit yang sudah menjalar keseluruh tubuhnya. Kepalanya sudah terasa pusing dan berat. Tapi ia harus menunggu dokter satu-satunya di markas mereka itu selesai menangani pasien yang sudah menyelamatkan nyawanya.
__ADS_1
"Ayolah Der, cepat selesaikan ini! Aku harus segera pergi."
Derren mencibir namun setelahnya ia tersenyum lega telah menyelesaikan lebih dari dua puluh jahitan di paha Ferdi. Lima belas jahitan untuk bagian dalam dan dua belas jahitan di bagian luar.
Tanpa mempedulik luka yang baru saja dijahit, Ferdi segera pergi dari tempat itu. Mengabaikan tatapan aneh dari dua orang rekannya. Dalam pikiran Ferdi saat ini hanyalah gadis itu, Laras.
***
Dengan sekujur tubuhnya yang lebam dan darah segar terus menetes dari sudut bibirnya dan juga hidungnya. Gadis itu terus memberontak dalam kukungan tubuh besar lelaki asing itu.
Entah datang dari mana manusia tak berhati satu itu . Ia seperti binatang buas yang menakutkan. Ia juga serupa orang gila yang menjijikan. Dia laksana jelmaan iblis yang keluar dari kerak neraka.
Seketika dunia gadis cantik bermata sindah rembulan itu hancur. Nyawanya seakan melebur bersama hilangnya kehormatan yang dimilikinya. Semua itu direnggut paksa dengan rasa yang sangat menyakitkan.
Tak ada yang bisa menggambarkan seburuk apa malam yang dilaluinya kini. Bukan hanya dingin namun juga kelam yang mencekam.
Seperti badai yang memporak-porandakan isi bumi dan setelah itu ia berlalu. Kemudian yang ditinggalkannya hanyalah puing-puing yang tak berguna.
Badai itu telah merenggut semua keindahan yang dimilikinya. Menyisakan keburukan yang akan terus membekas sepanjang hidupnya.
Kini ia hanya meringkuk disudut ruang yang gelap. Menyembunyikan wajahnya di antara kedua lututnya. Air matanya telah habis, namun tubuh ringkihnya masih bergetar hebat. Ia menggigil, sebab pakaian yang ia kenakan sudah tak utuh.
Suara pintu yang dibuka beserta sinar terang dari lampu yang dinyalakan sama sekali tak membuat ia bergerak. Tubuhnya membatu seperti hatinya yang tiba-tiba saat ini membeku.
"Laras?" Lelaki itu berteriak terkejut mendapati ruangan tempat tinggalnya tak beraturan. Pecahan dari benda-benda yang dilempar gadis itu untuk melindungi dirinya tadi masih berhamburan memenuhi ruangan itu.
Ferdi mencari keberadaan wanita itu. Gadis yang diam-diam ia cintai selama ini. Gadis itu kini meringkuk dibalik meja di sudut ruangan.
"Laraaaas...!"
Ia mendekat. Ia mengerti dengan apa yang baru saja dialami gadis itu.
Ferdi ingin merengkuh gadis itu tapi sejurus kemudia gadis itu berteriak histeris menolak sentuhan siapapun di tubuhnya.
"Laras...maaf!"
__ADS_1
Bersambung...
Jreng...jreng...jreng!!!