Langit Dan Bintang

Langit Dan Bintang
Bersama Bintang


__ADS_3

Di sinilah mereka sekarang. Duduk berdiam di bawah rindangnya pohon flamboyan. Di tengah sunyi nya malam. Kelopak-kelopak bunga dari pohon rindang ini tak tampak oleh kegelapan malam. Warna jingga yang semarak hilang tertelan kelam. Seperti hidup gadis bernama Andara Larasati saat ini. Keceriaan dan kebahagiaan yang dimilikinya dulu, telah sirna oleh keegoisan dan kebencian tanpa sebab yang tak ia mengerti.


Semilir angin malam hampir menembus tulang-tulang. Membuat nyeri sekujur tubuh yang hanya berlapis jalinan benang tipis.


Hening. Hanya itu saja yang terdapat di sini. Tanpa suara, tanpa kata.


Mereka berdiam menyelami pikiran masing-masing. Dara masih dengan posisi yang sama, menunduk. Gadis itu sama sekali tak berniat bicara. Entah karena malas berdebat dengan pemuda di sampingnya ini atau karena malu dengan kejadian beberapa waktu lalu.


Sedangkan Bintang, lelaki muda itu pun tak sepatah kata yang ingin ia ucapkan. Sifat jahilnya tiba-tiba hilang. Biasanya Bintang tak bisa diam saat bertemu Dara. Setidaknya ia akan melepaskan cengiran khasnya yang bisa membuat Dara mengumpat kesal. Tapi justru yang terjadi saat ini, mereka terlihat seperti sepasang kekasih yang tengah berperang dingin.


"Ra?" Bintang memanggil Dara dengan suara terendahnya. Gadis itu akhirnya mengangkat kepalanya tanpa menoleh ke sumber suara.


"Maaf udah merepotkan mu," ucap Dara pelan.


Bintang kembali diam. Bingung dia harus berkata apa kepada Dara. Walaupun begitu banyak hal yang bisa dia sampaikan kepada gadis itu, tapi semuanya belum ada yang terasa pas untuk diungkapkan.


"Aku mau pulang!" Dara kembali bersuara.


Bintang menatap ke arah Dara. Melihat wajah gadis itu dari samping. Masih ada jejak air mata di sana, meskipun tersamarkan oleh gelapnya malam, tapi Bintang masih bisa melihat jelas semua itu.


"Mau pulang kemana?"


"Kerumahnya Mama Laras."


Bintang berdecak kesal, "Masih mau ke rumah wanita itu?"


"Tapi cuma di situ tempatku pulang!" jawab Dara pasrah.


Kali ini Bintang menggeram. Mengingat perlakuan Laras yang menyakiti Dara tadi masih membuat darah Bintang mendidih. Mana mungkin dia masih bisa membiarkan gadis kesayangannya kembali ke wanita itu. Pasti Dara akan semakin tersiksa.


"Nggak!" jawab Bintang tegas.


Dara menoleh, melihat ke arah pemuda yang sering kali membuat ia kesal itu. Biasanya Dara akan melayangkan tatapan membunuhnya tapi kali ini berbeda. Hanya tatapan memohon yang Bintang tangkap dari mata bulat indah itu.


"Terus aku harus pulang kemana, Bin?" Untuk pertama kali dalam hidup Dara menyebut nama lelaki itu secara langsung, dan anehnya itu terdengar lirih.

__ADS_1


"Ke rumahku, Ra."


Wajah gadis itu langsung berubah. Mata yang tadi terlihat sayu, kini membola tak percaya dengan apa yang ia dengar. Lelaki ini kenapa bercanda di saat seperti ini?


"Oke...oke," Bintang mengalah saat melihat ekspresi Dara yang terkejut, "kemana aja Ra, asal jangan ke rumah mama mu itu."


"Aku bisa menyewakan kau hotel, apartemen, atau villa sekalian kalau kau mau!" lanjut Bintang berucap.


Kali ini Dara bukan hanya terkejut melainkan takjub dengan tawaran yang menurutnya sungguh berlebihan. Sepersekian detik setelahnya mata yang membola itu berubah menjadi pelototan. Bintang mengerti dengan tatapan itu, tatapan membunuh yang selalu menjadi favoritnya.


Inilah Daranya, gadis yang selalu bersikap waspada terhadap dirinya, tapi beberapa saat yang lalu Bintang kehilangan itu, kehilangan Daranya yang garang.


"Wahahahahaha ...," Bintang tergelak kencang melihat ekspresi gadis itu.


"Jadi?" lanjutnya, "apa kau ada tempat lain, selain ke rumah wanita itu? emh ... maksudku, selain rumah Mamamu itu?"


Dara menggeleng.Tapi setelahnya ia teringat sebuah tempat yang lama tak ia datangi. Tempat itu adalah rumahnya dulu. Rumahnya bersama ayahnya. Rumah yang penuh keceriaan masa kecilnya. Rumah dimana ia merasa menjadi seorang putri yang sesungguhnya.


Disana dia tak pernah mendapat penghakiman seperti yang dialaminya belasan tahun ini. Hidup bersama Laras sang mama, benar-benar membuat Dara tertekan. Seringkali ia merasa ketakutan saat mendapati amarah wanita itu. Dara kehilangan kebahagiannya hampir separuh umurnya.


"Papa ... wahahaha! Papa ... ampun ... hahahaa ... Ara menyerah!"


"Sekarang sudah mengaku kalah?"


"Iya ... ya, ya ...! Habisnya Papa curang!" omel gadis kecil itu.


"Hei ... curang dari mana?" bantah lelaki itu.


"Kau menggunakan kekuatan supermu itu untuk menangkap ku."


"Hah? Mana ada begitu?" Lagi-lagi lelaki itu mencoba membela dirinya dari tuduhan gadis kecil di sampingnya.


"Kenyataannya memang seperti itu," gadis kecil berusia enam tahun itu lagi membantah sambil melangkah menjauh dari Sang Papa. "Kalau tidak, aku tak akan mudah kau angkat," lanjutnya mengomel.


Lelaki itu terbahak-bahak mendengar protes putri kecilnya. Dara kecil yang menggemaskan, ceria, penuh tawa.Dan jangan lupakan mata sebulat rembulan itu akan melayangkan tatapan membunuhnya saat marah atau kesal.

__ADS_1


Begitulah kepingan demi kepingan memori yang tak akan pernah Dara lupakan saat masuk kembali kedalam rumah sederhana mereka dulu. Tetesan air mata tak terasa berjatuhan dari mata sebulat rembulan itu. Kini rembulan itu telah redup, tergulung oleh awan hitam yang semakin memekatkan malam.


Bintang yang memperhatikan Dara dari tadi, akhirnya memilih mendekat. Menautkan jemarinya di sela-sela jemari gadis itu. Bukan bermaksud kurang ajar atau mengambil kesempatan atas kerapuhan gadis itu, tapi ia hanya ingin menyalurkan empatinya.


Dara butuh seseorang untuk memahami perasaannya. Dara harus tau, bahwa di dunia ini ada begitu banyak orang yang bisa menyayanginya, dan itu dimulai dari dirinya.


"Mau aku temani tidur di sini?" Bintang bertanya sehati-hati mungkin, takut gadis itu salah mengartikan tawarannya.


Dara menggeleng, "Aku butuh waktu sendiri, Bin!"


Bintang mengangguk paham.


Beberapa saat hanya hening yang menemani mereka di dalam rumah berlantai dua yang sederhana ini. Tampak di pojok kanan dari rumah ini ada sebuah lemari usang berwarna hitam yang tak lagi mengkilap. Di dalamnya terdapat buku-buku yang masih tersusun rapi. Di bawah tangga yang menuju kelantai dua terlihat ada piano yang juga telah usang. Piano itu tertutup oleh kain berwarna putih yang tak lagi menutup sempurna bagian atas piano. Sepertinya kain penutup itu tersibak oleh angin.


Masih dengan posisi tangannya menggenggam jemari Dara, Bintang membawa Dara menuju ke sebuah sofa yang letaknya di ruang tengah rumah ini. Dara mengikuti langkah Bintang dan mereka berakhir duduk di sofa itu.


"Sebelum pulang, apa mau aku pesankan makan?" tanya Bintang menawarkan.


"Aku nggak lap_!" suara Dara berhenti saat sesuatu terdengar dari perutnya.


Bintang tersenyum. Senyum jahil yang selalu bisa membuat Dara kesal.


"Itu masih mau bilang nggak lapar?"


Dara akhirnya menyerah. Percuma memberi alasan kepada pemuda di sampingnya. "Iya aku lapar!" jawabnya pelan.


"Aku pesan makan dulu ya, abis itu aku baru pulang?"


Jam telah menunjuk pada angka 12.15 dini hari saat makanan yang dipesannya sampai. Bintang segera membuka pintu dan menerima kantong plastik berwarna merah muda itu dari sang kurir.


Saat kembali kedalam ia mendapati Dara yang telah tertidur di sofa tempat mereka duduk tadi. Bintang mengamati wajah yang terlihat lelah itu dan Bintang merasa semakin jatuh cinta kepada gadis yang memiliki sejuta rahasia di hidupnya itu.


"Tidurlah! Aku akan menemanimu hingga nanti."


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2