Langit Yang Menghilang

Langit Yang Menghilang
10


__ADS_3

Saat Aira akan maju menghajar para preman yang disewa Sinta. Raka malah datang dan langsung menarik tangan gadis itu. Mereka berdua kabur dari sana, tentu saja keduanya segera disusul oleh para preman yang tadi mengganggu Aira.


Lama berlari, membuat Raka semakin kelelahan. Laju lari pemuda itu semakin melambat saja setiap langkahnya. Aira pun menanyakan apa Raka bisa berkelahi. Raka menjawab bisa dan Aira memutuskan untuk tak berlari lagi. Mereka akan menghadapi para pengganggu itu. Lari seperti ini hanya akan menguras tenaga dan hasil akhirnya mereka akan ditangkap dengan mudah. Lebih baik tenaga yang masih tersisa digunakan untuk menghajar pada baj*ngan yang menjengkelkan dan terus mengejar mereka.


Raka jelas kesal mendengar ucapan Aira. Dia sudah kelelahan, mana bisa dia melawan mereka semua. Aira malah tersenyum dan mengatakan dia yang akan menyelesaikan sisanya.


Raka yang keras kepala kembali menggandeng lengan Aira. "Lebih baik kita lari! Kita pergi ke kantor polisi saja," kata pemuda itu memikirkan solusi yang lebih aman.


"Terlambat, mereka sudah mengepung," bisik Aira masih dengan suara tenang. Raka menatap aneh Aira, apa gadis itu tak kenal takut atau dia tak tahu caranya berekspresi. Kenapa wajahnya masih tetap datar dan tenang padahal sedang menghadapi situasi yang berbahaya.


"Sebenarnya siapa mereka?" tanya Raka tak habis pikir kenapa teman sekelasnya ini dikejar-kejar orang sebanyak ini.


Aira mengangkat bahu ringan. "Tak tahu!" balasnya. "Aku baru mau mencari tahu saat kamu membawaku lari," tambah gadis itu lagi.


"Ha-ha-ha, gadis manis dan pahlawan kesiangan kita rupanya lelah," suara tawa yang terdengar sumbang masuk ke telinga Aira.


"Makanya, sejak awal kenapa harus main kejar-kejaran begini, cantik," kekeh yang lain disertai seringai.


"Siapa kalian?" tanya Raka maju, pemuda itu melindungi Aira di belakangnya. "Kalau ini masalah uang, akan kuberikan sepuluh kali lipat lebih banyak. Asal kalian pergi dan tak mengganggu kami lagi!" lanjutnya mencoba mencari jalan damai. Yah, kalau masalahnya hanya uang, dia akan menyelesaikannya semudah membalik telapak tangan.


"Ya, ya, ya! Tuan muda, meski kami penjahat, tapi kami tahu yang mananya kesetiaan!" tukas salah satu di antara mereka menolak tawaran Raka secara langsung.

__ADS_1


"Kami bisa menghajar tuan muda hingga babak belur lalu mengambil semua barang yang anda gunakan sekarang," tambah yang lain mengundang tawa.


"Berisik!" desis Aira mulai kesal karena lawannya terlalu banyak bicara. "Mari kita selesaikan ini! Telingaku sakit mendengar suara kalian!" umpat gadis itu dengan nada datar.


"Heh, bodoh! Jangan memulai sesuatu yang gak bisa kamu atasi! Diam saja, aku sedang bernegosiasi dengan mereka, bodoh!" sela Raka berbisik sambil mengumpati Aira.


"Mereka bertengkar!" kekeh si bos preman menertawakan Aira dan Raka. "Oi, tuan muda! Kenapa tak memilih kubu kami saja? Dan aku akan membiarkan tuan muda ikut merasakan kesenangan dunia dengan mempermainkan gadis angkuh ini!" kata si pemimpin itu memberi penawaran.


"Mari habisi mereka!" desis Raka kesal. "Aku benci kalau harus disamakan dengan orang-orang seperti mereka!" katanya lagi menatap tajam ke arah kepala preman yang tadi berbicara dengannya.


"Terserah, ayo lakukan sedikit pemanasan," timpal Aira tak peduli.


"Berteriak dan menangis lah, cantik. Aku suka mendengar suara teriakan," kekeh si bos semakin menatap penuh ambisi yang aneh ke arah Aira.


Aira menarik sudut bibirnya ke atas, meski samar tapi tetap saja terlihat sedikit menakutkan. Beberapa di antara para preman yang melihat seringai Aira terdiam dan tak berani bergerak. Tapi mereka segera membuang perasaan takut itu dan merasa kalau mereka hanya salah lihat saja. Ada bos mereka di sini, apa yang harus mereka takutkan dari remaja perempuan berbadan kecil seperti target mereka ini.


"Akan aku perdengarkan teriakan yang paling kamu sukai!" gumam Aira sebelum menyerbu maju ke depan. Hanya sekejap, Raka pun tak bisa mengikuti pergerakan gadis itu. Yang dia dengar hanya suara teriakan dan jeritan.


"Bagaimana? Apa kurang?" kata Aira maju perlahan, membuat mereka semua ketakutan melihat Aira yang berjalan semakin dan semakin pelan. Insting mereka menyuruh mereka untuk segera lari, tapi kaki mereka tak mau mengikuti.


"Si*lan! Dia tak mengatakan kalau target kita bisa berkelahi!" umpat salah satu di antara mereka.

__ADS_1


"Bukan hanya sekedar bisa, bodoh! Perempuan itu bahkan melumpuhkan lebih dari separuh anggota kita dalam sekejap!" tukas yang lain mengumpat.


"Memangnya aku tak bisa melihat?!" balas orang yang pertama berbicara.


"Diam!!!" teriak si bos angkat bicara. "Nona, tolong lepaskan kami. Kami berjanji tak akan mengusik atau muncul di hadapan anda lagi," katanya dengan sungguh-sungguh. Dia jelas malu melakukan hal ini, tapi ini semua dia lakukan agar anggotanya tak semakin terluka.


"Kenapa harus?" tukas Aira dengan nada dingin. "Bukankah kamu menyukai suara teriakan? Aku bisa memberikan lebih dari ini!" lanjut gadis itu terkesan acuh dan dingin.


"Mari sudahi ini, mereka menyerah dan itu berakhir baik untuk kita," bisik Raka yang akhirnya tersadar dari terkepukauannya pada Aira. "Kalian boleh pergi!" kata Raka.


Para preman tadi tak ada yang bergeming, mereka menatap lurus pada Aira. Kata-kata Raka sama sekali tak diindahkan, bagi mereka keputusan Aira lah yang akan mereka ikuti.


Melihat Aira masih tetap diam, bos preman itu pun maju. "Jika anda keberatan, anda boleh menyiksa saya. Tapi tolong lepaskan anak buah saya! Mereka hanya mengikuti apa yang saya perintahkan!" katanya dengan nada sopan dan penuh harap.


"Preman yang punya sopan santun, eh. Aku suka," kata Aira tanpa ekspresi. "Aku akan melepaskan kalian semua, tapi beri tahu aku siapa yang mengutus kalian untuk mengganggu aku?" tanya gadis itu ingin tahu. Oh, tentu saja akan ada balasan yang didapatkan orang itu kalau dia sudah tahu siapa dalang yang membuat dia harus terlibat perkelahian geng seperti ini.


"Sinta, kaki dibayar olehnya. Ini yang yang kami dapatkan!" kata si bos memperlihatkan bukti transferan bayaran untuk mereka.


"Tidak mungkin! Meski menjengkelkan, Sinta sangat baik!" kata Raka membela teman sekelasnya. Sinta dikenal sebagai malaikat di kelas mereka, hanya satu yang menjengkelkan menurut Raka, gadis itu selalu menempel padanya dan menggangu dirinya. Itu saja, selebihnya tak ada masalah sama sekali. "Jangan percaya pada mereka, Ra!" kata Raka.


"Kami tak berbohong! Kami bisa buktikan kalau kamu benar!" ucap para preman tak terima dicurigai berbohong.

__ADS_1


__ADS_2