Langit Yang Menghilang

Langit Yang Menghilang
27


__ADS_3

Dan di sinilah mereka berada, tepat di sarang musuh. Aira memasang tampang datar, menyembunyikan sebagian wajahnya di balik topi. "Ada perlu apa?" tanya orang yang berjaga.


"Saya mengantarkan pesanan!" balas Aira membuat suaranya terdengar lebih besar.


"Sebentar!" kata si penjaga lagi. Tak lama gerbang besar itu pun terbuka. "Untuk siapa?" tanyanya menatap waspada pada orang bertubuh kecil di depannya. Siapa yang tahu kalau dia mungkin saja musuh yang berpura-pura jadi pengantar paket.


"Tuan pemimpin!" kata Aira menunjuk ke arah mobilnya.


Orang tadi pun menyipitkan matanya, mencoba melihat dari tempat dia berdiri saat ini. Dia hanya bisa melihat kalau di dalam mobil ada orang, tapi dia sama sekali tak bisa menebak siapa itu. "Tuan akan segera datang!" katanya setalah melapor ke ketua mereka.


Seorang pria berwajah sangat dan berotot pun tiba, gigi-gigi runcing terlihat jelas saat pria itu tersenyum lebar. "Aku tak ingat kalau aku memesan sesuatu!" katanya dengan nada menggertak.


"Mengapa anda tak memastikan langsung?" tukas Aira menimpali.


"Dan kalau memang bukan pesananku?" ancam pria itu sambil mengayun-ayunkan lengannya.


"Maka aku akan mengantarnya ke tempat lain!" kata Aira berani.


Si ketua tertawa keras, senang bertemu dengan orang yang berani menjawab pertanyaannya. "Mari kita pastikan!" katanya menyuruh Aira memperlihatkan paket yang katanya pesanannya sendiri.


Mata pria tadi pun terbelalak senang, senyum teramat lebar tercetak di wajahnya. Dia tertawa puas melihat apa yang dimaksud paket untuk dirinya. "Apa yang harus kuberikan sebagai imbalannya?" katanya mulai berbicara dengan nada yang lebih bersahabat.


"Cara yang paling gampang!" balas Aira.


"Berapa banyak?" tanya si ketua.


"Seberapa banyak menurut anda harga untuk ketiganya?" Aira malah balik bertanya


Si ketua tertawa sekali lagi. Dia menuliskan cek dalam jumlah yang sangat besar. "Aku harap ini cukup!" katanya senang.


"Bisa aku minta satu permintaan?" tanya Aira menerima cek tersebut.


"Apa itu?" tanya si ketua ingin tahu.


"Izinkan aku melihat secara langsung mereka disiksa hingga mereka mati!" ucap Aira tegas.

__ADS_1


"Bukan hal sulit," balas si ketua. "Tapi kenapa aku harus mengizinkannya?" tanyanya lagi.


"Anggap saja sebagai bayaran tambahan karena saya mendatangi anda lebih dulu dari pada kelompok lain yang juga mengincar mereka!" kata Aira mengangkat bahu acuh.


"Jaga sikap anda di depan ketua!" tukas anak buah pria besar tadi tak suka dengan sikap Aira.


Si ketua mengangkat tangannya, menyuruh anak buahnya untuk diam saja dan tak boleh ikut campur. "Baiklah, akan kuberikan kursi di sebelahku dengan senang hati untuk anda!" katanya memutuskan.


"Sebuah kehormatan untuk saya!" balas Aira tersenyum bisnis.


Aira menatap datar ke arah Raymond yang masih belum sadarkan diri, pria itu diikat di atas kursi dengan berbagai alat penyiksaan yang tersedia di sampingnya. "Kuharap gadis lembut seperti anda tak akan menjerit ketakutan," bisik si ketua.


Aira melirik singkat kemudian membalas. "Saya justru berharap akan ada tontonan seru nantinya!" tawa si ketua menggelegar, senang mendapatkan teman yang menurutnya satu jalur dengan dirinya. Berani tanpa kenal takut sama sekali.


"Bagaimana anda meringkus mereka bertiga?" tanya si ketua penasaran.


"Bisa saya simpan itu sebagai rahasia?" tukas Aira datar.


"Tentu, aku juga tak terlalu penasaran," balas si ketua santai. Pria itu pun memberi kode, menyuruh anak buahnya membuat ketiga tawanannya itu segera tersadar bagaimana pun caranya.


Si ketua terkekeh melihat reaksi musuhnya yang baru tersadar, ini merupakan tontonan yang sangat menyenangkan dan menghibur. "Yo! Lama tak bertemu, Ray," sapa si ketua menggunakan nada mengejek.


"Harry!!!" geram Raymond menatap ke arah musuhnya. Matanya melotot semakin tajam kala melihat siapa yang duduk di samping musuhnya itu. "Apa yang dilakukan j*lang si*lan itu di sana?" desisnya menatap Aira dengan tatapan menusuk.


"Wah, wah, sepertinya hubungan kalian lebih dalam dari yang kuduga, ya?" tukas si ketua yang dipanggil Harry oleh Raymond. "Nona? Apa kalian saling mengenal?" lanjut Harry mengajukan pertanyaan.


Aira menyunggingkan senyum tipis, tatapan gadis itu berkilat mengejek. "Lebih dari yang anda kira, hingga saya ingin melihat dirinya menderita dan meminta kematian di saat putus asa!" ucap gadis itu santai.


"Yah, anda rupanya sangat kejam, nona!" tukas Harry menimpali. "Tapi aku suka itu?!" ucapnya lagi melemparkan senyum ramah.


"Ray, aku tak mungkin membuat penonton yang aku miliki kecewa! Jadi, mari bermain peran dengan benar," kekehnya sambil menjentikkan jari, memberi isyarat pada anak buahnya untuk mulai menyiksa Raymond setelah ini.


"Akan aku bayar sepuluh kali lipat, tapi buat j*lang itu yang disiksa hingga mati di sini!" ucap Raymond memutar otak agar selamat. Uang bisa dicari yang penting dia masih hidup ke depannya.


"Hmm, tawaran yang menggiurkan," balas Harry pura-pura tertarik. "Tapi bagaimana ini? Aku sudah menyukai gadis ini sejak pertama bertemu, jadi aku tak bisa menerima tawaran darimu, Ray," katanya lagi

__ADS_1


"Aira! J*lang! Akan kupastikan kamu membusuk di neraka?!" tukas Raymond menyumpahi Aira.


"Saya juga tak pernah mengharap untuk bisa masuk ke surga!" kata Aira santai.


"Nona cantik, apa kamu salah satu anak buah yang dimiliki Ray?" tebak Harry sambil menonton Raymond disiksa.


"Ya!" balas Aira singkat.


"Ck, ck, ck, apa yang Ray lakukan hingga anak buahnya sendiri mengkhianati dia sampai seperti ini?" ucap Harry mendengus menatap Raymond yang menjerit karena disiksa.


"Membuatku menjadi boneka setelah membunuh kedua orang tuaku," balas Aira terus menatap ke arah Raymond tanpa berkedip.


"Oh, boneka cantik yang sangat dibangga-banggakannya itu ternyata kamu?" tukas Harry cukup terkejut.


Aira mengangkat bahu acuh. "Entah, dia hanya memiliki saya selama ini yang bisa dipanggil boneka kesayangannya," tukasnya tak peduli.


"Nona, ini informasi yang berbahaya! Bagaimana kalau aku malah memaksa kamu menjadi boneka di kelompokku nantinya karena hal ini?" kata Harry sedikit melempar candaan jahil.


"Lalu anda bisa bersiap, mungkin anda akan menempati posisi yang sama seperti pria di sana!" balas Aira tanpa takut.


Harry mengangkat kedua tangannya ke atas, dia menyerah dengan ide yang baru saja dia lontarkan di sela candaannya. "Aku masih ingin menguasai dunia hitam ini, nona," katanya.


"Aku juga ingin hidup dengan normal," tukas Aira membalas.


"Kalau butuh bantuan, hubungi saja aku!" Harry menyerahkan kartu namanya.


"Akan kuingat!" balas Aira menyimpan kartu nama Harry.


Keduanya lanjut menonton bagaimana Raymond disiksa. Pria itu akhirnya menghembuskan napas terakhir karena tak kuat kulitnya dicap dengan besi panas. Aira menatap diam, hatinya merasa kosong. Dia tak tahu apa dia bahagia atau tidak, yang jelas ini memang harus dia lakukan untuk memutuskan lingkaran setan yang menjeratnya selama ini.


"Terima kasih, saya pergi dulu!" tukas Aira melenggang pergi dengan santainya.


"Ketua? Apa tak masalah?" tanya tangan kanan Harry mengikuti langkah Aira dengan tatapan matanya.


"Setiap pertemuan memiliki takdirnya masing-masing," kata pria itu tersenyum tipis.

__ADS_1


"Lalu, mari kita ambil harta benda orang sinting tadi!" kekehnya senang mengetahui di mana saja Raymond menyembunyikan hartanya. Dia bisa untung banyak, bahkan setelah dia membayar sebanyak itu pada Aira, dia masih mendapatkan berkali lipat lebih banyak dari itu.


__ADS_2