
Aira menggunakan asap beracun untuk melenyapkan orang-orang yang mengancam dirinya. Anggap saja itu balasan karena berani berpikir dan menatapnya dengan tatapan menjijikkan. Dia juga hanya mengikuti keinginan mereka untuk bersenang-senang, kan. Jadi bukan salahnya kalau dia bersenang-senang dengan caranya bukan.
Baru saja sampai ke kamarnya dengan diam-diam dan hendak membuka pakaiannya setelah itu, Aira dikejutkan dengan lampu kamarnya yang menyala begitu tiba-tiba. Belum lagi pertanyaan dari pemilik rumah yang semakin membuat otaknya kosong dan berhenti berpikir sejenak. Gadis itu dan Raka kini saling tatap-menatap untuk waktu yang lama.
"Dari mana?" kata Raka mengulang pertanyaannya. Mata pemuda itu menyipit, sedikit curiga mengapa kawannya ini memakai pakaian serba hitam dan menyelinap diam-diam.
"Bisakah kamu menutup mata untuk kali ini saja?" ucap Aira mengalihkan pandangannya ke lain arah.
"Apa aku menanyakan hal yang sulit?" tukas Raka balik bertanya.
"Ini masalahku dan aku ingin menyelesaikannya sendiri!" balas Aira kembali menatap Raka.
Raka menarik napas dalam, percuma kalau dia memaksa. Mungkin Aira akan menjauh darinya kalau dia melakukan itu. "Kalau butuh bantuan, aku selalu ada di belakang kamu, Ra!" kata pemuda itu mengalah untuk kesekian kalinya. "Sekarang tidurlah, kita harus ke sekolah besok," ucapnya lagi meninggalkan Aira sendirian.
__ADS_1
Aira merasa hatinya terasa sedikit tergelitik, dia tak tahu apa artinya, tapi dia tak membenci perasaan yang baru saja dia rasakan untuk pertama kalinya. "Apa aku benar-benar bisa meminta bantuan padamu?" gumam gadis itu berniat menutup pintu kamarnya.
Raka kembali muncul sebelum pintu kamar tertutup rapat. "Tentu saja bisa!" balas pemuda itu yang rupanya mendengarkan ucapan Aira sebelumnya.
"Akan ku pertimbangkan! Lihat saja nanti," timpal Aira yang sebenarnya sedikit terkejut karena Raka tiba-tiba kembali muncul padahal tadi dia kira pemuda itu sudah pergi.
"Aku akan terus berada di sisimu dan menunggu sampai kamu mengatakan membutuhkan bantuan dariku!" kata Raka terlihat senang hanya karena Aira berjanji mempertimbangkan untuk memikirkan meminta bantuan padanya di kemudian hari.
"Selamat tidur, Ra! Mimpi indah!" kata pemuda itu dari luar. Tentu saja dia sedikit meninggikan suaranya agar Aira yang di dalam mendengar ucapannya.
...ೋ❀❀ೋ═══ • ═══ೋ❀❀ೋ...
Keesokan harinya, hari-hari berjalan seperti biasa. Aira dipanggil menghadap Raymond di hari ke sepuluh setelah dia membersihkan orang-orang jahat yang berpikiran kotor tentang dirinya.
__ADS_1
"Saya di sini, master!" kata Aira menghadap Raymond.
Wajah Raymond terlihat kusut, pria itu menyangga kepalanya sambil mengerutkan kening. "Kamu sudah datang, kesayanganku?!" ucap Raymond terlihat lebih baik setelah Aira datang.
"Ya, saya di sini, master!" kata gadis itu menjawab sambil menundukkan kepalanya. Enggan melihat manusia yang sudah membuat keluarga kecilnya nan bahagia hilang begitu saja.
"Apa kamu sudah dengar kalau kelompok hiu yang berada di bawah naunganku disapu bersih dalam satu malam?" terdengar suara gemeretak gigi yang nyaring dari Raymond.
"Saya mendengar saat dalam perjalanan ke sini, master. Beberapa membicarakannya di bawah sana," balas Aira.
"Kurang ajar!" maki Raymond kesal. "Sudah kukatakan untuk tidak bergosip, tapi mulut mereka terlalu luas untuk ditutup rupanya?!" lanjut pria itu terlihat semakin marah.
Aira diam saja, dia hanya menunggu Raymond kembali bicara dan mengatakan alasan mengapa dia dipanggil menghadap pria itu.
__ADS_1