
Raka mengikuti kelas tanpa banyak bicara, tapi sebenarnya seluruh perhatiannya hanya tertuju pada Aira seorang. Lihat saja bagaimana pemuda itu terus memperhatikan Aira yang duduk si sisinya.
"Kenapa?" tanya Aira berbisik. Dia jelas menyadari tatapan Raka yang terus tertuju padanya sedari tadi.
"Gak ada," balas Raka ikutan berbisik.
"Terus?" tanya Aira lagi.
Paham dengan maksud pertanyaan Aira, Raka pun segera menjawab. "Cuma pengen liatin kamu aja," katanya santai.
"Di rumah kan bisa," tanggap Aira balas menatap Raka.
"Gak sama!" kata pemuda itu keras kepala.
"Serah," tukas Aira tak ambil pusing. Terserah Raka mau ngapain, yang penting dia tak membuat masalah saja.
"Pulangan keliling-keliling dulu, mau gak?" tawar Raka. "Makan kek, main kek, atau ngapain aja, terserah!" lanjut pemuda itu berharap bisa jalan bareng Aira berduaan, bukan cuma bisa pulang dan pergi ke sekolah aja tiap hari.
"Oke," kata Aira setuju.
__ADS_1
"Aku gak percaya semudah itu?!" tukas Raka senang.
"Oh, jadi kamu maunya tadi aku nolak aja gitu?" balas Aira.
"Gak gitu juga, cuma aku kira aku bakalan harus bujuk-bujuk kamu dulu baru kamu mau." cengir pemuda itu.
Sepulang sekolah, sesuai kesepakatan, Raka dan Aira tak langsung pulang. Mereka jalan-jalan tanpa tujuan sama sekali. Hanya berkeliling, makan, dan melakukan hal lain. Raka juga mengajak Aira berbelanja, mengisi bahan makanan katanya.
Ponsel Aira bergetar di sakunya, gadis itu pun mengambil ponselnya dan menerima panggilan tersebut dengan segera. "Halo," kata gadis itu memulai percakapan.
Raka merasa penasaran, siapa yang menelepon Aira di jam segini. Apa sahabatnya atau malah kekasihnya. Tapi pemuda itu menekan rasa ingin tahunya dan menyibukkan diri memilih bahan makanan yang sekiranya gampang dimasak.
"Ada apa?" tanya Raka setelah Aira menutup panggilannya. "Ada masalah?" tanyanya lagi.
Aira memasang senyum tipis. "Tidak, hanya seorang kenalan yang terlibat masalah," kata Aira beralasan.
"Kalau butuh bantuan, bilang aja. Aku akan berusaha membantu sebisa aku," kata Raka mencoba berbagi beban dengan Aira.
"Thanks, aku menghargai kata-kata kamu," kata Aira membalas.
__ADS_1
"Jangan anggap ini hanya sekedar kata-kata, Ra. Aku bisa membantu meski gak banyak," kata pemuda itu dengan cepat.
"Ayo, balik. Aku capek," tukas Aira mengajak Raka kembali dan menyelesaikan acara belanja mereka.
Di sepanjang jalan, Aira hanya diam dan menatap ke luar. Raka juga merasa kalau dirinya tak bisa terlalu ikut campur pada urusan Aira jika gadis itu sendiri pun memilih diam dan mengurus semuanya sendiri.
...ೋ❀❀ೋ═══ • ═══ೋ❀❀ೋ...
Begitu sampai di kediaman Raka, Aira segera ke kamarnya dengan alasan sedikit merasa lelah. Raka mengiyakan, menyuruh gadis itu beristirahat dan tak perlu memikirkan apa pun. Saat tengah malam, Aira bangkit dari tidurnya dan berganti pakaian dengan cepat. Baju berwarna hitam pun menjadi pilihan dari gadis itu. Dia harus menyelesaikan sesuatu sebelum hal tersebut menjadi masalah besar dalam rencana balas dendamnya. Gadis itu menyelinap keluar dengan mudahnya dan segera menjalankan urusannya.
"Khe-khe-khe, lihat siapa yang datang?" kekehan menyambut kedatangan Aira ke sebuah gudang terbengkalai. "Aku tak percaya semudah ini untuk membuat tokoh utama kita yang paling disukai bos datang," kekehnya lagi.
Aira diam, menghitung jumlah orang yang harus dia bereskan dalam waktu sesingkat mungkin. Ada sepuluh orang yang mengepung dirinya, dia yakin ada jumlah yang sama untuk orang-orang yang bersembunyi entah di mana dan mengintai dirinya kalau dia melakukan perlawanan.
"Kenapa hanya segini?" tanya Aira dingin. "Apa aku seremeh itu untuk kalian?" tanyanya lagi disertai senyum mengejek.
Para pria berbadan besar itu pun menggertakkan gigi mendengar ucapan Aira. Apa jumlah mereka tak bisa meringkus gadis kecil yang bahkan tak memiliki senjata. "Jangan sombong! Jangan menganggap remeh semua hal di dunia ini?!" teriak si kepala plontos marah.
Aira mengangkat bahu ringan. "Hal yang sama berlaku untuk kalian," balasnya tanpa rasa takut sama sekali.
__ADS_1
Geram akan semuanya, mereka pun menyerang Aira secara membabi buta. Terlalu kesal dianggap remeh oleh seorang gadis kecil yang bahkan tak tahu betapa kejamnya dunia ini.