Langit Yang Menghilang

Langit Yang Menghilang
9


__ADS_3

Karena kehadiran Aira di kelas, Raka tak pernah bolos lagi dari sekolah. Meski kerjaan keduanya selalu beradu mulut kalau bertemu, tapi Raka tak pernah benar-benar menyakiti Aira seperti ancaman yang selalu dia lontarkan saat tak bisa melawan ucapan gadis itu.


Sinta, pemilik mata yang terus menatap penuh permusuhan ke arah Aira akhirnya kehilangan kesabaran. Dia menghubungi para preman sekolah dan mengeluarkan banyak uang untuk memberi pelajaran pada Aira. Terserah mereka mau berbuat apa, asal gadis itu tetap hidup dan tak berani lagi mendekati apa yang menjadi miliknya (Sinta).


Tentu saja, di hadapan uang yang sebanyak itu, para preman sekolah yang dikenal nakal itu pun tak akan menolak. Apa lagi target yang harus mereka ganggu seorang gadis yang terlihat sangat lembut. Tentu saja mereka langsung menerimanya tanpa pikir panjang. Dapat uang dengan pekerjaan yang mudah, jelas adalah hal yang paling mereka sukai.


"Harus sampai si jelek itu benar-benar kapok! paham?!" kata Sinta sebelum menyerahkan uang muka yang dia siapkan.


"Tentu, tentu, nona besar! Kami akan melakukan tugas yang anda berikan dengan baik!" kata si pemimpin preman yang sudah gatal ingin menerima uang itu dan bersenang-senang dengannya. Berapa banyak yang bisa dia beli dengan uang sebanyak itu, tentu saja mereka bisa bersenang-senang untuk waktu yang cukup lama sampai uang yang diberikan habis.


"Bagus! Kalau pekerjaan kalian berhasil dan aku puas, akan aku tambahkan dua kali lipat dari ini!" kata gadis itu tak peduli dengan masalah uang, dia hanya ingin menghancurkan musuh yang membuat matanya sakit hanya dengan melihatnya saja.


"Tenang saja, kami akan menyiksa musuh anda dengan sangat kejam hingga tak berani menampakkan diri lagi!" tawa keras terdengar. Mereka menganggap pekerjaan ini adalah pekerjaan yang paling mudah. "Kami akan segera membereskan orang yang menjadi duri dalam kehidupan bahagia anda, nona besar," katanya lagi mengumbar janji.


Sinta menyeringai senang, membayangkan betapa takutnya wajah jelek itu malah semakin membuat Sinta tak sabar. "Aku pegang kata-kata kamu!" tukas Sinta meninggalkan para preman yang sibuk menghitung uang yang dia berikan. Uang bukan masalah baginya, dia bisa menghamburkan uang sebanyak yang dia mau tanpa harus menjelaskan pada orang tuanya uang itu dia gunakan untuk apa saja.


...ೋ❀❀ೋ═══ • ═══ೋ❀❀ೋ...


Para preman yang diutus oleh Sinta pun menunggu di simpang jalan sepi yang sering dilewati Aira. Aira yang masuk dengan jalur beasiswa harus berjalan kaki untuk memudahkan dirinya mengenal lingkungan dan mencari berbagai jalan saat dibutuhkan guna melarikan diri. Aira mengernyit tipis saat dia merasa kalau dirinya sedang diikuti, tapi tetap saja gadis itu berpura-pura tak tahu. Dia malah mampir ke mini market untuk membeli minuman botol, setelahnya lalu dia lanjut berjalan lagi. Di setiap langkah yang Aira ambil, gadis itu terus menghitung ada berapa orang yang mengikuti dirinya. "Lima, ya," gumamnya sambil meminum minuman yang tadi dia beli. "Tak buruk untuk latihan," katanya datar.

__ADS_1


"Yo, gadis baik, bisakah kamu menuruti kakak-kakak ini?" sapaan yang terdengar mengancam dan meremehkan masuk ke telinga Aira. Gadis itu menatap datar pada orang yang menghalangi jalannya. Kini dia tahu apa yang sebenarnya terjadi, si penguntit tadi terus mengikutinya dan sekarang, gerombolan yang sama menghalangi jalannya. Jelas kalau ini sudah direncanakan. Siapa yang mengganggu misinya kali ini, apa grup lain yang juga mengemban misi yang sama. Kalau begitu artinya penyamaran Aira sudah ketahuan bukan.


"Jangan terlalu galak, bos. Lihat, nona kecil kita bahkan tak berani berbicara saking ketakutannya," ucap salah satu anak buah si bos sambil tertawa tak jelas.


"Kalian dari mana?" tanya Aira datar membuat suara tawa keras tadi langsung berhenti.


"Oh, suara yang sangat indah. Lebih indah lagi kalau nona bersedia menjerit dan menangis saat kita bersenang-senang nanti!" pria itu menjilat bibirnya, dia sungguh merasa lebih bersemangat setelah mendengar suara Aira yang menurutnya manis.


Aira masih memasang tampang dingin dan tak peduli. "Cepat katakan, dari mana kalian? Dengan begitu mungkin aku tak akan bersikap terlalu kasar?" ucapan Aira hanya dianggap sebagai ancaman kosong karena terlalu takut.


"Ayolah, cantik. Jangan terlalu galak, kami bahkan belum melakukan apa-apa tapi kamu sudah setakut ini?" kekeh si bos yang merasa superior.


Baru saja dia hendak mengambil langkah maju, sebuah suara menyela dari belakang. "Apa yang kamu lakukan? Kamu harusnya lari saat menghadapi situasi begini, bodoh!" belum sempat membalas, tangan Aira ditarik secara paksa oleh pemilik suara tadi.


"Raka?" gumam Aira menatap ke arah Raka yang membawanya kabur.


"Jangan bicara apa-apa! Kamu bisa berterimakasih nanti saat situasinya sudah aman!" ucap pemuda itu ngos-ngosan.


Aira tersenyum tipis, senyum paling tulus yang dia lakukan untuk pertama kalinya. "Oke," jawab Aira santai.

__ADS_1


"Bodoh! Cepat kejar! Jangan hanya diam saja!!!" teriak si bos dengan wajah marah. Bisa-bisanya mereka lupa memblokir jalan ke luar dan dari mana juga pemuda tadi datang. Sungguh menggangu pekerjaan mereka saja.


Terjadilah kejar-kejaran, sesekali Raka menoleh ke belakang memastikan mereka diikuti apa tidak. Pemuda itu terus mengumpat saat tahu kalau para pengganggu di belakang mereka semakin mendekat.


"Bertahanlah meski sulit, mereka trus mengejar, kita tak punya waktu untuk beristirahat," tukas Raka menatap singkat Aira. Tangan mereka berdua terus bertaut, Raka tak berniat melepaskan tangan gadis itu. Anggap saja dia memberi kekuatan agar Aira terus berlari meski sudah sangat kelelahan.


"Tak masalah," balas Aira mengambil langkah lebih cepat. Kini Raka yang ada di belakang Aira. "Aku masih bisa berlari," tambah gadis itu sembari tersenyum remeh.


Genggaman tangan mereka semakin erat, Raka sudah hampir mencapai batasnya dan Aira tahu akan hal itu. Semua terlihat dari seberapa melambatnya Raka berlari. "Untuk jaga-jaga boleh aku bertanya?" ucap Aira tanpa terdengar lelah sama sekali.


"Apa?" tanya Raka singkat. Napasnya sesak, dia tak bisa bicara lebih banyak dari ini.


"Kamu bisa berkelahi?" Aira memperlambat larinya, menyesuaikan dengan kecepatan Raka. "Tinju, pukul, tendang! Yang seperti itu," tambah Aira lagi.


"Sedikit," balas Raka semakin kelelahan.


"Bagus, mari berhenti berlari dan hadapi saja mereka," tukas Aira menghentikan larinya.


"Ya, aku kelelahan. Aku tak akan bisa menghadapi semuanya!" kata Raka mengelap keringat yang terus turun tanpa henti. Berapa lama dia berlari, kenapa dia belum bisa bernapas dengan normal padahal sudah beristirahat sebentar saat ini.

__ADS_1


"Tak masalah, aku yang akan mengurus sisanya," kata Aira menimpali. Dia tak dilarang melakukan bela diri, dia juga tak harus menjaga image sebagai gadis lemah yang butuh dilindungi. Jadi tak masalah kalau ada yang melihat dirinya bisa mengalahkan banyak pria yang mencoba menggangu dirinya. Ya, walau akan lebih baik kalau dia bisa membereskan mereka tanpa diketahui oleh siapa pun.


__ADS_2