
Sudah dua hari Aira menyamar sebagai muris baru, dia bahkan belum menemukan targetnya sama sekali. Pasalnya, orang yang menjadi targetnya tak pernah masuk. Dari informasi yang dia dapat dari teman-teman barunya, bocah itu termasuk bocah yang bermasalah dan sok berkuasa. Jika dia tak suka, maka itu akan menjadi neraka bagi orang yang tak disukainya itu hingga mereka lulus sekolah. Makanya lebih baik dijauhi dari pada berakhir dengan mendapatkan masalah.
"Woi, sumpah demi apa! Tadi gue liat Raka jalan masuk gerbang, dong!!!" seorang siswa membawa gosip terbaru. Aira yang mendengar itu tak menyadari kalau dirinya menyeringai karena targetnya sudah menampakkan diri.
"Raka, pangeran dingin yang lebih dingin dari pada suhu di kutub utara! Gue rela jadi jaket yang selalu dia pakai ke mana-mana!" ucap siswi lain berpikiran agak aneh.
"Sembarangan! Bisa gatal-gatal pangeran gue kalau lu jadi jaketnya!" sela yang lain sambil tertawa. "Gue dong, gue bakalan jadi kalung yang selalu melingkar di leher cantik pangeran gue!" tambahnya lagi.
Jelas siswi kedua yang lebih gila dari pada siswi pertama. Tapi tetap saja keduanya sama-sama gila menurut Aira.
"Eh, tapi bentar lagi bakalan ada tontonan yang seru, nih?!" tukas siswi yang dinobatkan sebagai bunga sekolah di kelas ini.
"Hi-hi-hi, betul-betul. Anak baru itu pasti akan kena marah sama Raka!" timpal yang lain sambil melirik sinis ke arah Aira.
"Huh, siapa suruh dia berani sekali duduk di samping tempat duduk pangeran kita!" ketus yang lain melempar tatapan tajam yang jelas tak Aira pedulikan.
"Biar tahu rasa dia!" tambah si paling cantik yang pertama kali angkat bicara tadi.
Aira memilih acuh, dia tetap diam meski mendengar semua suara jelek itu. Tak lama senyum tipis terbit di bibir mungil Aira. "Kalian pasti akan mendapatkan tontonan seru yang kalian inginkan!" gumam gadis itu dengan mata berkilat bahaya.
Raka, sang pangeran tampan nan dingin yang katanya tak tersentuh sekaligus target dari misi Aira kali ini pun memasuki kelas. Semua mata menatap kepadanya, memperhatikan gerak-gerik pemuda itu. Yah, kecuali Aira yang masih saja menyibukkan diri dengan membaca. "Minggir!!!" suara dingin penuh penekanan terdengar berbahaya. Namun, Aira tetap saja acuh. Tak mau tahu kalau itu ditujukan untuk dirinya.
"Oi! Tuli, ya?!" Raka menendang meja yang ditempati Aira.
Aira menutup bukunya. Gadis itu mendongak, balas menatap Raka dengan berani. "Kenapa harus?" tanya gadis itu sambil menelengkan kepalanya.
"Ini tempat dudukku!" desis Raka emosi. Baru kali ini ada yang berani melawan dirinya seperti ini. Apa lagi notabenenya perempuan, biasanya mereka selalu mengikuti apa yang dia inginkan tanpa dirinya harus bicara dua kali.
__ADS_1
"Saat aku masuk, guru yang menyuruh aku duduk di sini. Jadi pasti ini tempat duduk yang kosong alias gak ada yang punya!" balas Aira santai.
"Kalau aku bilang minggir, ya minggir!!! Kamu harus menurut kalau gak mau dapat masalah!" desis Raka melemparkan ancaman untuk Aira.
Aira menopang dagunya seraya tersenyum tipis menatap Raka. "Kapan hidup itu tak ada masalah?" katanya malas. "Terserah, sana kamu saja yang pindah!" tambah gadis itu tak peduli.
"Ada apa ini?" tanya seorang guru yang baru saja masuk untuk mengisi pelajaran.
"Gadis tolol ini gak mau pindah!" desis Raka tak peduli kalau dirinya berkata kasar di depan guru.
Sang guru terlihat memegang kepalanya, belum apa-apa dia sudah merasa butuh obat penurun tekanan darah. "Kamu bisa pindah ke tempat lain, Aira," tukas si guru berharap Aira bukan gadis keras kepala yang akan semakin membuat Raka marah. Dia sudah malas menghadapi kenakalan-kenakalan yang dilakukan pemuda itu.
"Kenapa harus? Ini tempat saya! Saya disuruh duduk di sini dari awal saya masuk!" balas Aira melawan tapi dengan nada sopan.
"Wah, ternyata ada anak yang tak sopan di sini, ya?!" dengus Raka terkekeh kesal kerena Aira terus memberi perlawanan.
"Yak!" teriak Raka sambil mengangkat tangannya.
"Apa? Kalah dalam berdebat, trus pengen lanjut main tangan, nih? Wah, laki banget yah," dengus Aira mengejek.
"Aira! Raka! Diam atau saya suruh berdiri di luar!" kata si guru angkat suara. Kapan pelajarannya dimulai kalau kedua murid keras kepala ini tak dilerai. "Kalian berdua bisa memilih mau duduk di situ berdua atau salah satunya mengalah!" tambah si guru memberikan solusi.
Aira tak bergeming, dia kembali membaca buku yang tadi ditutupnya. Raka menunggu satu hingga dua menit, karena Aira tak juga pindah. akhirnya Raka menarik kursi dan berbagi meja dengan Aira. Jelas dia tak mau mengalah, dia tak akan pernah melakukan itu.
"Mari kita mulai pelajaran hari ini!" kata si guru setelah suasana kelas sedikit tenang.
"Awas kamu nanti!" desis Raka berbisik pelan.
__ADS_1
"Uhh, menakutkan," balas Aira berpura-pura takut. "Akan kutunggu!" lanjut gadis itu nyengir lebar, jelas itu dia lakukan untuk membuat Raka semakin kesal.
"Sebenarnya dari mana datangnya gadis keras kepala ini?!" gerutu Raka misuh-misuh sendiri. "Padahal aku cuma gak turun beberapa hari san sudah ada pengganggu yan muncul di kelas, luar biasa!" katanya semakin kesal.
"Kata papa, aku datang dari kayangan, soalnya aku itu bidadari untuk papa aku!" balas Aira tanpa menatap Raka.
Raka mendengus mendengarnya. "Bidadari apa yang gak ada manis-manisnya kalau ngomong!" katanya kesal.
"Aku begini cuma sama orang yang nyebelin aja, ya!" balas Aira santai.
"Aku? Nyebelin? Ha-ha-ha, aku baru mendengar itu hari ini!" bisik Raka lagi. "Oh, aku paham. Kamu memakai trik baru untuk dekat sama aku, kan?" tambahnya tersenyum percaya diri.
Aira menatap jijik dan aneh ke arah Raka. "Pikirkan sesukamu saja!" katanya menggeser kursinya menjauh sedikit dari Raka. Tebakan pemuda itu memang tepat, tapi Aira tak mungkin mengakuinya. Bisa-bisa misinya gagal karena hal itu dan dia tak mau kalau itu sampai benar terjadi.
"Ya! Aku bukan kuman?!" desis Raka tersinggung.
"Bagiku tak ada bedanya!" timpal Aira tak peduli.
"Dasar aneh!" umpat Raka kesal.
"Dasar narsis!" balas Aira tak mau kalah.
"Aku benci kamu!" dengus Raka lagi.
"Bagus! Aku juga gak suka sama kamu!" timpal Aira mengangguk-anggukan kepalanya.
Raka berdecih kesal, dia kalah dari seorang siswi baru yang merusak hidupnya yang damai dan tenang. Yang lebih menjengkelkan lagi, dia merasa kesal tapi juga merasa kalau ini hal yang seru. Raka jadi tak bisa berhenti berceloteh dan menunggu balasan dari Aira agar mereka bisa terus berdebat.
__ADS_1
Hal tersebut membuat sepasang mata menatap benci ke arah Aira. Dia kesal karena pangeran hatinya malah bercanda dengan gadis lain dan tak pernah peduli padanya. "Akan aku buat dia sadar dengan tempatnya!" desis pemilik mata yang menatap marah ke arah Aira.