Langit Yang Menghilang

Langit Yang Menghilang
28


__ADS_3

Aira tak langsung pulang, gadis itu menginap di hotel terdekat dan membersihkan tubuhnya. Dia perlu berganti pakaian kalau hendak pulang ke rumah.


Dendamnya sudah terbalas, tak ada lagi yang akan memberikan dirinya perintah ini dan itu. Dia bebas, tapi dia tak tahu harus berbuat apa. Mungkin dia bisa bertanya pada Raka nanti saat dirinya sudah sampai ke tempat pemuda itu.


"Hidup normal, huh?" dengus gadis itu pelan. "Aku harap aku bisa melakukannya dengan santai," katanya lagi.


Begitu kembali, dirinya disambut oleh wajah cemas teman sekelasnya itu, siapa lagi kalau bukan Raka. "Sebenarnya kamu dari mana, Ra?" tanya pria itu. "Aku menelepon kamu berkali-kali, tapi gak ada yang nyambung satu pun!" katanya menunjukkan ponselnya sebagai bukti seberapa banyak dia menelepon Aira.


"Ponselku hilang," ucap Aira berbohong. Dia membuang benda pipih itu agar tak mengganggu.


Raka mengusap wajahnya kasar. "Besok kita beli dua ponsel! Jadi kalau ponsel satunya hilang, kamu masih bisa menghubungi dengan yang lain!" kata pria itu.


"Ya," balas Aira singkat.


"Sudah makan?" tanya Raka setelah cukup tenang. "Ah, ayo masuk dulu. Di luar udaranya cukup dingin!" tukas pemuda itu lagi.


Aira tersenyum tipis, mengikuti langkah Raka yang memimpin jalan di depan sembari terus mengoceh. "Raka," panggil Aira pelan.

__ADS_1


"Apa? Mau minta maaf? Gak usah," tukas pemuda itu menjawab ringan.


"Aku mau nanya," kata Aira lagi.


"Hmm?" gumam Raka menunggu kawannya melontarkan pertanyaan padanya.


"Bagaimana caranya hidup normal?" tanya Aira dengan tampang polos.


"Ya?" tanggap Raka kehabisan kata-kata. Pertanyaan macam apa itu. Memangnya selama ini gadis di depannya ini hidup seperti apa.


Raka membuka mulutnya, tak lama kemudian pemuda itu kembali menutup mulutnya. Dia bingung harus mengatakan apa untuk sekarang. "Biar aku pikirkan sebentar lagi!" ucap pemuda itu pada akhirnya meminta waktu untuk berpikir.


"Oke!" balas Aira menatap lurus pada Raka. Gadis itu menunggu jawaban dari kawannya dengan wajah serius dan terlihat sangat sabar.


"Jangan menatapku seperti itu," kata Raka menghindari tatapan Aira. "Aku jadi susah berpikir," ucapnya lagi menambahkan.


"Aku hanya menunggu dan tak mengatakan apa pun, kok," ucap gadis itu tak paham mengapa Raka tak suka dia menatap seperti tadi.

__ADS_1


Raka menarik napas panjang, salahnya mencoba bicara pada gadis di depannya ini. "Emm, mungkin kamu harus berteman dengan banyak orang, jalan-jalan bersama, mencoba membuka hati, banyak tertawa, menangis ketika sedih, dan banyak lagi yang lainnya yang dilakukan oleh semua orang di sekitar kita," kata Raka memberikan beberapa contoh yang bisa Aira lakukan.


Aira membuka bukunya, dia pun membaca apa.yang tertulis di sana. "Membuka hati sama dengan membuat hubungan baru. Bisa berteman atau berhubungan yang lebih dekat dan serius seperti berpacaran," katanya dengan lancar. "Apa aku juga harus mencari seseorang untuk kujadikan pacar?" gumam Aira pelan.


"Gak!!!" seru Raka tiba-tiba menyela.


"Ya?" tanggap Aira menatap Raka.


"Eng ..., maksud aku gak perlu sampai pacaran segala, kan!" ralat pemuda itu cepat. "Belum tentu kamu bisa dapat pasangan yang ngertiin kamu, gak maksa kamu untuk berubah atau gimana, ya kan!" lanjutnya sedikit panik. "Jadi gak perlu sampai seserius itu, ha-ha! Kenapa rasanya panas banget, ya?" tambahnya tak lupa mengalihkan topik di akhir.


"Tapi di buku?" tukas Aira menatap buku yang dipegangnya dengan tatapan ragu.


"Gak semua yang tertulis di situ harus diikuti, Ra!" balas Raka. "Kamu bisa menambahkan hal-hal lain atau mengurangi apa yang ditulis di sana," lanjutnya.


Aira mengangguk paham, Raka pasti benar karena kawannya itu punya banyak teman di sekolah mau pun di luar sekolah. Jadi lebih baik Aira mengikuti apa yang Raka katakan dari pada berpedoman pada buku yang bahkan penulisnya tak dia temui secara langsung.


Sejak hari itu Aira mulai berteman dengan semua teman di kelasnya. Di awal, Aira hanya menyapa. Tak lama ada beberapa siswi yang mendekat dan jadilah mereka teman tanpa disadari. Kehidupan yang cerah dan normal sedang menanti Aira. Gadis itu juga berhenti sepenuhnya dari dunia hitam dan hanya menjadi Aira. Gadis biasa yang merupakan anak sekolahan.

__ADS_1


__ADS_2