
Sinta berpura-pura mengkonfirmasi masalah kemarin. Padahal nyatanya dia malah memojokkan Aira dan berharap gadis itu tak bisa keluar dari masalah yang dia ciptakan.
Raka yang melihat itu pun geram, dia hampir saja berdiri dan menggebrak meja kalau tak mendengar Aira terkekeh pelan. "Aku? Berbuat apa?" tanya gadis itu menunjukkan wajah super dingin yang dia miliki. "Aku jadi apa?" tanyanya lagi penuh intimidasi. "Berpikirlah sebelum menjawab! Atau kamu akan menyesal nanti?!" tambahnya tak peduli.
Sinta mengepalkan tangannya, sesaat kemudian dia kembali bersikap tenang. "Aku tahu kamu gak bakal mau ngaku, tapi aku dan yang lainnya sangat jelas mendengar kalau kamu yang nyuruh mereka buat nyulik aku!" kata Sinta. "Aku gak ngarapin kamu bakalan minta maaf. Aku cuma mau tahu kenapa kamu lakuin itu ke aku? Aku ada salah apa? Kalau memang aku salah, aku minta maaf!" tambah Sinta sok jadi malaikat sekali lagi.
"Lalu di mana mereka?" tanya Aira. "Kantor polisi?" lanjutnya.
"Aku ngelepasin mereka sesuai janji kalau mereka mau ngaku siapa yang nyuruh mereka," kata Sinta cepat.
"Semudah itu?" dengus Aira. "Aku jadi bertanya-tanya otak kamu ada gunanya apa gak?" ejek Aira.
"Oi, kalau salah ya akui aja! Gak usah ngina-ngina gitu kali cuma buat pengalihan topik?!" decih Anto kesal.
Aira melemaskan tangannya. "Dengar, kali aku mau, aku gak butuh orang suruhan! Aku! Bisa! Ngelakuin itu sendiri!!!" kata Aira dengan nada berbahaya. Sedetik kemudian gadis itu tersenyum sangat tipis. "Buat apa membayar sekelompok idiot yang bahkan tak bisa menjaga mulutnya!" katanya menambahkan.
"Aku ngerti kalau kamu gak mau ngaku," ucap Sinta pelan. "Aku juga gak maksa," katanya lagi seolah mengalah.
__ADS_1
"Oh, aku baru ingat. Aku ada sesuatu yang cukup menarik untuk di dengar kalian semua! Mau dengar?" kata Aira main-main. "Boleh aku putar? Sepertinya mereka cukup penasaran apa ini?" tanya gadis itu menatap Sinta.
Sinta sedikit was-was, tapi dia menepis perasaan itu dengan segera. "Terserah kamu," katanya mencoba untuk tetap tenang.
"Benar, ya? Aku ngelakuin ini tanpa maksud apa pun dan gak ngarapin apa-apa. Aku mutar ini atas izin dari malaikat cantik di kelas kita!" kata Aira sebelum dia menekan tombol play di ponselnya.
Sinta terbelalak, suara itu. Bagaimana Aira bisa memilikinya. Tatapan mata penghuni kelas pun tertuju pada Sinta, gadis itu gemetar, tak tahu harus melakukan apa. Dia hanya ingin segera menghilang dari tempat ini. Apa yang salah, kenapa ini berakhir dengan kekalahannya.
"Oh, aku lupa. Ponsel aku entah bagaimana malah terhubung ke radio sekolah. Jadi bukan cuma kelas kita yang denger!" kata Aira tersenyum hingga matanya menyipit.
Sinta menggeram dalam hati, sedetik kemudian dia menitikkan air mata sambil menutup wajahnya menggunakan kedua tangannya. "Kenapa kamu lakuin ini? Aku salah apa sampai kamu fitnah aku dengan rekaman yang palsu seperti itu?" katanya menangis tersedu-sedu. Otak licik Sinta merasa kalau itu satu-satunya cara agar bisa keluar dari situasi sulit yang tak diduganya kali ini.
Sinta mengigit bibirnya kuat-kuat. Ingin rasanya dia berteriak dan menerjang Aira detik itu juga, tapi dia harus menahan diri agar tetap terlihat lemah dan baik hati. "Aku gak tahu orang mana yang bakalan kamu panggil dan ngasih pernyataan palsu. Aku juga sekalian minta maaf kalau aku punya salah sama kamu," kata Sinta jelas tak mau kalau para preman bodoh yang sudah gagal itu dipanggil. Bisa-bisa dia harus meninggalkan negara ini kalau itu terjadi.
"Tak perlu," kata Raka maju. Sinta menurunkan telapak tangannya yang menutupi wajahnya. Dia tak mengira Raka, pangerannya, akan maju dan menolong dirinya. Ah, apa ini juga termasuk skema pangeran yang menolong seorang putri yang disakiti.
"Kamu gak perlu memanggil orang-orang menjengkelkan itu! Aku bisa berdiri sebagai saksi kalau rekaman tadi itu benar adanya!" kata Raka melanjutkan.
__ADS_1
Hancur sudah. Image yang dibangun Sinta hilang tak berbekas. Semua mata menatapnya curiga. Jelas mereka akan percaya pada Raka. Meski teman mereka itu nakal dan bermasalah, tapi pemuda itu tak suka ikut campur apa lagi berbohong. Jadi semua ucapannya jelas merupakan suatu kebenaran.
"Kamu ... pun percaya padanya?" isak Sinta dengan mata berkaca-kaca, seakan dia bisa menangis lagi kapan saja. "Aku gak ngelakuin itu! Aku bisa bersumpah!" katanya lagi mempertahankan kalau dia benar dan tak akan berbohong sama sekali.
"Aku ada di sana saat mereka menelepon kamu, tuh," kata Raka dengan nada acuh. "Aku hampir saja berteriak dengan kesal saat kamu meminta untuk membereskan Aira tanpa peduli berapa uang yang dibutuhkan. Kamu juga akan memberi lebih dari yang mereka bayangkan kalau semua selesai dengan cepat," lanjut pemuda itu dengan wajah kesal. "Yah, sayangnya Aira mencegah itu terjadi dan malah merekam semua pembicaraan yang kalian lakukan," tambahnya santai, tak peduli kalau wajah Sinta sudah sangat merah padam. Gadis itu marah dan malu di saat yang bersamaan.
"Itu bohong! Perempuan ini pasti menggunakan trik untuk membuat kamu percaya, Raka! Atau mungkin saja dia menghipnotis kamu dan menyelipkan cerita karangan diingatan kamu!" kata Sinta mulai bicara meracau.
"Terserah apa katamu. Yang jelas aku sangat sadar dengan apa yang terjadi saat itu!" ucap Raka membalas.
"Arghh, ini tak mungkin! Ini hanya mimpi! Ya, pasti ini hanya mimpi?!" gumam Sinta berteriak lalu melarikan diri.
Hati itu, nama Sinta benar-benar terkenal dan rumit buruk tersebar luas. Gadis itu tak pernah lagi terlihat di sekolah, hingga tersiar kabar kalau dia pergi ke luar negeri saking malunya dan tak memiliki muka lagi untuk berpura-pura.
Raka dan Aira terlihat semakin dekat, terlebih Raka yang menjadi lebih cerewet kalau bersama Aira. Banyak yang meramalkan kalau keduanya akan menjadi pasangan di masa depan. Tentu saja Aira tak peduli dengan rumor tentang mereka. Bagi Aira lebih penting menjalankan misinya dan menyelesaikan semua secepatnya.
Raka yang merasa kalau mereka sudah berteman baik pun mengundang Aira ke rumahnya. Rumah yang selalu sepi karena kedua orang tuanya sangat jarang pulang.
__ADS_1
Aira mengiyakan undangan tersebut, dan dia akan berkunjung saat akhir pekan tiba. Raka juga meminta Aira untuk menginap kalau gadis itu memang tak memiliki kegiatan lain selama akhir pekan.
Dan di sinilah Aira, di sebuah kamar yang sangat luas dengan pemandangan indah yang memperlihatkan danau besar. Kamar yang tepat bersebelahan dengan pemilik rumah ini.