Langit Yang Menghilang

Langit Yang Menghilang
25


__ADS_3

Aira menghadap Raymond, gadis itu mengatakan kalau dia baru saja mengetahui tentang beberapa bawahan Raymond yang disapu bersih dalam semalam saat dia tiba. Dia mendengar dari para anak buah Raymond yang bergosip di bawah sana.


Mendengar hal itu, Raymond pun semakin marah. Dia sudah menyuruh mereka untuk tutup mulut, tapi rupanya mulut mereka sama sekali tak bisa dijaga.


Puas memaki dan menyumpahi anak buahnya serta menjanjikan hukuman nanti, Raymond pun kembali fokus pada Aira. "Aku tahu kamu sibuk mendekati target kita, tapi aku yakin kamu bisa mengemban satu tugas lagi, bukan? ucap pria itu menambahkan misi baru pada tugas tanpa menanyakan kesanggupan Aira.


"Akan saya lakukan," kata Aira setuju.


"Bagus, hanya kamu yang bisa ku percaya kali ini!" timpal Raymond tersenyum puas. "Sekarang pergilah!" kata pria itu memberi perintah.


Aira berjalan dengan tampang datar, kebetulan yang baik dia ditugaskan untuk tugas tambahan kali ini. Dia bisa merekayasa data dan membuat dia atau tiga kelompok lain menjadi musuh Raymond. Dengan begitu kehancuran kelompok yang Raymond bangga-banggakan akan segera berakhir hanya karena kesalahannya dalam memercayai seseorang sebagai bawahan yang dia kira tak akan pernah mengingat apa pun tentang masa lalunya.


"Yo, apa kabar?" tanya seseorang menghalangi langkah Aira. Tampangnya sangat rapi, terlalu tampan, dengan tatanan rambut yang sangat berminyak.


Aira mengernyit menatap pria di depannya ini. Dia tetap diam, sebelum hendak kembali melangkah tanpa peduli dengan orang yang sama sekali tak dia kenali itu.


"Jangan bilang kamu tak ingat aku?" tanya pria itu kembali menghentikan langkah Aira.


Aira menatap datar dalam diam. Apa harus menanyakan hal yang sudah pasti. "Astaga, aku Toni! Lawan tanding kamu beberapa waktu lalu!" katanya memperkenalkan diri.


"Tak ingat! Permisi?!" tukas Aira cuek.


"Ya, Tuhan. Masa gak ingat?" pekik pria itu tak percaya. "Padahal kamu terpatri lekat di hati dan ingatan aku, loh," katanya lagi sambil mengerlingkan matanya sekali.


"Saya harus pergi sekarang. Bisa menyingkir?" tanya Aira memasang tampang datar.


"Oh, oke," kata pria yang mengaku sebagai lawan tanding Aira.

__ADS_1


Aira berjalan tanpa menoleh ke belakang, membiarkan pria tadi merasa canggung sendiri karena sudah bersikap seolah mereka berdua teman dekat.


...ೋ❀❀ೋ═══ • ═══ೋ❀❀ೋ...


Di rumah, Raka memasak berbagai makanan sembari menunggu kawannya pulang. Pintu luar terbuka, sudah jelas siapa yang datang karena hanya yang mengetahui kode sandi yang bisa masuk tanpa perlu mengetuk pintu dan menunggu seseorang membukakan pintu dari dalam.


"Sudah datang?" tanya Raka memasang senyum cerah. "Aku memasak banyak. Ayo, makan bersama!" katanya lagi.


"Oke, aku ganti baju dulu. Tunggu sebentar," kata Aira berlalu pergi ke kamarnya untuk mengganti pakaian. Setelahnya, mereka berdua pun menyantap makanan yang dimasak oleh Raka bersama.


"Aku ada kerjaan bentar, jadi mungkin aku gak akan pulang beberapa hari ini?" tukas Aira setelah mereka berdua selesai makan dan kini duduk santai sambil menonton televisi.


"Kamu kerja?" tanya Raka cukup terkejut.


"Ada sedikit urusan yang harus aku selesaikan. Bukan kerjaan beneran, sih," balas gadis itu menjelaskan.


"Aku bisa sendiri, sebaiknya kamu jangan terlibat dan belajar aja!" kata Aira menolak tawaran Raka. Raka mengangguk paham, tak lagi memaksa memberi bantuan.


...ೋ❀❀ೋ═══ • ═══ೋ❀❀ೋ...


Sebulan kemudian, Raymond mengutus beberapa anak buahnya untuk menyerang geng lain. Itu dia lakukan karena laporan yang Aira berikan padanya. Jadilah Raymond harus melawan tiga anggota geng lain untuk menuntut balas, padahal itu semua hanya akal-akalan Aira untuk mengurangi jumlah anak buah Raymond tanpa harus dirinya yang turun tangan.


Tak hanya berakhir di situ, Aira juga membocorkan tentang rencana penyerangan tersebut secara diam-diam kepada pihak lawan. Tentu saja pihak sana jadi bersiap dan kekalahan mutlak didapatkan oleh Raymond. Hal itu membuat Raymond marah dan menyalahkan semua pada ketiga orang yang dia percaya memimpin penyerangan kali ini.


"Bagaimana bisa ini terjadi? Dari semua penyerangan dan kita kalah telak?!" teriak Raymond gusar.


"Kami juga tidak tahu, bos!" jawab mereka serempak.

__ADS_1


"Bang*at! Kalian hanya pintar melontarkan kata-kata seperti sampah untuk membela diri?!" maki Raymond kesal. "Setidaknya lakukan setengah saja lebih baik dari pada yang Aira sering lakukan! Apa kalian tak malu kalah dari boneka yang bahkan tak bisa memutuskan sesuatu tanpa persetujuan dariku!!!" lanjut pria itu. Wajahnya terlihat mengeras seiring makin banyaknya kata makian yang dia ucapkan.


"Maafkan kami, bos!!!" kata mereka menunduk. Mereka semua merasa kesal dan juga muak mendengar omelan Raymond yang terus berulang sejak tadi.


"Aku tak butuh kata maaf!" tukas pria itu jengah. "Lakukan lagi dan buat rencana yang tak akan gagal?!" titahnya tak menerima kalau dirinya harus kalah seperti ini. Dia yang akan mencapai puncak, tak boleh menorehkan kekalahan yang memalukan seperti ini seharusnya.


"Ingat, aku tak menerima kegagalan untuk yang kedua kalinya!" tukas Raymond menekankan sebelum dia pergi.


Selepas kepergian Raymond, anak buah Raymond mulai saling ribut sendiri. Mereka berpendapat kalau kekalahan kali ini bukan sepenuhnya salah mereka. Mereka juga tak ingin kalah seperti ini.


"Huh, kalau boneka j*lang itu memang hebat, kenapa tidak dia sendiri saja yang menyerbu mereka semua!" keluh salah satu dari mereka melampiaskan kekesalannya pada Aira.


"Benar, jadi kita hanya perlu menonton dan bertepuk tangan di akhir!" tukas yang lain menimpali.


"Aku benci itu, tapi aku lebih benci disalahkan seperti ini!" dengusnya kesal.


"Lalu kita harus apa?" tanya yang lain malas berpikir.


"Apa lagi? Suruh saja mesin pembunuh itu untuk maju!" sahut salah satu dari mereka dengan entengnya.


"Dia tak akan bergerak kalau bukan titah langsung dari bos," ucap yang lain mengingatkan.


"Kita buat saja titah palsu," ucap yang lain bertindak sok pintar dengan ide yang dia dapatkan.


"Dan kalau ketahuan?" ucap salah satunya mewakili pertanyaan sebagian dari mereka.


"Paling bos hanya akan sedikit marah saja," katanya enteng. "Terserah kalian mau ikut atau tidak, yang jelas aku malas berpikir dan hanya bisa menemukan ini sebagai satu-satunya solusi!" lanjutnya dengan nada tak peduli.

__ADS_1


"Kami setuju!" angguk mereka semua kompak.


__ADS_2