
Aira tak sadarkan diri selama kurang lebih dua jam. Hal pertama yang dia lihat saat membuka matanya adalah langit-langit kamarnya. Gadis itu pun segera bangkit dari tidurnya, dia memegang kepalanya sambil meringis kecil. Dia merasa memimpikan sesuatu saat dia tak sadar, tapi dia lupa apa yang dia mimpikan. Apa benar dia sedang bermimpi, tapi dia merasa tak tidur. Dia pingsan kan, apa pingsan bisa membuat orang bermimpi juga.
"Sudah sadar?" suara itu, suara yang sama yang dia dengar dalam mimpinya. Apa tadi dia memimpikan masternya saat pingsan.
"Master," kata Aira menoleh. "Misi berjalan lancar, master!" lapor gadis itu menyerahkan data yang dia curi sebelum membuat keributan.
"Bagus, kamu tidak mengecewakan aku rupanya," puji Raymond bergerak maju mengambil barang yang diberikan padanya. Tangan pria itu menyentuh dahi Aira dengan hati-hati. "Tak panas, tak ada demam rupanya," katanya lagi.
"Saya tak apa-apa, master!" kata Aira dengan wajah datar.
"Ya, itu harus! Masih banyak misi penting yang harus kamu selesaikan!" timpal Raymond melangkah mundur. "Istirahat lagi sana! Aku akan pergi," katanya meninggalkan Aira sendirian.
Aira kembali menghempas tubuhnya, dia menarik napas panjang sambil memejamkan mata. "Apa yang aku mimpikan sebenarnya? Apa itu mimpi?" tukas gadis itu bertanya-tanya.
"Apa ada yang aku lupakan?" gumam Aira membuka matanya. Mata tajam gadis itu menyipit penuh curiga. Semakin dia berpikir keras, semakin sakit juga kepalanya. Rasa sakit berdenyut yang tak bisa dia tahan.
"Kalau itu memori yang penting, bisakah aku kembali mengingatnya?" gumam Aira pada dirinya sendiri. "Tapi kalau itu tak penting, biarkan aku melupakan untuk selamanya!" pintanya agar dia tak merasakan sakit di kepalanya lagi. Setelah itu, Aira pun kembali tertidur dan lagi-lagi memimpikan hal yang sama. Mimpi samar yang hanya terlihat kegelapan dan terdengar suaranya saja. Mimpi yang menghantui setiap tidur gadis itu.
...ೋ❀❀ೋ═══ • ═══ೋ❀❀ೋ...
Setelah misi pertamanya berhasil, Aira diberikan misi-misi yang lainnya. Setiap misi yang diberikan selalu berakhir dengan kesuksesan tanpa masalah di belakangnya. Aira menjadi senjata mematikan dalam hal mencuri data dan memanipulasi para korbannya. Tapi hingga saat ini, gadis itu belum pernah mengotori tangannya dengan darah secara langsung. Tak ada korban jiwa yang berjatuhan dalam misi yang dia emban.
"Aira, kesayanganku!" ucap si bos memuji bonekanya.
__ADS_1
"Saya siap beraksi tanpa harus dipuji, master!" timpal Aira dengan wajah datar.
"Oh, mendengar kesayanganku mengatakan itu, hatiku rasanya sungguh teramat perih," balas si bos memegang dadanya sembari memasang ekspresi terluka. Tentunya itu hanya pura-pura saja.
Aira tak peduli, terserah bosnya mau mengatakan apa. Dia di sini hanya karena dipanggil untuk menerima misi baru lagi. "Baiklah, aku akan berhenti bercanda!" Raymond memasang wajah datar yang sama. "Misi kali ini lebih sulit dan butuh waktu yang lama," kata pria itu menatap lurus Aira. "Kamu harus menyamar sebagai seorang murid, mendekati target,mendapatkan kepercayaannya, dan mengorek informasi penting hingga tak tersisa. Hal lain yang kamu dapat, bisa kamu ambil! Anggap saja bonus untuk kamu yang bekerja keras!" lanjutnya menjelaskan.
Aira mengangguk sekali. "Saya harus mendekati hingga seberapa dekat, master?" tanya Aira ingin tahu batasan yang diberikan untuknya.
"Terserah! Kamu bisa memutuskannya sendiri. Kamu mau menjadi teman, sahabat, saudara, pacar, atau sekalian menikah pun aku tak masalah!" balas si bos tak ambil pusing mau sedekat apa dan targetnya. Yang terpenting bukan caranya, tapi hasil yang akan mereka peroleh.
"Saya mengerti!" kata Aira menjawab dengan cepat.
"Ini yang kamu butuhkan, semua sudah diurus. Kamu siswa pindahan yang mengikuti orang tua bekerja di sini. Akan ku tunjuk dua orang anggota kita yang bisa berperan sebagai orang tua kamu!" kata si bos menyiapkan pendukung cerita latar belakang Aira.
Seminggu kemudian, Aira sudah berdiri di depan sekolah swasta. Dia menatap ke atas, gedung yang tinggi, banyak tempat yang bisa dia gunakan untuk bersembunyi. Nanti dia akan berkeliling untuk melakukan observasi agar mengetahui seluk-beluk medan dengan cepat.
Perkenalan pun dimulai, tak lupa Aira memasang senyum tipis yang sudah dia latih dari semalam. "Nama saya Aira, senang berkenalan dengan kalian. Semoga kita bisa berteman dan mohon bantuannya!" kata gadis itu berkamuflase sebagai gadis yang ramah dan murah senyum.
Berbagai pertanyaan diajukan untuk Aira, semua dia jawab dengan cepat. Hingga guru yang ada di depan menyuruh Aira untuk duduk dan pelajaran pun segera dimulai.
Bel istirahat pertama berdentang nyaring. Bukannya ke luar untuk membeli makanan dan beristirahat, hampir semua yang ada di dalam kelas mendatangi Aira dan berkumpul di dekatnya.
"Kulit kamu putih banget, pakai apa?"
__ADS_1
"Rambut kamu bagus, salon mana yang kamu datangin?"
"Bagi nomor, dong. Biar bisa makin deket!"
"Udah punya pacar belum? Kalau belum, mau gak jadi gebetan aku?"
"Mau aku ajak keliling sekolah, gak? Aku bisa ngasih tur sekolah yang lengkap dan cepet, loh?"
Aira merasa tertarik dengan pertanyaan terakhir. Dari pada pertanyaan lain yang menurut dirinya tak terlalu penting. Salon, dia gak pernah masuk ke tempat seperti itu kalau bukan untuk sebuah misi. Perawatan, boro-boro perawatan, yang ada dia terus latihan, latihan, dan latihan. "Terima kasih sudah mau memberikan tur sekolah," kata gadis itu berdiri dari duduknya.
"Oh, oh, dia mau, dia mau!" kata anak yang mengajak Aira berkeliling sekolah terlihat senang. "Mari kita pergi!" katanya penuh semangat. Aira kembali tersenyum, dia berjalan di sisi anak itu dan terus memperhatikan sekitar.
"Namaku, Hani. Mari berteman!" kata gadis itu mengajak Aira memulai pertemanan.
"Salam kenal, Hani," timpal Aira tersenyum manis.
"Astaga, aku aja yang cewek jatuh hati sama senyum kamu. Cantik banget, sih!" puji Hani yang terbuai dengan senyum palsu Aira. "Oh, apa ada tempat yang ingin kamu lihat?" tanya Hani ingin tahu.
"Atap," balas Aira dengan cepat.
"Ahh, kamu tipe-tipe anak yang suka bolos, ya?" tebak Hani sok tahu. "Makanya kamu memilih untuk ke atap, biar bisa bolos, kan?" lanjut gadis itu lagi. "Hati-hati, nanti nilai kamu banyak dikurangi kalau ketahuan bolos!" bisiknya mengingatkan.
"Ah, bukan. Aku hanya senang melihat langit dari tempat yang tinggi," aku Aira jelas berbohong. Dia hanya ingin melihat denah langsung sekolahnya dari atas atap.
__ADS_1
"Oh, begitu rupanya," kata Hani menganggukkan kepalanya paham. "Maaf, kau salah tebak, he-he," cengir gadis itu terlihat bodoh. "Ayo, kita ke atap! Habis itu baru ke kantin sekalian beli makanan!" tambahnya mengajak Aira berjalan lebih cepat.