Langit Yang Menghilang

Langit Yang Menghilang
21


__ADS_3

Aira memotong rambutnya, membuat penampilannya sedikit berbeda. Rambut panjangnya kini menghilang, terganti dengan rambut sebahu. Tak memedulikan tatapan yang diberikan orang lain padanya, Aira berjalan dengan sangat santai dan percaya diri. Di sampingnya ada Raka yang berjalan bersama dengan dirinya. Ah, bukan, mereka memang turun bersama. Lebih tepatnya, Aira mengisi kursi penumpang di mobil Raka yang tak pernah ditempati oleh perempuan mana pun sampai sekarang.


"Padahal aku suka liat rambut kamu yang sebelumnya," kata Raka menyentuh sedikit rambut Aira.


"Lalu sekarang?" tanya Aira tanpa menoleh dan tetap terus merjalan.menuju kelas mereka.


"Tetap suka," balas Raka mengobral senyum tampan. "Sepertinya aku suka dengan orangnya, bukan model rambutnya," kekeh pemuda itu menyatakan perasaannya seolah hanya sebatas candaan.


"Hmm," balas Aira yang hanya berupa gumaman saja.


"Kenapa? Kamu gak percaya?" kata Raka menyenggol pelan bahu Aira.


"Ayo, ke kelas saja. Sebentar lagi bel," tukas gadis itu terkesan datar tapi juga bersahabat.

__ADS_1


"Hoi, tunggu aku, Ra!" panggil Raka saat Aira mempercepat langkahnya. Hal tersebut semakin membuat rumor baru terus menyebar tanpa bisa dikendalikan. Jelas tokoh utamanya adalah Aira dan Raka.


...ೋ❀❀ೋ═══ • ═══ೋ❀❀ೋ...


Di kelas, setelah pelajaran berakhir, guru yang mengisi kelas tersenyum menatap Raka. "Ibu senang kamu mulai rajin mengikuti kelas. Pertahankan terus! Oke, Raka?" kata sang guru.


Seisi kelas menunggu untuk melihat tanggapan dari teman mereka yang terkenal selalu membuat masalah itu, ya kecuali Aira tentunya.


"Saya akan mengikuti kelas kalau teman terbaik saya juga ada di kelas ini," tukas Raka mengangkat bahu ringan. Baginya menghadiri kelas bukan hal yang penting. Raka hanya suka berada di kelas yang sama dengan Aira.


Banyak yang meragukan kalau itu teman mereka yang selalu membuat masalah dan seenaknya. Raka terlalu santai menjawab pertanyaan barusan. Di antara mereka malah ada yang berpikir kalau Raka sedang kerasukan atau malah amnesia dadakan. Makanya pemuda itu terlalu biasa saja responnya saat guru mereka mengoceh tentang dirinya.


Sang guru yang tersadar dari rasa keterkejutannya pun berdehem pelan. "Cukup bagus, tapi jangan sampai mengganggu pelajaran kalau memang ingin menjalin kisah asmara," kata sang guru mengingatkan.

__ADS_1


Penghuni kelas kecuali seorang lagi dan lagi melongo karena Raka menganggukkan kepalanya, terlihat seperti murid yang patuh dan mendengarkan semua nasehat dari gurunya.


Singuru memegang tepi mejanya erat, dia tak mau kalau sampai terhuyung saking terkejutnya dirinya. "Kalau begitu saya akan ke luar sekarang," katanya terburu-buru pergi.


"Denger tadi, kan?" tukas Raka menyenggol Aira. Aira mengangkat sebelah alisnya, seolah paham Raka pun melanjutkan perkataannya. "Aku dibolehin pacaran," katanya tersenyum penuh kemenangan.


Aira bertepuk tangan pelan. "Selamat! Semoga berhasil!" katanya menyemangati.


"Kamu gak mau tahu aku direstuin sama siapa pacarannya?" kata Raka lagi.


"Harus, ya?" tanggap Aira tak paham kenapa juga dia harus tahu dengan siapa Raka menjalin hubungan. Dia dekat dengan pria itu hanya karena misi dan saat ini dia ingin menggunakan alasan itu untuk berlama-lama di sini dan mulai menghancurkan kelompok mereka dari dalam sedikit demi sedikit.


"Ah, gak seru," decak Raka cemberut kesal.

__ADS_1


"Kita kan gak lagi main? Pastinya gak bakalan ada yang seru kalau begitu," timpal Aira dengan wajah datar. Raka terlihat semakin kesal tapi dia juga tak bisa marah lama-lama dengan kawannya itu.


__ADS_2