
Sinta yang ingin mempermalukan Aira malah mendapat ganjaran saat itu juga. Aira membalik keadaan, bukan dia yang terpojok tapi malah Sinta yang harus menjelaskan semuanya. Sinta yang kekeuh kalau dirinya dijebak, malah harus menelan pahit saat Raka maju dan mendukung pernyataan Aira. Padahal tadinya dia kira Raka akan membela dirinya, rupanya pemuda itu malah berdiri di samping gadis menjengkelkan yang sudah menjadi duri semenjak kehadirannya.
Memilih untuk melarikan diri sambil menangis untuk keluar dari masalah yang dia ciptakan sendiri. Sinta tak pernah lagi terlihat di sekolah sejak saat itu, ada kabar kalau dia sudah pindah ke luar negeri karena rasa malu yang tak bisa dia tanggung kalau terus bersekolah di sini.
Raka yang semakin dekat dengan Aira, mengundang gadis itu untuk datang ke rumahnya di akhir pekan. Bahkan dia menawarkan agar Aira bisa menginap atau mungkin tinggal saja sekalian di sana juga tak apa-apa. Pemuda itu bercerita kalau dia merasa kesepian tinggal di rumah besar yang selalu kosong. Memang ada pelayan, tapi mereka semua seperti robot yang selalu mengikuti apa yang Raka inginkan. Tak ada yang bisa diajak bicara, tak ada juga yang berani berdebat dengannya. Makanya Raka lebih memilih membaca buku atau bolos dan ikut pertarungan kalau dia mulai suntuk dengan kehidupannya.
Dulu, saat awal melakukan pemberontakan kecil. Raka mengira kalau dirinya terluka orang tuanya akan pulang dan memarahi dia. Tapi yang dia dapatkan hanya berupa teguran kecil yang bahkan disampaikan oleh orang lain dan bukan dari ayah dan ibunya secara langsung.
Di sisi lain, demi kelancaran misinya. Aira pun menerima undangan dari Raka. Dan di sinilah dia berada. Di rumah Raka yang katanya kosong tanpa kehadiran satu orang pun. Memang apa yang Raka ucapkan ada benarnya. Satu pun pelayan tak ada yang menampakkan diri kalau tak dipanggil. Semua dilakukan dalam diam, tak ada satu pun suara berisik yang diciptakan sama sekali.
"Duduk di mana pun yang kamu mau, Ra," kata Raka mempersilakan Aira duduk senyaman gadis itu. "Aku ganti baju dulu bentar," katanya lagi.
"Oke," balas Aira singkat.
Tak berapa lama seorang pelayan datang membawakan minuman. Pelayan tersebut hanya diam tak menatap dan juga tak membuka mulut sama sekali. Dia hanya mengangguk sekali saat urusannya telah selesai.
"Sedikit aneh, bukan?" kata Raka yang beru saja kembali. "Mereka semua memang begitu," kata pemuda itu melanjutkan.
"Kurasa begitu," ucap Aira setuju-setuju saja.
"Ayah yang menetapkan peraturan aneh seperti itu, jadi jangan terlalu kaget," kata Raka menjelaskan.
Hening sesaat, Raka tak tahu harus membicarakan apa dengan Aira yang lebih suka diam. Gadis itu hanya membalas kalau Raka bicara duluan.
"Mau nonton?" tukas Raka menawarkan. "Aku punya beberapa koleksi film," katanya lagi.
__ADS_1
"Boleh," balas Aira mengangguk sekali.
"Mau pilih sendiri?" kata pemuda itu menunjuk tumpukan kaset yang tersusun rapi.
"Pilihkan mana yang paling seru saja," kata Aira menanggapi.
Keduanya pun menonton film dalam diam. Saat sedang seru-serunya, Aira mengatakan kalau dia butuh ke toilet. Itu hanya alasan saja sebenarnya. Aira hanya ingin menyelinap dan memasang kamera mini di berbagai sudut rumah Raka.
"Kamu jadi menginap, kan?" tanya Raka memastikan.
Aira mengangguk, tak mungkin dua membuang kesempatan seperti ini. Siapa yang tahu dia bisa menyelinap ke ruang kerja ayah Raka nanti kalau dia mengiyakan tawaran Raka. Malam itu, setelah Raka bercerita banyak tentang masa lalu mereka, akhirnya keduanya memutuskan untuk beristirahat. Raka yang membocorkan kalau semua pelayan tinggal di kamar mereka dan tak akan keluar dari sana kalau tidak dipanggil pun menjadikan Aira mendapatkan informasi dengan sangat mudah. Gadis itu dengan bebas berkeliaran di rumah Raka dan memasang banyak kamera mini di setiap sudut rumah.
"Setengah misi selesai," gumam Aira kembali ke kamarnya dan segera tidur.
...ೋ❀❀ೋ═══ • ═══ೋ❀❀ೋ...
Aira mengangkat bahu ringan lalu membuka kulkas. Gadis itu mengeluarkan beberapa bahan makanan dan segera membuat sarapan, tak lupa dia membuat dua gelas jus segar dari buah yang dia dapatkan dari dalam sana.
"Ngapain?" tanya Raka yang baru turun.
"Buat sarapan," balas Aira tanpa menoleh.
"Kamu gak manggil pelayan?" tanya pemuda itu lagi.
"Malas," tukas Aira singkat. "Duduk, bentar lagi selesai," lanjut gadis itu.
__ADS_1
Aira membawa nampan berisi dua porsi makanan dan minuman. Satu untuk dirinya sendiri, dan satunya lagi untuk Raka. "Anggap saja bayaran setelah menginap di sini," kata gadis itu santai. "Kamu bisa makan nasi goreng, kan?" tanyanya.
"Tentu," balas Raka tak menyangka bisa memasak.
"Kukira aku harus menghabiskan semuanya sendiri," gumam Aira menimpali.
"Aku gak pilih-pilih makanan. Aku juga gak punya alergi makanan," kata Raka membalas.
"Oke, nikmati sarapan kamu. Semoga suka," tukas Aira mulai memakan sarapan yang dia buat sendiri.
"Lumayan," puji Raka menikmati sarapan paginya yang lebih sederhana dari biasanya.
"Menurutku juga begitu," timpal Aira mengangguk.
Hari itu, Raka banyak tertawa dari biasanya. Saat makan pun lebih menyenangkan karena ada yang menemaninya mengobrol. "Kalau mau, kamu bisa tinggal di sini!" kata Raka menawarkan. "Gak cuma-cuma," lanjut Raka cepat. "Kamu bisa bayar dengan buatkan aku sarapan setiap pagi atau pilihan kedua kamu kerja sama aku aja," jelas Raka dengan cepat.
"Akan kupikirkan," kata Aira. Bagaimana pun dia tak bisa memutuskan semuanya sendiri. Dia harus mengikuti apa yang Raymond perintahkan, dia hanya boneka yang melaksanakan semua perintah tanpa banyak tanya.
"Tolong pikirkan lebih banyak dan beri tahu aku apa keputusan kamu!" timpal Raka sedikit berharap hari-harinya bisa lebih berwarna seperti hari ini.
Begitu pulang dari sana, Aira langsung mampir ke markas mereka. Tempat tinggal Raymond, di lantai teratas. Gadis itu melaporkan apa saja yang dia lakukan di akhir pekan ini. Dia juga mengatakan kalau dirinya sudah berhasil berkunjung ke rumah target mereka. Baru saja Aira akan menyampaikan kalau dia juga berhasil memasang kamera di sana, seorang bawahan Raymond datang dan membisikkan sesuatu pada pria itu.
"Untuk sekarang kembali saja, mari kita bahas ini lain kali!" kata Raymond menatap Aira.
"Baik, master!" balas Aira patuh. "Ah, saya ditawari untuk tinggal di rumah itu, master! Apa yang harus saya lakukan?" tanya Aira sebelum benar-benar pergi.
__ADS_1
Raymond tergelak keras, tak sia-sia dia melenyapkan semua emosi Aira. Gadis itu bahkan tak bisa memutuskan sesuatu yang sangat mudah tanpa dirinya. Sungguh Bonek cantik yang sangat luar biasa yang pernah dia besarkan dan miliki.