Langit Yang Menghilang

Langit Yang Menghilang
16


__ADS_3

Di sinilah keduanya, Raka dan Aira duduk manis di taman. Keduanya terlihat seperti dua sejoli yang sedang menikmati pemandangan. Nyatanya, Raka ingin mengatakan sesuatu pada Aira tentang apa yang baru saja dia alami saat melakukan tugas dari sekolah. Bagaimana pun hal itu juga berhubungan dengan Aira, jadi Aira harus tahu tentang itu menurut Raka.


"Sekarang kita bisa bicara!" kata Aira menatap Raka.


"Gak usah natap segitunya, Ra. Aku bakalan ngomong, kok. Meski kamu gak natap gitu!" kata Raka membuang muka ke arah lain.


"Ya," tanggap Aira singkat lalu menatap ke depan. "Kamu mau ngomong apa tadi?" tanyanya lagi.


"Tadi ada kejadian aneh. Saat aku dan yang lain ngerjain tugas lapangan buat riset, kita-kita dicegat beberapa orang yang terlihat kasar," kata Raka mengawali ceritanya.


Aira mengernyit, harus ya dia tahu itu semua. "Dengerin dulu sampai selesai, Ra," kata Raka seolah paham kalau Aira terlihat bingung.


"Oke," balas Aira mengangguk singkat.


"Terus orang-orang itu malah dengan mudahnya dikalahkan tanpa buang tenaga. Padahal mereka gak keliatan selemah itu!" lanjut Raka. Kali ini Aira hanya mendengarkan tanpa menimpali.


"Saat mereka udah kalah, Sinta maju kan. Terus dia nanya siapa yang nyuruh mereka, eh kamu tahu apa yang mereka katakan?" Raka menjeda kata-katanya.


"Namaku," tukas Aira menebak.


Kali ini giliran Raka yang mengangguk. "Benar! Nama kamu muncul di sana!" katanya membenarkan. "Besok pasti bakalan ribut! Kamu harus siap-siap?!" kata pemuda itu lagi.


"Oke, thanks," balas Aira santai. "Mau makan? Aku traktir sebagai bayaran," ucap Aira menawarkan balasan.


"Aku bukannya nerima karena pengen dapat imbalan, ya!" kata Raka cukup senang karena mereka berdua sedikit lebih dekat tanpa harus beradu mulut.


"Aku gak bilang gitu," kata Aira menanggapi.


"Siapa yang tahu apa yang kamu pikirkan?!" gumam Raka pelan.


"Aku gak mikir apa-apa," balas Aira datar.


Raka cukup terkejut, tak menyangka Aira akan mendengar gumaman yang dia lakukan sepelan mungkin. "Kita makan di mana?" ucap pemuda itu mengalihkan topik. "Belikan aku makanan yang enak, ya," lanjutnya kemudian.

__ADS_1


"Terserah, pilih saja di mana pun. Aku kurang paham tempat makan yang enak," tukas Aira menimpali. Dia ikut saja, terserah Raka mau memilih makan di mana. Semua makanan bagi Aira sama saja, hanya untuk mengisi tenaga tak peduli bagaimana rasanya.


"Ayo, pergi sekarang," kata Raka tak membuang kesempatan. "Mau naik mobil aku atau jalan aja?" tanyanya pada Aira.


"Mobil," balas Aira singkat.


Raka mengangguk paham. "Pasti gak mau keringetan, kan?" katanya menebak.


"Bukan," balas Aira santai. "Biar kamu gak repot balik ke sini lagi," lanjutnya. Aira masuk sendiri ke dalam mobil Raka, tak perlu repot membukakan pintu. Gadis itu terlalu mandiri untuk mengurus semuanya.


"Apa?" tanya Aira menoleh menatap Raka. "Ayo, jalan," katanya lagi.


"Oh, oke," ucap Raka segera melajukan mobilnya. Keduanya makan di restoran yang Raka pilih. Aira rupanya tak pilih-pilih makanan, apa saja akan dia makan asal disuguhkan dihadapannya.


"Biar aku yang bayar untuk kali ini!" kata Raka mengeluarkan kartunya.


Aira menatap tajam ke arah Raka. "Sepertinya aku udah bilang kalau aku yang akan traktir hari ini!" katanya tak mau mengalah.


"Tapi aku cowok, Ra," desah Raka yang tak pernah sama sekali dibayari oleh siapa pun.


"Jangan diambil! Gesek ini aja!" kata Raka cepat.


"Jangan keras kepala dan berdiri sekarang!" ucap Aira bersiap pergi. "Atau aku pergi duluan," lanjutnya dengan wajah serius.


Raka mengalah, kembali memasukkan kartunya ke dompet. "Oke, kali ini kamu yang bayar. Lain kali biarkan aku yang traktir sebagai gantinya," kata pemuda itu menyusul langkah Aira.


"Terserah," balas Aira tak terlalu ambil pusing.


"Mau aku antar?" ucap Raka menawarkan tumpangan. "Aku punya banyak waktu bebas kalau cuma buat nganterin kamu pulang, kok," kata pemuda itu lagi.


"Jemputan aku udah datang," kata Aira menunjuk pria berpakaian serba hitam yang berdiri tak jauh dari mereka. "Aku duluan," katanya melangkah pergi.


"Kalau sudah sampai, kirimi aku pesan!" kata Raka.

__ADS_1


Aira tersenyum sinis. "Ke mana? Nomor sekolah?" katanya santai.


Raka bengong ditinggal sendiri, pemuda itu berdiri di sana cukup lama. "Memalukan," decihnya sedikit kesal pada dirinya sendiri.


...ೋ❀❀ೋ═══ • ═══ೋ❀❀ೋ...


Dan benar saja, keesokan harinya seisi kelas melemparkan tatapan sinis dan jijik pada Aira. Aira yang ditatap malah tak peduli. Meja gadis itu dipenuhi oleh sampah, belum lagi gulungan-gulungan surat tak bernama yang menyatakan agar Aira segera minggat dari sekolah mereka secepatnya.


"Aduh, gak tahu malu banget, sih," celetuk salah satu siswi yang mulutnya gatal ingin menyindir sejak Aira memasuki kelas mereka.


"Ada apa, sih? Ada apa?" timpal yang lain memulai sandiwara dan terkikik sambil melirik diam-diam ke arah Aira.


"Kemarin, pas kami ngerjain tugas terus nyari bahan gitu kan, eh ada yang gangguin gitu tahu!" katanya sengaja membesarkan volume suaranya. "Tuh orang-orang mirip preman jalanan, terus mereka cuma gangguin Sinta. Ih, serem pokoknya," lanjutnya bercerita.


"Astaga, tapi gak kenapa-napa, kan?" tanya yang lain memasang ekspresi khawatir.


"Untungnya ada Anto, dia maju terus berhasil ngalahin mereka semua," balasnya memuji teman sekelasnya. "Eh, mereka ngaku kalau mereka cuma ngerjain apa yang diperintahkan sama mereka doang rupanya," lanjutnya tersenyum sinis kepada Aira.


"Ya, ampun. Siapa sih yang punya pikiran jahat seperti itu?" kata yang lain sok takut. "Takut banget deh kalau harus deket-deket sama orang kayak gitu!" lanjutnya penuh penekanan.


"Sudah, sudah! Jangan begini, nanti biar aku yang nanya sendiri," kata Sinta angkat bicara.


"Biar aku temani! Aku gak tenang kalau biarin kamu cuma berdua aja sama otak-otak kriminal macam itu!" kata Anto mengajukan diri menjadi pengawal dadakan.


"Makasih," balas Sinta tersenyum haru. Padahal dalam hati dia tertawa hebat karena rencananya untuk merusak nama Aira berhasil dengan mudahnya.


"Bisa kita bicara?" tanya Sinta menatap Aira dengan ragu dan takut.


Aira mengangguk santai. "Katakan!" ucapnya datar.


"Jangan di sini," tukas Sinta. "Aku gak mau kalau kamu ngerasa terbebani nanti," lanjutnya menjelma sebagai malaikat baik hati.


"Alag, gak usah terlalu baik, Sin! Langsung aja gas tanyain?!" kata Anto tak sabar.

__ADS_1


"Benar, tanyakan saja!" timpal Aira tersenyum tipis.


"Kenapa kamu begitu? Aku berharap kalau orang-orang yang kemarin itu cuma berbohong, tapi mereka gak punya alasan untuk bohong soal kamu yang jadi dalang kasus kemarin, kan?" tukas Sinta memojokkan. Oh, dia jelas senang karena Aira keras kepala dan memilih berbicara di kelas. Biar sekalian teman-teman yang lainnya mendengar dengan jelas apa yang terjadi padanya kemarin.


__ADS_2