Langit Yang Menghilang

Langit Yang Menghilang
14


__ADS_3

Sinta semakin kesal karena teman-temannya malah mengungkit soal kedekatan pangerannya dan gadis bodoh itu. Dia pun tak jadi jalan bersama mereka dan hanya memberikan uang sebagai gantinya. Sinta beralasan kalau dia ada janji dengan ibunya makanya dia membatalkan janji dengan teman-teman sekelasnya.


Nyatanya Sinta malah mencari beberapa anak nakal yang bisa dia gunakan untuk menjalankan rencananya. Dia menyimpan rencana yang paling tak ingin dia gunakan di akhir, karena menurutnya rencana itu bisa menjadi kartu terakhir yang membuat masa sekolah Aira semakin memburuk.


Dan tibalah harinya, saat rencana yang telah disiapkan Sinta dilakukan. Dia sengaja memilih hari ini karena Raka sudah berjanji untuk jalan-jalan bersama mereka. Bukan jalan-jalan biasa, tapi ini termasuk kegiatan sekolah. Kalau tidak, Raka tak akan ada di sini bersama anggotanya yang lain. Raka yang terlihat dingin dan membentengi dirinya dengan tembok yang teramat tinggi pun terlihat malas untuk bicara, dia lebih banyak diam sepanjang acara.


"Yo, apa kabar?" ucap beberapa anak laki-laki bertampang sangar mencegat mereka semua.


"Siapa kalian? Mau apa?" tanya salah satu teman Sinta. Sinta sendiri memasang tampang ketakutan yang berlebihan.


"Bos, sepertinya gadis itu target kita," bisik salah satu dari orang-orang yang mencegat jalan Raka dan kawan-kawannya.


"Oi, kalian boleh pergi! Tapi tinggalkan gadis itu?!" kata laki-laki yang tadi dipanggil bos.


"Gak bisa! Gue gak bisa ninggalin temen gue sama orang-orang kayak kalian!" lawan salah satu teman Sinta menolak.


"Hoi! Kalau masih sayang nyawa,mending pergi saat gue masih bicara baik-baik!" katanya memasang tampang garang.


"Raka, aku takut," kata Sinta bersembunyi di belakang Raka. Jelas dia sedang mencari kesempatan untuk lebih dekat dengan pemuda itu.


Raka memutar bola matanya, bibirnya berdecak kesal. Tak terlalu terdengar, tapi jelas Sinta yang ada di belakangnya pasti bisa mendengarnya.


Seolah mendapat isyarat, si bos yang tadi sudah koar-koar semakin mendesak. "Lu! Apa lu bakalan jadi pahlawan kesiangan?" tanyanya menunjuk Raka.

__ADS_1


Sinta menunduk, menyembunyikan senyum penuh kemenangan dari pandangan kawan-kawannya. Di luar, gadis itu terlihat sangat ketakutan saat ini. "Tidak," balas Raka dengan nada datar. Suara dan jawaban dari Raka menghancurkan senyum yang Sinta lakukan diam-diam. Apa Raka memang sedingin ini sehingga tak mau berusaha untuk menolongnya. Tidak, itu masih belum pasti. Mungkin saja Raka berpura-pura dan akan menjatuhkan mereka semua saat ada kesempatan. Ya, mungkin saja seperti itu. Sinta meyakinkan dirinya kalau Raka akan menolongnya dan orang-orang suruhannya itu akan mengatakan kalau dalang dari semua ini adalah Aira dengan sedikit paksaan. Setelahnya, Sinta akan kembali berakting sebagai gadis lemah yang berhati lembut. Yang akan memaafkan mereka karena mereka hanya melakukan perintah saja, bukan niat mereka yang sebenarnya untuk menyakiti dirinya. Nilainya akan naik di mata Raka dan kawan-kawannya, sedangkan Aira akan dirundung rumor dan dijauhi di kelas. Sungguh rencana yang sangat indah dan menyenangkan.


Terlalu asik dengan pemikirannya sendiri. Sinta tak tahu kalau Raka sudah menjauh dari dirinya. Pemuda itu memilih untuk pergi menjauh dan hanya menonton apa yang akan terjadi selanjutnya. Begitu sadar, Sinta mengepalkan tangannya. Dia memberi isyarat agar mereka maju dan mulai beraksi.


Tangan Sinta ditarik kasar, gadis itu berteriak sekeras mungkin. Tempat yang mereka lewati cukup sepi dan entah mengapa hari ini malah lebih sepi dari biasanya. "Tolong aku!" kata Sinta meringis kesakitan. Untuk kali ini dia benar-benar kesakitan, tangannya dicengkeram terlalu kuat. Tapi dia tak bisa protes, semua harus dilakukan untuk memperlancar rencananya.


"Si*l! Lepaskan temen gue!" kata salah satu teman Sinta maju melancarkan pukulan. Wajahnya melongo saat pukulannya malah membuat salah satu preman itu pingsan terkena pukulannya. Apa dia sekuat itu, dia bahkan tak tahu kalau dia memiliki banyak bakat dan kekuatan dalam bertarung. Puas dengan ayunan tangannya yang pertama kali dalam hidupnya dan berhasil, dia pun mulai menghajar mereka semua.


Raka hanya menatap diam, jelas kalau semuanya hanya sandiwara tanpa perlu diberitahu. Bahkan teman sekelasnya yang paling lemah saja bisa menjatuhkan mereka semua dengan begitu mudahnya dan tanpa terlihat lelah, sungguh luar biasa sekali kalau itu bukan drama.


"Makasih udah nolongin aku, An," kata Sinta begitu dia bebas. Gadis itu mengelus-elus pergelangan tangannya.


"Mau kita apakan mereka?" tanya yang lain.


Sinta menggeleng pelan. "Kita tanyai dulu, aku gak mau menghukum orang yang gak bersalah," kata gadis itu beralasan. Kalau sampai dibawa ke ranah hukum, dia bisa ketahuan. Belum lagi itu tak termasuk dalam kesepakatan mereka, jadi jelas pihak sana tak akan setuju.


"Kamu itu terlalu baik hati, Sin," kata Anto memuji Sinta.


"Bukannya baik hati, aku cuma pengen tahu kenapa mereka nargetin aku? Itu aja," balas Sinta tersenyum tipis.


"Gue temenin lu nanya! Kalau mereka berani macam-macam, gue bakalan hadiahin tinju gue ke mereka!" ucap Anto merasa bangga.


Sinta mengangguk setuju, dia pun mendekati yang katanya pemimpin dari orang-orang yang tadi menghalangi jalan mereka. "Kenapa kamu ngelakuin ini?" tanyanya dengan suara yang sengaja dinyaringkan.

__ADS_1


"Kami hanya mengikuti perintah!" katanya menjawab. "Kalau kamu tak melaksanakan perintah yang diberikan, kami akan dipukuli lebih parah dari ini!" lanjutnya lagi.


Sinta menutup mulutnya, dia terlihat syok mendengar pengakuan dari orang itu. "Siapa yang merintahin lo buat nyulik temen gue?" tanya Anto mengambil alih pembicaraan.


"Kami juga gak begitu kenal, cewek itu tiba-tiba datang terus mukulin kami beberapa minguu lalu. Dia minta kami jadi budaknya dan harus ngelakuin semua yang dia mau tanpa banyak tanya," katanya mengaku.


"Siapa? Apa kalian punya fotonya?" tanya Sinta dengan suara bergetar.


"Ada. Tapi kalau aku ngasih liat ke kalian, kalian harus janji buat ngelepasin kami semua! Gimana, oke?" balasnya memberi penawaran.


Sinta mengangguk pelan, jelas itu sudah dia sepakati sebelumnya. "Ini fotonya. Aku ngambil itu buat disebar ke anak-anak lain biar mereka gak cari gara-gara sama tuh orang," akunya menyerahkan ponselnya.


"Ya, ampun! Ini kan Aira!!!" tukas salah satu di antara mereka tak percaya.


"Bisa-bisanya anak baru bikin onar sampai segininya!" kata yang lain.


"Pasti ada alasan kenapa Aira membenci aku," tukas Sinta lirih.


"Tapi itu gak bisa jadi pembenaran untuk nyakitin temen sekolah sendiri!" bantah mereka tak setuju.


"Kalian boleh pergi," kata Sinta pelan.


"Tapi, Sin!" tukas yang lain tak setuju.

__ADS_1


"Aku udah janji tadi, aku gak mau jadi pembohong," kata Sinta meminta pengertian dari teman-temannya. Yang lain akhirnya mengalah membiarkan orang-orang tadi pergi begitu saja.


__ADS_2