Langit Yang Menghilang

Langit Yang Menghilang
12


__ADS_3

Sinta yang merasa kalau penyebab dirinya kesal tak akan turun ke sekolah lagi pun menjadi lebih bersemangat dari biasanya. Semua tingkah laku, gerak gerik, dan tutur katanya terasa lebih manis, anggun, dan ramah beberapa puluh kali lipat. Hingga saat bel masukan berbunyi dan Aira belum juga terlihat, gadis itu semakin merasa di atas awan. Tak ada lagi duri yang merusak pandangannya saat melihat pangerannya.


Sayangnya semua kesenangan Sinta tadi hanya bersifat sementara. Suara Aira yang meminta maaf pada guru mereka merusak segalanya. Terlebih Aira malah mengucapkan selamat pagi padanya tanpa suara, belum lagi senyum mengejek yang tersemat di bibir gadis itu. Tanpa sadar Sinta sudah lebih dulu berteriak sambil menunjuk ke arah Aira.


Aira yang sudah belajar lebih banyak ekspresi pun segera memasang ekspresi polos, seolah tak tahu mengapa Sinta memanggil dia dengan keras seperti tadi. Guru yang kaget pun juga ikut bertanya-tanya. Sinta segera menyadari kesalahannya, dia tak bisa menghancurkan imaje dirinya hanya karena masalah seperti ini.


Sinta mengatur mimik wajahnya. "Bisa-bisanya anak baru seperti kamu telat?!" katanya. Aira menarik napas pelan, rupanya meski bodoh tapi gadis di depannya ini jelas punya otak untuk berpikir dengan cepat.


"Aku tadi habis menyelamatkan kucing yang dikepung sekelompok anj*ng besar, makanya aku telat. Dan aku juga sudah meminta maaf pada guru barusan," ucap Aira beralasan.


Kasak-kusuk terdengar, kelas menjadi sedikit ribut. Akhirnya sang guru pun angkat bicara dan membuat kelas menjadi kembali hening, pelajaran pun dimulai.


Selama pelajaran, Sinta tak bisa berkonsentrasi sama sekali. Perasaannya kacau dan dia bertanya-tanya mengapa Aira yang seharusnya tak bisa turun malah muncul dalam keadaan baik-baik saja.


Saat pulang sekolah, Sinta segera keluar kelas dengan terburu-buru. Dia tak tahu bagaimana dirinya melewati kelas seharian ini. Bahkan banyak teman sekelasnya menanyakan ada apa dengan dirinya, tentu saja Sinta tak bisa mengatakan yang sebenarnya. Gadis itu tentu saja hanya menjawab seadanya, mengatakan kalau dirinya memang tak enak badan dari semalam.


"Kasihan sekali Sinta, sepertinya dia terlalu merasa sakit makanya terburu-buru begitu," tukas salah seorang teman sekelas Sinta menatap khawatir ke arah gadis baik hati di kelas mereka itu.


"Benar. Seharusnya Sinta beristirahat saja di rumah. Mengapa harus memaksakan diri untuk turun?" timpal yang lain.

__ADS_1


"Apa harus kalian bertanya? Itu tentu saja karena kawan kita itu terlalu rajin dan tak mau ketinggalan kelas!" kata yang lain menimpali, tak lupa menyelipkan pujian untuk Sinta.


"Tapi ... tadi pagi raut wajah Sinta terlihat sangat baik, bukan?" ungkit salah satu dari mereka. Dia mengingat jelas kalau Sinta banyak tertawa dan terlihat sangat bahagia, berbanding terbalik dengan sisa waktu yang dia habiskan saat selama berlangsung.


"Eh, iya juga, ya," kata yang lain terdengar sedikit ragu.


Mereka saling menatap, lalu setelahnya tertawa garing bersama. "Mustahil Sinta berbohong pada kita," kata mereka. Sayangnya hati mereka semua terselip setitik curiga. Apa benar Sinta menyembunyikan sesuatu dari mereka. Tapi apa itu hingga Sinta yang baik hati sampai menutupinya.


...ೋ❀❀ೋ═══ • ═══ೋ❀❀ೋ...


Sinta yang baru sampai di rumahnya, langsung masuk ke kamar. Gadis itu segera mengambil ponselnya dan menghubungi orang-orang yang dibayarnya. "Si*l, ke mana orang-orang bodoh ini? Apa yang mereka lakukan sampai tak menjawab telepon dariku?!" tukas Sinta kesal sendiri. Dia terus menerus mencoba menghubungi para preman tersebut. Setiap kali panggilannya tak diangkat, Sinta menjadi semakin kesal.


"Ada apa, nona?" kata salah satu pelayan yang mendengar keributan dari kamar nonanya. Pelayan itu bergegas masuk untuk melihat apa yang terjadi pada nonanya.


"Bawakan ponsel baru untukku!" kata Sinta berteriak dengan suara tinggi.


"Baik, nona. Saya akan segera kembali," kata pelayan itu bergegas pergi. Dia membawakan ponsel baru yang sengaja disimpan oleh majikannya untuk nona mereka.


"Ini, nona," kata si pelayan bersikap ramah dan tenang.

__ADS_1


"Bersihkan itu!" tunjuk Sinta sebelum pergi. Dia butuh udara segar, jadi dia memilih untuk keluar dan berkeliling sebentar.


"Dasar orang kaya! Marah sedikit main banting barang, padahal kan sayang," tukas si pelayan sambil membersikan ponsel Sinta yang hancur total. "Apa masih bisa dijual kalau begini?" katanya bergumam. "Entahlah, aku akan menyimpannya dulu untuk sekarang. Nanti akan kucari tahu bisa diuangkan atau tidak," tambahnya lagi. "Toh, nona tak mungkin mencari barang yang sudah dia hancurkan," kata pelayan itu terkekeh kecil.


Sinta mendatangi tempat dia bertemu dengan preman-preman yang kali ini tak menanggapi panggilannya. Dia harus menanyakan secara langsung apa yang sebenarnya terjadi hingga Aira, ja*ang yang seharusnya tak menampakkan diri selama beberapa Minggu malah muncul dalam keadaan baik di kelas.


"Woi, orang-orang bodoh!" teriak Sinta yang sudah kelewat kesal. "Aku tahu kalian ada di sini!" katanya lagi terdengar marah. "Apa yang bisa kalian lakukan? Mengurus satu perempuan lemah saja tak bisa?!" lanjutnya jelas menghina.


Si bos pemimpin yang juga kesal karena banyak anggotanya harus dirawat di rumah sakit pun akhirnya menampakkan diri. "Gadis lemah? Sepertinya anda tak tahu siapa target anda," pria itu tersenyum remeh menatap Sinta.


"Apa maksud kamu? Kalau kamu melakukan ini karena ingin meminta uang lebih, akan kuberikan sebanyak yang kamu mau. Jadi, segera bereskan perempuan si*lan itu!!!" ketus Sinta dengan nada memerintah.


"Maaf, saya tak menerima permintaan seperti itu. Kalau memang anda dan uang yang anda bangga-banggakan itu sangat hebat, coba saja bereskan sendir! Saya tak mau mencari masalah dengan nona itu," kata si preman jelas kapok.


"Kamu sudah menerima uang bayaran! Bekerjalah kalau sudah mengambil uangku!!! tukas Sinta semakin kesal karena permintaannya ditolak.


"Uang yang anda berikan bahkan kurang untuk menutupi kerugian yang ditanggung rekan saya. Tapi tenang saja, saya akan mengembalikan semua uang anda dan anggap saja saya tak pernah mendengar permintaan dari anda!" kata si preman mengembalikan segepok uang pada Sinta.


"Aku tak butuh uang! Aku hanya ingin gadis itu menghilang dan tak mengganggu pangeran aku lagi! Hanya aku yang pantas berada di sisi pemuda berkelas seperti dia!" tukas Sinta mengoceh asal karena kesal dan panik di saat yang bersamaan.Di mana lagi dia harus mencari jasa untuk melenyapkan Aira kalau di sini saja gagal. Dia tak punya nomor lain yang bisa dipekerjakan untuk melenyapkan pengganggu yang tiba-tiba muncul entah dari mana itu.

__ADS_1


"Saya tak peduli! Semoga hari anda menyenangkan dan kita tak akan bertemu lagi ke depannya!" kata si preman segera angkat kaki. Dia harus mencari wilayah lain agar Sinta tak mendatangi tempatnya dengan bebas seperti sekarang ini.


__ADS_2