Langit Yang Menghilang

Langit Yang Menghilang
20


__ADS_3

Dalam tidurnya, Aira memimpikan hal yang sama berulang-ulang. Dia melihat semuanya, meski samar tapi wajah masternya terlihat sedikit lebih jelas dari biasanya. Aira besar seperti sedang melihat gambaran tentang dirinya di masa kecil, bagaimana dia yang melewati hari bahagia dan berakhir hanya dalam sedetik. Surganya berubah menjadi neraka, langitnya runtuh saat kedua orang yang melindunginya dengan sangat dibunuh. Hingga akhirnya, Aira terpaksa terbangun karena merasa didorong oleh sesuatu. Gadis itu terbatuk hebat, air mata mengalir deras dari kedua matanya.


"Ibu! Ayah!" gumamnya terus menangis. "Ah, arghh, ahhhh!!!" pekiknya cukup nyaring sambil menjambak rambutnya sendiri. Dia ingat, dia ingat semuanya. Semua hal yang dia lupakan. Kebahagiaan dan juga rasa sakit yang teramat banyak.


"Ra?" panggil Raka bergegas mendekati Aira. "Hei, hei, tenanglah!" bisiknya mencoba melepaskan tangan Aira yang menjambak rambutnya sendiri. "Aku di sini, oke! Semua baik-baik saja, lihat?" katanya lagi.


Aira menatap linglung, matanya terlihat kebingungan dan penuh dengan air mata. Pemandangan yang entah mengapa ikut membuat hati Raka teriris perih. "Akhh, dia jahat! Dia penjahatnya!" kata Aira menghambur memeluk Raka dengan eratnya.


Raka mengangguk meski dia tak tahu siapa yang Aira maksud di sini. "Iya, dia yang jahat. Jadi jangan menangis lagi, ya!" kata Raka membujuk Aira. "Tenanglah, kamu dan aku aman di sini!" kata pemuda itu lagi.

__ADS_1


Aira kembali tertidur setelahnya, Raka dengan hati-hati menyelimuti gadis itu. "Siapa yang sudah mengganggu kamu seperti ini, Ra?" ucap Raka menatap khawatir Aira.


Paginya, gadis itu mengerjapkan mata. Dia menatap ke samping, terlihat Raka yang tertidur di kursi sambil memegangi tangannya. "Raka," panggil Aira pelan.


"Kamu udah bangun?" kata Raka menggosok matanya sambil menguap.


"Kamu mengigau, lalu berteriak cukup keras. Saat aku masuk ke sini, kamu memegang tangan aku dengan erat, jadinya aku gak bisa balik lagi ke kamar aku sendiri. Selain itu aku juga takut kalau kamu kebangun lagi kalau aku ngelepasin genggaman tangan kamu di tangan aku," jelas Raka panjang lebar.


"Maaf, aku ngerepotin kamu," kata Aira lirih.

__ADS_1


"Gak apa-apa. Aku malah seneng bisa nolongin meski cuma sedikit," timpal Raka dengan cepat. "Aku justru khawatir kalau kamu sendirian pas kamu lagi kayak semalam," lanjut pemuda itu.


"Oh, bodohnya aku. Kau bisa mandi dulu, aku bakalan keluar sekarang," kata Raka bergegas berdiri dari duduknya. "Nanti kita makan bareng, oke?" kata pemuda itu lagi.


Aira tersenyum sangat tipis melihat tingkah Raka saat ini. "Makasih," katanya berekspresi tulus.


Begitu Raka ke laur dari kamarnya, wajah Aira kembali datar. Dia dengan jelas sudah mendapatkan kembali ingatannya. Bagaimana ibu dan ayahnya dibunuh, sekeras apa jeritan mereka, dan seberapa banyak perlindungan yang ibunya berikan agar dia bisa selamat dan tetap hidup.


"Karena aku boneka yang cantik, aku akan memusnahkan semuanya dengan cantik juga," bisik gadis itu dengan tatapan berkilat tajam. Dia akan membalas dendam, membuat Raymond merasakan hal yang sama. Rasa sakit dan keputusasaan yang tak bertepi, kehilangan semua yang dia raih dengan susah payah. Tunggu saja pembalasan yang dirinya lakukan. Untuk sekarang, dia akan tetap berpura-pura menjalankan misi yang telah diberikan. Sambil mencari celah menghancurkan Raymond sedikit demi sedikit.

__ADS_1


__ADS_2