
Sebulan kemudian, Aira dipanggil menghadap Raymond. Keduanya saling bertatapan beberapa saat, sebelum Raymond menyodorkan amplop coklat kepada Aira. "Baca dan ingat baik-baik semua hal penting yang tercatat di sana!" tukas Raymond. "Ini misi pertama yang akan kamu jalani, Aira! Aku harap kamu tak akan mengecewakan aku!" lanjut pria itu menatap lurus Aira.
Aira yang ditatap tak bergeming, gadis itu menatap balik Raymond tanpa rasa takut. "Baik, master!" katanya menjawab dengan singkat.
"Pelajari dan ingat semuanya. Tiga hari lagi kamu akan pergi menjalankan misi penting," kata Raymond tegas.
"Kalau begitu saya permisi, master!" tukas Aira kemudian pergi membawa amplop yang tadi diberikan padanya, amplop yang berisi informasi mengenai misi yang akan dia emban untuk pertama kalinya.
Tugas pertama Aira adalah mencuri rumus formula yang dibuat oleh perusahaan terkenal. Raymond tentunya melakukan itu untuk mengambil alih bisnis penjualan dan menggunakan formula tersebut untuk meraup keuntungan yang berlipat ganda. Anggap saja, pihak sana yang mendanai berbagai penelitian, dan pihak mereka yang akan mendapatkan semua keuntungan.
Aira menyamar sebagai asisten profesor yang terjun langsung dalam pembuatan formula yang akan dia curi. Tak sulit melakukannya karena Aira sudah diajari cara menyamar dan hal-hal dasar lainnya sebagai penyusup handal. Gadis itu juga memiliki kepintaran di atas rata-rata, dia menghapal semua nama bahan kimia dan berbagai reaksi yang didapat dari mencampurkan dua atau lebih dari deretan botol kimia yang mudah didapat di laboratorium.
Setelah pengujian terakhir, Aira meneteskan cairan berwarna biru ke tabung yang ada di dekatnya. Dengan cepat tangannya mengambil salinan asli dari formula yang berhasil dibuat, tentu saja itu dia lakukan setelah membuat keributan karena asap yang didapat dari hasil penggabungan bahan kimia yang dia lakukan barusan.
Di tengah-tengah kepanikan orang-orang,.Aira bergerak ke luar dengan mudah. Dia pun memanjat pohon dan segera menjauh dari gedung tersebut.
"Apa yang terjadi?" kata seseorang menghampiri Aira.
"Tolong, Profesor Kay terjebak di dalam sana!" tukas Aira memulai akting.
"Ya? Lalu bagaimana anda bisa ada di sini kalau profesor saja masih di dalam sana?" kening orang itu mengernyit bingung.
"Apa ini waktunya mempertanyakan hal tak penting?" pekik Aira Mengeluarkan aura dingin. "Kalau bos saya kenapa-napa, saya harus bekerja di mana?!" katanya berteriak lebih keras. Satu pengajaran yang paling meresap di hati Aira, orang-orang akan selalu terganggu pada teriakan atau air mata wanita. Dan dia sangat bersyukur dirinya seorang wanita. Jadi lebih mudah untuk keluar dari situasi yang menyusahkan seperti ini. Teriakan Aira membuat beberapa pria bersenjata yang merupakan pengawal bayaran di sana berkumpul dan mendekat ke arahnya. Mereka seakan memindai situasi dan memikirkan kalau apa yang Aira katakan benar adanya. Ada masalah yang lebih rumit, jadi buat apa mereka mempertanyakan hal yang tak penting. Lebih baik mereka segera menolong orang-orang yang terjebak di dalam sana.
__ADS_1
Orang-orang tadi pun saling mengangguk serempak. "Kami akan segera mengatasi masalah, anda bisa pergi ke tempat yang lebih aman untuk saat ini!" kata salah seorang dari mereka.
"Tolong selamatkan bos saya!" tukas Aira memasang tampang putus asa.
"Tentu! Jangan khawatir, nona!" kata seseorang di antara mereka menenangkan Aira.
Mereka segera meninggalkan Aira, berlari ke ruang fasilitas laboratorium dan menyelesaikan masalah yang menjadi penyebab keributan kali ini.
Aira yang dibiarkan sendirian pun memilih melompat dari satu pohon ke pohon lain hingga dia berada di luar area gedung. Gadis itu terlalu malas kalau harus bertemu dengan penjaga lainnya dan berakting seperti barusan untuk kedua kalinya. "Tolol!!!" hina Aira dengan wajah datar.
Aira masuk ke dalam mobil yang sudah menunggu tak jauh dari tempatnya tadi. "Jalan!" katanya memejamkan mata.
"Nona, bos menelepon barusan," tukas si supir sambil melajukan mobil seperti yang Aira pinta. "Anda disuruh menelepon kembali kalau anda sudah datang," tambahnya menyampaikan pesan dari Raymond.
Aira mendengarkan apa yang masternya katakan dari seberang sana. "Sudah! Saya mendapatkannya tanpa terlibat perkelahian!" balas Aira dengan suara tenang.
Si supir bisa mendengar suara tawa bosnya meski dirinya cukup jauh dari Aira yang menelepon di belakang. Sepertinya bosnya dalam suasana hati yang baik karena Aira berhasil dalam misi pertamanya. "Saya akan melaporkan selengkapnya ketika sudah sampai!" ucap Aira sebelum panggilan diputus sepihak dari seberang sana.
"Selamat untuk kesuksesan misi pertama anda, nona," kata si supir memberi senyum ramah.
Aira menatap dalam diam sejenak. Setelahnya gadis itu mengukir senyum tipis, tentu saja itu senyum palsu yang dia buat untuk keperluan penyamaran. "Terima kasih!" katanya. Setelah mengatakan itu, senyum palsu yang Aira buat juga ikut sirna. Si supir menggeleng dalam hati, murid bos mereka ini sudah seperti robot, bukannya seorang manusia. Bahkan tersenyum saja sudah seperti program yang harus dipelajari dan dilatih beberapa waktu sebelum bisa dikuasai sebaik sekarang.
Terkadang mereka, para anak buah Raymond memikirkan apa yang akan terjadi pada organisasi mereka kalau Aira tahu sebenarnya merekalah yang telah menghancurkan keluarga bahagia yang pernah gadis itu miliki. Sebagian dari mereka menganggap itu hanya permainan hidup, sedangkan sebagian lagi merasa kalau itu merupakan karma yang harus mereka bayar kalau memang ketahuan suatu saat nanti. Tapi ada juga yang memilih menganggap itu hanya hiburan semata. Toh Aira tak tau, jadi tak perlu mengkhawatirkan hal yang belum tentu akan terjadi.
__ADS_1
"Kita sudah sampai, nona!" si supir memarkirkan mobil yang dia kendarai.
"Hmm," gumam Aira langsung turun setelah mengangguk sebagai ganti ucapan terima kasih.
Aira yang berjalan dengan tegak, tiba-tiba memegang kepalanya. Rasa sakit yang tak tertahankan segera mengambil alih kesadaran gadis itu. Dia jatuh pingsan padahal belum sampai ke kamarnya.
"Apa yang terjadi padanya?" tanya Raymond yang segera datang ke kamar Aira. Sudah ada dokter di sana yang memeriksa kondisi gadis itu.
"Dia hanya kelelahan saja," ucap si dokter.
"Bisakah kamu memastikan tentang ingatannya?" tanya Raymond dengan wajah serius.
"Sayangnya tak ada cara untuk itu!" tukas si dokter membereskan peralatannya. "Kita bisa mengetahuinya saat dia siuman nanti," lanjutnya lagi.
"Ku luar semuanya!" titah Raymond minta ditinggalkan berdua saja dengan Aira.
Hening, Raymond hanya menatap Aira dari ambang pintu. "Jika kamu masih ingin hidup lebih lama, hapus saja masa lalu yang kamu lupakan untuk selamanya! Jangan pernah mengingat bagiamana pertemuan pertama kita, boneka cantikku!" tukas Raymond yang segera berbalik pergi, meninggalkan Aira sendirian di kamarnya.
"Awasi dengan baik dia! Laporkan padaku kalau dirinya sudah sadar!" tukas Raymond sebelum dia pergi pada dua anak buahnya yang sengaja dia tempatkan untuk menjaga di depan pintu kamar Aira.
"Siap, bos! Kami menerima perintah anda? kata keduanya dengan sikap siap. Raymond pun kembali ke ruangannya, masih banyak yang harus dia urus. Tentunya salah satunya adalah misi Aira yang selanjutnya.
"Ah, aku melupakan laporan yang harusnya aku terima," gumam Raymond mengangkat bahunya ringan. Yah, itu bisa ditunda sampai Aira sadar kembali.
__ADS_1